Wisdom of Maiyah (205)

Hakikat Ilmu Pengetahuan

Bagi saya pribadi, Majelis Maiyah (Sinau Bareng) ini adalah Perguruan Tinggi saya yang kedua dan sekaligus Universitas yang terbaik, setelah pendidikan formal yang saya jalani sebelumnya. Melalui majelis ini, Mbah Nun telah membuka cakrawala pemikiran saya dalam memahami kehidupan, dengan kerangka berpikir seorang muslim yang sejati.

Ilmu-ilmu Maiyah telah membawa saya pada pemahaman bahwa sejatinya Islam itu sangatlah indah, di mana Allah Swt. sesungguhnya telah “bertajalli” (menghadirkan diri) ke tengah-tengah hamba-Nya dengan dua sifat yang paling utama, yaitu sifat Ar-Rahman (Maha Pengasih, yang spektrumnya meluas/universal) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang, yang arahnya Mendalam/terkhusus).

Kemudian Allah Swt. menghadirkan Kekasih-Nya yaitu Baginda Nabi Muhammad Saw. sebagai Pemimpin sekaligus Penuntun kita agar selamat dalam perjalanan menuju Allah Swt. Di Maiyah Mbah Nun selalu menegaskan bahwa Baginda Nabi Muhammad Saw adalah “Mutiara” di antara “Bebatuan Biasa”. Rasulullah sangatlah istimewa wataknya sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an Surat At-Taubah (128), yaitu “… ’Azizun ‘alaihi ma anittum, harishun ‘alaikum bil mu’minina ra-ufurrahim…” (sangat tidak tegaan terhadap penderitaan manusia, sangat penyantun dan penyayang). Sehingga, sangatlah logis bagi kaum mukmin untuk menghaturkan rasa cinta ke hadapan Baginda Nabi Muhammad Saw.

Selanjutnya, dengan ilmu Maiyah, Al-Qur’an menjadi sangat menarik untuk dipelajari karena ilmunya adalah ilmu “Tadabbur”, yang lebih mengutamakan perbaikan hubungan kita kepada Allah Swt., Rasulullah Saw., dan perbaikan perilaku kita terhadap sesama hamba Allah. Sementara sebelumnya kita hanya terpaku pada keahlian tafsir yang pada akhirnya membawa pada perbedaan pendapat dan bahkan mungkin perpecahan.

Melalui Sinau Bareng Mbah Nun senantiasa menekankan mengenai hakikat kebenaran sejati hanyalah milik Allah Swt. dan Rasulullah Saw. Selebihnya adalah kebenaran yang bersifat relatif, yaitu bisa jadi benar, namun tidak menutup kemungkinan juga bisa salah. Sehingga dalam prosesnya Maiyah dapat berlangsung dengan dialog yang penuh dengan kerendahan hati untuk mencari “Apa yang benar” dan bukan untuk menunjukkan “Siapa yang benar”.

Majelis Maiyah juga mengajarkan bahwa tidak ada satupun urusan di dunia ini yang bukan urusan agama (Islam), di mana Semesta beserta seluruh isinya ini sesungguhnya berjalan berdasarkan Sunnatullah (Hukum/Ketetapan Allah). Sehingga, di sini kita mampu mengikis paham-paham sekuler liberalis yang merupakan pengaruh peradaban Renaisance, yang memisahkan urusan Agama dan Negara/Duniawi.

Bagi saya banyak sekali ilmu-ilmu sejati (hakikat ilmu pengetahuan) yang dapat dipelajari dari acara Maiyah, untuk bekal kita berbenah diri menjadi pribadi yang lebih baik dalam menggapai kesejatian hidup. Memahami dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup dan kemana kita akan kembali.

Do’a kami agar Majelis Maiyah (Sinau Bareng) ini dapat terus berlangsung dan semakin meluas ke seluruh penjuru negeri, agar mendapat keselamatan dan terhindar dari segala Marabahaya dan Malapetaka. Amin ya Rabbal ‘alamin.