Wisdom of Maiyah (190)

Empat Poin Tentang Maiyah

Tulisan ini berawal dari pertanyaan singkat: “Apa yang membedakan Maiyah dengan majelis ilmu lainnya?” Aku tergelitik dengan pertanyaan tersebut lalu memberanikan diri menulis isi hati dan pikiranku.

Untuk menjawab pertanyaan penuh makna itu, aku merumuskannya menjadi beberapa hal berikut:

Pertama, manusia terdiri atas badan kasar (lahir) dan badan halus (batin), jiwa dan raga, jasmani dan rohani. Maiyah menyentuh kedua wilayah itu. Maiyah tidak hanya mencerdaskan raga jasmaniah jamaah, tetapi juga mendidik cerdas batin dan hatinya. Inilah yang tidak ada di majelis lain. Maiyah mendidik kita tidak sekadar berpikir menggunakan otak tetapi juga hati.

Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi sehingga mereka punya hati yang dengan hati itu mereka berakal (berpikir), atau telinga yang mereka gunakan untuk mendengar, karena sesungguhnya bukan mata yang buta, melainkan hati yang ada di dada.” (Q.S. Al-Hajj: 46).

Kedua, Maiyah itu majelis dunia akhirat. Maiyah menjaga keseimbangan dan keselarasan kehidupan dunia dan akhirat. Proses pembelajaran tentang dunia didapatkan ketika kita membahas berbagai masalah yang bersinggungan dengan ragam teori politik, ekonomi, sosial, budaya, sains, dan lain sebagainya. Sedangkan proses pembelajaran tentang akhirat didapatkan ketika kita membahas ayat-ayat Al Qur’an, hadist, shalawat dan sebagainya.

Maiyah berdiri di titik keseimbangan dunia dan akhirat. Maiyah mengajak jamaah bahagia di dunia dan akhirat. Keseimbangan yang proporsional ini tidak dimiliki majelis selain Maiyah.

Ketiga, Maiyah menjadi thariqah untuk memanusiakan manusia. Siapa pun kita, apa pun profesi kita, dari mana pun asal kita, bagaimana pun latar belakang kita, semuanya duduk bareng, sinau bareng, bersama-sama mencari solusi atas segudang permasalahan.

Ketika kita datang ke Maiyah dengan kepala penuh masalah dan hati penuh gundah, maka pulang kita dibekali berbagai sudut pandang holistik untuk secara bijaksana menyelesaikan problem yang ada.

Maiyah menciptakan atmosfer belajar yang menggembirakan sehingga kita menjadi petani yang baik, nelayan yang baik, guru yang baik, negarawan yang baik. Apa pun profesi atau pekerjaan kita Maiyah menjadi katalisator yang menyeimbangkan koordinat kita di antara sesama manusia dan di hadapan Tuhan.

Dari proses pembelajaran tersebut aku menemukan bahwa perbedaan itu sesungguhnya menyatukan. Perbedaan tidak semestinya memecah apalagi membelah. Fakta ini aku jumpai di Maiyah sebagai ruang yang menampung berbagai jenis benih lalu memberikan kedaulatan penuh kepada setiap benih untuk tumbuh dan berkembang sesuai fadlilah masing-masing. Cara pandang dan sikap berdaulat ini belum aku temukan di majelis lainnya.

Keempat, di Maiyah semua adalah murid dan semua adalah guru. Hadir di Maiyahan kita membawa niat yang baik, hati yang bersih, pikiran yang terbuka, sikap yang rendah hati saat berdiskusi atau menyampaikan berbagai sudut pandang untuk memecahkan suatu persoalan. Guru di Maiyah mau mendengarkan masalah dan keluh kesah para muridnya, menerima keunikan dan karakteristik murid yang datang dari berbagai latar belakang. Mereka tidak membeda-bedakan murid.

Pun demikian dengan Majelis Ilmu Maiyah: ruang belajar hadir di mana saja, kapan saja, serta tidak dibatasi ruang dan waktu. Inilah pendidikan model Maiyah yang belum dijumpai di majelis lain.