Dirikan Pondok Humanunggal, Gus Luthfi Jalankan Dawuh Mbah Nun

Di antara kita yang hadir dalam Sinau-Sinau Bareng khususnya yang berlangsung di wilayah Jawa Timur, bisa dipastikan pernah melihat sosok satu ini. Setiap kali Mbah Nun tiba di lokasi, pasti akan terlihat dia dan pasukannya mengenakan kaos merah dan peci Maiyah membantu mengawal Mbah Nun naik ke panggung. Demikian pula ketika Mbah Nun turun dari panggung menuju mobil. Dulu ketika masa sebelum pandemi usai Sinau Bareng selalu ada sesi salaman dengan Mbah Nun, dan beliau bersama pasukannya mengawal prosesi salaman ini di garis paling depan. Merapikan dan melancarkan para jamaah dan anak-cucu Mbah Nun yang hendak salim sama Mbah Nun.

Dialah Gus Luthfi. Demikian kami akrab memanggil namanya. Nama lengkapnya Achmad Luthfi. Orangnya gagah, ganteng, sorot matanya tegas, tetapi terkandung kehalusan dan kelembutan di baliknya. Pribadinya diliputi sifat tawadlu’ dan kesetiaan seorang ‘murid’ dan ‘salik’. Meski lahir di Surabaya, Gus Luthfi mimiliki darah Madura yaitu Omben Sampang. Ia cukup lama aktif di Padhangmbulan Jombang dan Bangbang Wetan Surabaya. Sering ikut memimpin ‘indal qiyam di dua Majelis Ilmu Maiyah tersebut. Dia juga salah satu orang yang dipercaya Mbah Nun untuk wilayah dan urusan wirid dan dzikir. Di tengah-tengah kebersamaan Sinau Bareng, kalau pas tidak memakai peci Maiyah merah putih, Gus Luthfi suka memakai songkok merah atau abu-abu yang khas, rapi, dan necis. Ditambah lagi akik besar yang dikenakan di jarinya, menambah pancaran persona tersendiri.

Kali ini, kita akan menyimak perjalanan Gus Luthfi dalam menjalankan pesan atau dawuh Mbah Nun kepadanya.

Gus Luthfi bercerita, tiga tahun lalu ketika Mbah Nun sedang berada di Hotel Elmi Surabaya, saat sarapan pagi ditemani dia dan beberapa teman yang lain, Mbah Nun berpesan, “Luth, nggaweo pondok. Awakmu wis wayahe nggawe pondok.” (Luth, bangunlah pondok. Sudah saatnya kamu mendirikan pondok). Gus Luthfi dengan penuh tawadlu’ dan ketaatan, langsung menjawab pesan Mbah Nun tersebut, “Bismillah. amin amin.”

Waktu berjalan, dan lima bulan berselang dari pertemuan pagi di Hotel Elmi tersebut, Gus Luthfi alhamdulillah mendapatkan rezeki min haitsu la yahtasib, dan Ia segera ingat akan dawuh Mbah Nun agar dirinya mendirikan pondok.

Rezeki itu kemudian dia pakai sebagai modal mencari tanah yang dijual. Ia mencari ke beberapa daerah. Butuh waktu sekitar lima bulan untuk akhirnya ketemu dengan lokasi yang dirasa sangat cocok ini. Tempat itu terletak di Dusun Kemuning Desa Manunggal Kecamatan Kedamean Gresik. Gus Luthfi merasa nama dusun, desa, dan kecamatan ini sangat bagus dan penuh makna, dan ini membuat Gus Luthfi merasa yakin bahwa tanah inilah yang dia cari. Daerah ini merupakan perbatasan antara kabupaten Gresik dengan Krian dan Mojokerto.

Alhamdulillah-nya lagi ketika sudah mendapatkan lokasi seluas 700 meter persegi ini, tentu dengan sedikit negosiasi dengan pemiliknya, Gus Luthfi kemudian diberi kemudahan untuk bisa membayar dalam waktu satu tahun. Tidak langsung kontan. Tiga bulan sekali Gus Luthfi membayarnya hingga lunas.

