Islam-Jawa-Indonesia

“Islam, Jawa, Indonesia. Bagaimana kalian meletakkan ketiganya? Apakah Jawa-Indonesia-Islam? Atau Indonesia-Jawa-Islam? Atau bagaimana? Karena peletakan ketiganya itu akan memiliki makna dan akar yang berbeda-beda. Kalian harus mampu dan tepat meletakkannya.”

Grebeg or garebeg (ꦒꦉꦧꦼꦒ꧀). Photo by Angga Indratama on Unsplash.

Demikian saya kutip pertanyaan dari Beliau kala itu, saat Syawalan kami (NM) dengan Mbah Nun di Kadipiro. Terus terang hingga hari ini, kalimat Beliau terus berputar-putar ulang-alik antara pikiran dan hati saya. Entah pagi, siang, sore, malam, atau dinihari ketika saya “sendiri”.

Sejauh penghayatan saya pada “dekonstruksi” yang Beliau “weling”, hasil kesimpulan saya adalah Islam-Jawa-Indonesia. Apa yang mendasari kesimpulan tersebut? Secara jujur, saya menggunakan pendekatan “opo-sopo-ngopo” (pepeling para luhur Jawa). Apa? Siapa? Melakukan apa? Yup, begitulah.

Saya ini apa? Makhluk, ciptaan Allah Swt., titik, tak bisa ditawar.

Saya ini siapa?

Orang Jawa, sebab saya ditakdirkan oleh Allah Swt. lahir di Jawa. Bukan di Afrika, Asia Tengah, atau Amerika.

Saya melakukan apa?

Oleh sebab saya ciptaan-Nya yang dilahirkan di Jawa, maka saya meng-Indonesia. Menjadi bagian dari Keluarga Besar Bangsa Indonesia. Meski pada beberapa hal yang pokok (menurut saya), saya tidak sepakat dengan Indonesia atau keIndonesiaan yang ada dan diyakini masyarakat Bangsa Indonesia sekarang ini. Itu soal nanti, soal “rembug rakyat”, “gagasan dekonstruksi kebangsaan”, dan seterusnya.

Lalu apa yang kemudian tumbuh dalam pikiran dan hati saya dengan “Islam-Jawa-Indonesia”?

Yang jelas saya “meletakkan” Allah Swt. sebagai Maha Subjek atas apapun yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi dalam hidup saya, kejawaan saya, dan keindonesiaan saya. Titik, tanpa koreksi lagi.

Lantas apa respons saya atas momentum HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ke-77 pada bulan Agustus ini dan baru berlalu seminggu lalu? Islam – Jawa – Indonesia.

Yogyakarta, 24 Agustus 2022