Sinau Bareng di komplek Saieda Wonosalam Park Jombang, Sabtu 15 Oktober 2022

Indonesia Bagian Berbahaya Dari Wonosalam

IMAM JIJIT DONI
Wah ora kodal aku.
Molo-molo cangkemku.
Iso suwek utekku.

BUYUT IRODAT
Bahkan apa yang Buyutmu Irodat dan Simbahmu Geol iki pahami dan ungkapkan, juga belum tentu benar.

IMAM JIJIT DONI
Opo meneh dapurmu.
Opo meneh cangkemmu.
Opo meneh raimu.

BUYUT IRODAT
Yang sungguh-sungguh tahu ya hanya Allah.

MBAH GEOL
Makanya sejak kecil kita diajari mengucapkan Wallahu a’lamu bishshowaab. Hanya Allah saja yang lebih tahu, yang paling tahu, dan sejati tahu itu semua.

IMAM JIJIT DONI
Rungokke kuwi.
Kupingmu dijembeng.
Kecermu dibuka.

MBAH GEOL
Ono Biladun, biasanya diartikan Negara, atau suatu wilayah yang berkedaulatan resmi. Rak ono lagu Biladi, biladi….

Ono meneh Baladun, kowe apal tho ono ayat: Wattiini wazzaituuni, wa thuurisiiniina wa hadzal baladin amiin.

IMAM JIJIT DONI
Nggih kulo apal, Mbah.
Nek niki abangan Mbah, ora iso ngaji.
Kowe biyen ngaji ning Langgar tapi nek bar Isya nyolong pelem.

BUYUT IRODAT
Wis tho rungokke pangandikane Mbah Geol iki. Ojo guyon cengengesan terus.

IMAM JIJIT DONI
Kulo badhe tanglet Buyut lan Mbah
Lha hubungannya semua penjelasan tadi dengan Wonosalam apa?
Kok Mbah Geol tadi ngendiko Wonosalamun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur?

MBAH GEOL
Lha yo Baldatun kuwi opo rak kudu digoleki. Baldatun kuwi opo yo Indonesia. Indonesia opo yo wis thoyyibatun.

BUYUT IRODAT
Thoyyibatun
itu sejahtera, aman, makmur. Kalau Indonesia kan belum mencapai itu. Di Indonesia masih ada pemimpin yang ijazahnya belum tentu tidak palsu. Banyak rekayasa dan kemunafikan. Indonesia belum sanggup menjaga politik dari kotoran-kotoran. Pokoknya Indonesia masih jauh lah dari thoyyibatun.

MBAH GEOL
Sementara sak ngertiku daerah Wonosalam kuwi, dengan 9 Kelurahannya, meskipun pasti tidak sempurna, tapi relatif bisa dibilang Baldatun Thoyyibatun.

BUYUT IRODAT
Mergo pengelolaane terbuka, jujur, merdeka dalam batas yang terukur, pelayanannya kepada masyarakat maksimal, rakyatnya juga kritis. Penduduk Wonosalam bukan bebek-bebek atau sampah-sampah yang kintir di sungai zaman. Para pemimpin di Wonosalam bukan penipu atau pembohong. Tidak seperti Indonesia atau lainnya.

MBAH GEOL
Yang pasti semua pemimpin dan masyarakat Wonosalam harus menjaga dan merawat perilakunya jangan sampai Allah marah, apalagi sampai tidak memaafkan.

Wonosalam sudah Baldatun Tooyyibatun, jangan sampai tidak Robbun Ghofur.

IMAM JIJIT DONI
Sekarang saya paham kenapa kok judul acara Sinau Bareng di Wonosalam itu kok “Desa Itu Masa Depan bukan Masa Lalu”.

Mungkin maksudnya untuk menempuh perjuangan ke masa depan, jangan mengandalkan Indonesia. Wonosalam harus mengandalkan diri Wonosalam sendiri. Jadi Wonosalam itu bukan masa kini dan masa silam, melainkan justru yang utama adalah masa depan.

Pantesan juga ada sub-judul: “Indonesia adalah bagian dari Wonosalam”.

Bahkan ada yang lebih terang-terangan: “Indonesia adalah bagian yang harus diwaspadai dari Wonosalam”.

BUYUT IRODAT
Itu cara berpikir yang cerdas dan kreatif. Memang secara geografis dan teritorial, Wonosalam adalah bagian dari Indonesia. Tapi secara substansial, secara muatan nilai, secara dinamika zaman: Wonosalam punya pandangan yang kritis terhadap Indonesia. Jangan sampai peran Indonesia di Wonosalam akan merugikan atau menghancurkan Wonosalam.

IMAM JIJIT DONI
Jangan sampai Wonosalam membiarkan dirinya dirusak oleh apapun saja yang datang dari luar Wonosalam.

Wonosalam harus mempertahankan keadaan “tata tentrem kerto raharjo”, “gemah ripah loh jinawi”.

Wonosalam harus terus menjadi Desa Teladan Nasional.

BUYUT IRODAT
Kalau itu nanti dulu. Wonosalam disebut teladan atau tidak itu tergantung cara pandang Dewan Jurinya. Kalau pola pikir Jakarta beda dengan Wonosalam ya belum tentu Wonosalam jadi wilayah teladan. Wong manusia Jakarta juga beda dibanding manusia Wonosalam.

MBAH GEOL
Ndak penting. Itu semua bukan yang utama. Wonosalam digelari Teladan atau tidak, yang penting para pemimpinnya dan semua penduduknya istiqamah menjadi Uswatun Hasanah.

IMAM JIJIT DONI
Wah iya ya. Selama ini tidak ada penghargaan Uswatun Hasanah di Indonesia.

Selama ini banyak bentuk-bentuk penghargaan dari Pemerintah Pusat, Provinsi atau Kabupaten. Tapi rata-rata dasar pertimbangannya adalah meterialisme dan keduniaan, bukan nilai kebudayaan dan kerohanian. Tidak ada kelengkapan yang mencakup nilai kemanusiaan, moral, kreativitas, apalagi akhlaq dan taqwa. Seluruh Indonesia dan Pemerintahnya tidak ada yang berpikir uswatun hasanah.

Kata Uswatun Hasanah hanya dipakai untuk ngasih nama bayi Muslimah.

MBAH GEOL
Eee thole-thole milenialku jebul utekmu yo moncer. Punya kawruh sejati tentang manusia dan kehidupan.

BUYUT IRODAT
Menurut kalian apa saja sih yang harus diperhatikan untuk mengetahui kualitas kehidupan di desa?