Begitu lunas pembayaran tanah tersebut, untuk memantapkan hati, Gus Luthfi menyempatkan diri sowan kepada salah satu sesepuhnya di Madura. Intinya, Gus Luthfi meminta nasihat kira-kira bagaimana lahan kecil ini bisa bermanfaat, sedangkan Gus Luthfi merasa dirinya bukan Kiai dan bukan pula Gus. “Bismillah Cung. Tapi pokoknya jangan minta bantuan ke pemerintah…,” demikian pesan sang Kiai sesepuh tersebut. Mengapa tak boleh minta bantuan ke pemerintah? Menurut beliau, karena pemerintah masih menanggung utang luar negeri. Bayar dulu utang itu. Itu lebih wajib. Sesepuh Gus Luthfi tersebut juga tahu bahwa Gus Luthfi adalah santrinya Mbah Nun, dan itu mendorong beliau untuk makin memberikan semangat kepada Gus Luthfi.

Selepas sowan sesepuh beliau di Madura itu, Gus Luthfi kembali menghadap kepada Mbah Nun untuk mengabarkan bahwa dia sudah mendapatkan tanah atau lokasi, dan selanjutnya memohon petunjuk lebih lanjut karena Gus Luthfi merasa tidak memiliki cukup ilmu untuk mendirikan dan memimpin pondok. “Bismillah, mlaku ae Luth (Bismillah, jalan terus Luth),” demikian dawuh Mbah Nun.

Gus Luthfi melangkahkan lagi setapak demi setapak, menjalankan dawuh Mbah Nun. Pelan-pelan pondasi dibangun. Seperti lazimnya rumah di Madura di mana selalu ada langgar atau mushalla di depannya, Gus Luthfi mendahulukan membangun langgar atau surau di tempat itu. Alhamdulillah akhirnya surau kecil berukuran 6×6 meter berdiri. Surau itu diberi nama Al-Hafsho, yang merupakan kepanjangan Haflah Sholawat.

Dalam membangun surau ini dan kemudian gedung atau ruang-ruang lain, modal Gus betul-betul nol rupiah. Tetapi dengan barokah Mbah Nun, dana yang dibutuhkan ada saja saat dibutuhkan karena banyak teman-teman yang nyengkuyung. Macam-macam bentuk partisipasi mereka, ada yang membantu pasir, keramik, semen, dan lain-lain. Mbah Nun juga berpesan agar Gus Luthfi juga membuka warung di situ sebagai tempat untuk srawung dengan warga masyarakat.

Seiring pembangunan pondok dilangsungkan, warung kopi berjalan, Gus Luthfi dan teman-teman mulai bisa berkenalan dan merasakan suasana di dusun atau desa ini. Mayoritas kaum musliminnya adalah Nahdliyyin. Mungkin juga ada yang latar belakang pemikiran keagamaannya lain, tetapi tidak banyak. Nah menariknya, di sini juga ada komunitas hadroh ISHARI.

Kehadiran Gus Luthfi dengan surau Al-Hafsho dan pondok yang sedang dibangunnya, agaknya sempat membuat tetangga-tetangga bertanya-tanya, siapa Gus Luthfi dan teman-temannya itu, dan apa kegiatan mereka. Pertanyaan ini barangkali bisa dimaklumi, dikarenakan Gus Luthfi tidak ingin menonjolkan identitas apapun atau tahu-tahu menyebutkan diri sebagai santrinya Mbah Nun kepada orang-orang di sana. Gus Luthfi merasa tidak etis bersikap demikian. Sampai akhirnya, Gus Luthfi bersilaturahmi ke Kiai atau sesepuh di dusun ini, untuk mengundang tasyakuran Pondok yang mulai selesai dibangun. Sekalian pula Gus Luthfi ingin mengundang 100 orang perodat ISHARI mengisi acara saat Tasyakuran tersebut.

Pak Kiai sempat mengabarkan kondisi di sini bahwa kegiatan atau acara yang baru dan mungkin belum begitu dikenal biasanya agak sulit. Lalu Gus Luthfi mengatakan kepada Pak Kiai, “Kami ke sini dengan maksud mencari saudara. Maka kami mengundang Njenengan dan tim shalawatan ISHARI.” Lagi-lagi Gus Luthfi tidak bilang kalau dirinya ngaji kepada Mbah Nun.

