Gudhig Kere” dalam Perspektif Kesehatan Masyarakat

Masih berkisar dengan kesehatan masyarakat. Minggu lalu saya mendapati satu kasus lumayan kompleks. Memang kasus ini berawal dari kondisi sakit fisik, tetapi setelah diselami lebih dalam dan saksama (bahasa kami adalah melakukan re-anamnesis), permasalahan baik fisik, psikologis, maupun sosial, yang dihadapi tidaklah sesempit apa yang sedang dialaminya sekarang ini. Ada satu fenomena yang terjadi dalam skala global maupun dalam skala kecil, misalnya di sebuah asrama atau di sebuah kos-kosan.

Photo by Visual Karsa on Unsplash

Seorang gadis cantik, bernama Diandra, masuk ruang rawat karena ditengara menderita suatu penyakit keganasan. Anak cantik dan lugu ini dikirim oleh teman sejawat di Majenang. Daerah perbatasan antara Jawa Tengah dengan Jawa Barat. Dibutuhkan waktu setidaknya enam jam perjalanan untuk sampai bangsal ini. Saya masuk ke ruangnya dan mendapati si cantik ini berbaring dan diam saja. Pandangannya kosong, menatap ke atas, tak ada mimik di wajahnya, tak ada gejolak maupun ekspresi. Kelihatan sangat datar dan depresif. Tiba-tiba dia menangis.

Saya mendekatinya dengan sangat pelan, saya coba menyapanya. Tetapi dia tidak bereaksi apapun juga. Saya sapa lagi, saya panggil namanya. Diandra hanya terdiam dan meneteskan air mata. Saya mulai mengobrol dengan kedua orangtuanya tentang apa yang terjadi. Saya menduga ada trauma psikologis sangat dalam yang diderita oleh Diandra. Sambil saya menangani keluhan sakit (biologis)-nya, saya berpesan kepada bapak dan ibunya untuk ‘menggali’ apa yang menjadikan dia depresi seperti ini. Tidak lupa saya mengkomunikasikan masalah depresi ini ke tim psikiatri untuk mengelolanya, dan mereka langsung bergerak membuat asesmen.

Dalam perjalanan pemeriksaan saya mendapati ada penyakit kulit yang diderita Diandra. Ibunya bilang bahwa penyakit ini diderita setelah Diandra mondok di pesantren. Selalu garuk-garuk bila malam hari. Demikian juga kondisi kejiwaan yang sangat mundur ini diderita sepulang dari mondok. Saya akan urai masalah yang kelihatan sepele ini, yaitu penyakit kulitnya, dipandang dari sisi kesehatan masyarakat. Tetapi karena ini masalah yang menyangkut tubuh, bolehlah kiranya saya sedikit menyinggung tentang sakit kulitnya ini. Agar bisa menjadi pengetahuan serta pelajaran bagi kita semua.

Penyakit kulit yang diderita Diandra memang sangat khas. Kita bilang adalah penyakit kudis. Bahasa medisnya adalah scabies. Zaman kecil saya istilahnya sangat terkenal yaitu ‘gudhig kere’. Penyakit ini menyerang kulit terutama di daerah daerah lipatan (sela-sela jari, lipatan paha dan area sekitar kemaluan) akan terasa sangat gatal bila malam hari. Penyebab Kudis atau skabies inj adalah tungau, yang disebut Sarcoptes scabiei. Si tungau ini kerjaannya menggali ke dalam kulit, terutama saat malam hari. Tungau menggali untuk bertelur dan berkembang biak. Tungau betina membuat galian di bawah kulit dan meninggalkan telur di lokasi tersebut.

Adanya proses penggalian oleh tungau tersebut menyebabkan rasa gatal yang hebat di area sekitar galian tersebut. Karena gatal, hasrat untuk menggaruk biasanya dirasakan semakin meningkat terutama pada malam hari. Akibatnya, di kulit terdapat bekas garukan baik yang masih baru maupun yang sudah mengering. Gatal pada penyakit skabies merupakan manifestasi reaksi alergi dari tubuh terhadap tungau, telur, dan kotorannya.

Tungau yang bertelur tadi melanjutkan pembuatan terowongannya. Tungau betina hidup selama 30-60 hari di dalam “terowongan”. Selama itu pula, tungau tersebut terus memperluas terowongannya Saat telur menetas, maka akan menjadi larva, dan tungau mulai beralih ke lapisan terluar kulit. Larva tersebut tumbuh dan berkembang serta menyebar ke area lain dari kulit penderita. Disinilah penyakit ini menular. Dari satu individu menjalar ke individu yang lain.

Penyakit ini ditularkan melalui kontak fisik yang dekat, penggunaan alat mandi bersama (handuk dll), atau kontak erat (banyak dijumpai pada komunitas di asrama, pesantren, panti asuhan, panti jompo, di tempat pengungsian bahkan di tingkat keluarga). Penularan yang cepat juga didapati di daerah dengan keterbatasan air bersih serta perilaku kebersihan yang buruk.

Inilah yang menjadi urusan kesmas (Kesehatan Masyarakat) lagi. Lalu bagaimana penanganannya?

Di tingkat komunitas, penyakit ini harus dibasmi secara bareng-bareng. Semua yang dicurigai terkena harus segera diobati agar tidak menularkan ke sekelilingnya. Pakaian dan segala yang menempel di tubuhnya harus dibersihkan (dicuci) dengan benar. Kalu perlu pakaian, sprei, selimut, sarung bantal, guling direndam dengan air panas agar si tungau lenyap. Bareng (bersama) menjadi kunci pemberantasan penyakit ini. Untuk penyakitnya sendiri dipasrahkan saja ke petugas kesehatan terdekat. Puskesmas!

Hal ini juga kami sampaikan kepada orangtua Diandra agar upaya penanggulangan penyakit (kulit)-nya bisa secara komprehensif. Ada beberapa masalah yang sangat kompleks pada anak gadis ini. Masalah sakit kulitnya, masalah kecurigaan akan keganasannya dan masalah gangguan kejiwaannya. Lalu apakah masalah depresinya juga bagian dari urusan kesehatan masyarakat? Entahlah, saya tidak cukup cakap untuk menelisiknya. Saya kok jadi ingat tulisan saya tentang hujan. Dan ada firman Allah tentang ini.

“Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu).” (QS. Al-Anfal: 11)

Saya menunggu hasil investigasi bapak dan ibunya.