Wisdom of Maiyah (198)

Inilah Maiyahku

Sejak usia belasan tahun hingga sekarang saya sering mengikuti acara pengajian. Entah karena pikiran saya yang bodoh dan hati saya yang keras, saya belum merasa lega mengikuti pengajian-pengajian itu. Terasa ada yang mengganjal dan kurang pas.

Saya berpikir mungkin pengajian itu diperuntukkan mereka yang sudah pandai ilmu agamanya, bukan untuk orang bodoh seperti saya. Namun saya tidak putus asa dalam belajar. Saya harus menemukan apa yang saya perlukan untuk mengisi hati dan pikiran.

Pada 2017 saya ditunjukkan pada apa yang saya cari. Video Maiyahan mampir di beranda Youtube saya. Kok beda ya. Ini pengajian apa? Saya bertanya dalam hati. Ada pengajian memakai gamelan dan alat musik.

Kalimat Mbah Nun yang menancap dalam pikiran saya adalah: “Jangan percaya omongan saya. Percaya itu sama Allah dan Rasulullah.” Baru kali ini saya mendengar kalimat “aneh” dari seorang yang ditokohkan. Seketika itu saya merasa bahwa inilah yang saya cari.

Alur dan suasana pengajian di Maiyahan sungguh berbeda. Tidak melulu menerangkan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi ada selingan guyon dan joke-joke segar yang menggembirakan. Musik dan shalawatnya mengena di hati. Saya memutuskan untuk hadir di acara Maiyahan. Saya ingin secara langsung merasakan atmosfer Sinau Bareng.

Alhamdulillah, Allah mengizinkan saya hadir di Mocopat Syafaat. Saya benar-benar merasakan perbedaan atmosfer yang begitu nyata antara Maiyahan dengan majelis ilmu lainnya. Hati saya pun mantap berkata, “Di sinilah tempatku. Inilah Maiyahku.”