Tibalah saatnya tasyakkuran Pondok yang akhirnya diberi nama Pondok Humanunggal. Nama ini diambil dari nama desa ini sendiri yaitu Manunggal. Pak Kiai datang dan begitu pula 100 anggota ISHARI. Gus Luthfi meminta teman-teman panitia memberikan peci Maiyah kepada Pak Kiai dan 100 anggota ISHARI tersebut. Seketika kagetlah mereka. Mereka tahu peci apa yang sedang beliau-beliau terima. Pak Kiai mengatakan, “Kok nggak bilang-bilang kalau santrinya Mbah Nun. Saya ini orang Jombang. Di sini itu banyak sesepuh yang dulu ngaji kepada Mbah Nun waktu Padhangmbulan tahun 90-an.” Teman-teman ISHARI juga mengatakan, “Kok nggak bilang-bilang, tahu gini kan kami bisa ewang-ewang.”

Demikianlah, Pak Kiai, ISHARI, dan warga masyarakat akhirnya saling mengenal (ta’arofu) dengan Gus Luthfi dan Pondok Humanunggal yang dibangunnya. Gus Luthfi menyatakan bahwa tempat atau pondok ini bukan milik dia, tetapi milik banyak orang meskipun tidak berbentuk wakaf dan yayasan. “Kalau teman-teman ISHARI bisa mengisi shalawatan di sini, saya bersyukur,” kata Gus Luthfi. Akhirnya, sebulan sekali bapak-bapak ISHARI shalawatan di pondok Humanunggal. Sementara itu setiap selasa, Gus Luthfi memimpin acara dzikir dan wirid (membaca Wirid Maiyah, Tawashshulan) dan ngaji Tadabbur Al-Qur’an.

Semua yang terlibat dan datang ke Pondok Humanunggal diajak aktif merawat pondok. Malah kini beberapa warga yang pandai shalawatan ikut berbagi ilmu di sini ngelatih teman-teman yang lain. Teman-teman yang selalu bersama Gus Luthfi ketika ikut mengawal Mbah Nun dan ikut aktif di ini kebanyakan berasal dari Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Istri-istri juga senang dengan adanya kegiatan di Pondok Humanunggal. Alhamdulillah selama dua tahun kegiatan di Pondok berjalan dengan baik. Saat ini kegiatan-kegiatan lebih banyak bersifat halaqah di mana ada beberapa jenis kegiatan seperti dzkiri dan wirid malam hari (Qablan Nur), ada ngaji Tadabburan Al-Qur’an dan lain-lain yang masih akan dikembangkan terus.

Dan ini, barokah selanjutnya, ternyata Gus Luthfi akan dapat menantu dari desa Manunggal ini alias tetangga pondok. Ayahnya adalah ketua RW. Dan sang calon menantu alhamdulillah adalah alumni pondok pesantren Tambakberas Jombang. Gus Luthfi bersyukur calon menantunya insyaAllah bisa mengaji (qiro’ah) dan nanti diminta ikut memimpin atau mengelola di Pondok Humanunggal. Gus Luthfi mengatakan kepada calon menantunya, “Di pondok ini tidak ada kiainya. Yang ada adalah Guru yaitu Mbah Nun. Sebisamu tolong ramaikan kegiatan di sini. Kamar sudah disediakan. Selebihnya saya akan gerilya menemani Mbah Nun.”

Gus Luthfi menuturkan proses membangun pondok Humanunggal dan perkembangannya hingga saat ini adalah barokah Mbah Nun dan Maiyah. Karena itulah di salah satu ruang di Pondok ini, Gus Luthfi memasang foto Mbah Nun, Mbah Fuad, dan Mas Sabrang. Logo Nun juga dipasang di surau Al-Hafsho. Tentang kegiatan yang sudah berlangsung di pondok Humanunggal yaitu dzikir, wirid, dan tadabbur al-Qur’an, dengan rendah hati Gus Luthfi mengatakan, “Kalau semua itu dikatakan untuk Maiyah, itu belum cukup. Ini baru nyicil-nyicil.” (caknun.com)