Wisdom of Maiyah (199)

Jalan Kaki 14 Km

Saya mengenal Maiyah tahun 2015. Sosok Mbah Nun akrab di telinga saya melalui shalawat yang beliau lantunkan. Bagaimana pemikiran beliau saya belum mengenalnya secara utuh.

Tanpa kesengajaan video Sinau Bareng muncul di beranda Youtube saya. Dalam hati saya berkata, “Kyai kok kata-katanya nyeleneh.” Memang saya menilai secara sepihak dan tidak adil. Saya tidak boleh menilai seseorang hanya dari kata-katanya. Saya penasaran dengan apa yang beliau kemukakan.

Video Sinau Bareng saya tonton kembali. Semakin sering mengikuti tayangan-tayangan Sinau Bareng, semakin penasaran saya terhadap Mbah Nun. Apalagi waktu itu saya lagi asyik-asyiknya belajar menulis puisi.

Ikatan hati saya dengan Majelis Ilmu Maiyah bertambah kuat. Saya berangkat dari Temanggung menuju desa Pandak Bantul untuk mengikuti Sinau Bareng. Bus melewati Bantul, tapi teman saya mengajak turun di terminal Giwangan Yogyakarta. “Biar lebih dekat ke lokasi pengajian,” katanya.

Menjelang maghrib bus masuk terminal Giwangan. Kami bertanya arah menuju desa Pandak Bantul. Ternyata cukup jauh, sekitar 14 km. Bus tidak ada yang beroperasi. Mau naik ojek atau taksi uang kami tidak cukup. Saya tidak ngersula. Kami memutuskan berjalan kaki dari terminal Giwangan menuju desa Pandak. Saya menikmati jalan kaki dengan hati gembira.

Lapangan Pandak dipenuhi jamaah. Saya mencari jalan untuk bisa duduk di barisan paling depan. Sejak saat itu saya sering menghadiri Maiyahan di sekitar Temanggung dan Magelang. Pengalaman saya bertambah. Majelis Ilmu Maiyah memang berbeda dengan majelis ilmu lain. Tidak diatur harus berpakaian ala santri. Cara berpikirnya pun berbeda dengan lazimnya pengajian pada umumnya.