Dari Desa Lengkong, Mbah Nun Ingatkan Etika Bershalawat

Kehadiran Mbah Nun dan KiaiKanjeng di Desa Lengkong Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara pada hari Sabtu 3 September 2022 sudah ditunggu-tunggu warga desa sejak mereka mengetahui bahwa Aula Achmad Sadjangi yang baru saja selesai dibangun akan diresmikan oleh Mbah Nun. Aula ini didirikan oleh keluarga Bapak Imam Syuhada, adik ipar Mbah Nun, yang berasal dari desa tersebut. Achmad Sadjangi adalah nama kakek Pak Imam. Pendirian aula ini dimaksudkan untuk meneruskan jariyah Kakek Achmad Sadjangi di mana kemanfaatan aula ini bisa dinikmati warga masyarakat untuk berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Sebelum Tawashshulan dimulai Mbah Nun diminta untuk memotong tumpeng dan menandatangani prasasti tanda Aula Achmad Sadjangi telah diresmikan. Potongan tumpeng diberikan kepada tiga orang pengelola Aula Achmad Sadjangi. Berbagai elemen masyarakat Desa Lengkong hadir dan terlibat sebagai panitia dalam acara peresmian ini. Sebut saja tim ibu-ibu yang sedari pagi sudah sibuk menyiapkan berbagai hidangan untuk Mbah Nun dan KiaiKanjeng sampai purna acara. Bapak-bapak dan generasi muda juga semuanya aktif dalam menyiapkan berbagai keperluan hingga meng-handle jalannya acara. Hadirin yang mengikuti acara ini pun tidak hanya dari Desa Lengkong saja, tetapi dari banyak tempat lain.

Selepas peresmian, Mbah Nun menyampaikan sejumlah hal yang sebenarnya merupakan dasar atau pijakan umum dalam menjalani hidup yang barangkali kita perlu diingatkan kembali, sekaligus itu juga merupakan landasan bagi mengapa dan bagaimana kita, misalnya, Tawashshulan, bershalawat, dan shalawatan.

Ojo nganti Allah gak seneng dengan apa yang kita lakukan. Ojo kejeglong di tempat yang bukan Shirothol Mustaqim atau Shirothun Nubuwwah. (Jangan sampai Allah tidak senang dengan apa-apa yang kita lakukan. Jangan terjatuh ke suatu tempat yang bukan shirothol mustaqim atau Shirothun Nubuwwah). Shalawatan yang kita lakukan bisa gagal mengantarkan kita ke surga kalau kita kejeglong. Karena itu kita harus memahami dan punya ilmu,” demikian pesan Mbah Nun.

Kemudian Mbah Nun menerangkan salah satu ilmu yang dimaksud. Dalam segala sesuatu ada sopan santun (etika) dan estetikanya. Seperti tatkala kita berbicara kepada orang tua. Ada etikanya, ada estetika dalam berkalimatnya. Nadanya bagaimana, bahasa tubuhnya bagaimana, ekspresi wajahnya seperti apa, dll. Demikian pula dalam bershalawat. Salah satu adab yang harus diterapkan dalam bershalawat adalah kelembutan dan kehalusan hati.

Adab atau etika Ini berangkat dari ayat dalam Surat Al-Fajr:Ya ayyatuhan nafsul muthmainnah irji’i ila Robbiki radhiyatan mardliyyah. Jiwa-jiwa yang muthmainnal diseru untuk kembali kepada Rabb-nya dalam keadaan ridla dan diridlai. Jiwa yang halus, lembut, tenang, dan tenteram itulah yang dipanggil Allah.

Bagi Mbah Nun ayat ini bukan tentang keadaan orang yang meninggal dunia sehingga biasanya kita baca berita lelayu “telah meninggal dunia dengan tenang….” Sebaliknya, kelembutan hati merupakan persyaratan pada setiap jalan atau cara yang hendak ditempuh untuk menuju Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad. Di antaranya adalah bagaimana cara kita bershalawat atau shalawatan (misal, memilih musiknya). Bahkan contoh lain diberikan oleh Mbah Nun yakni cara sekarang ora g takbiran seperti tampak pada saat malam Idul Fitri yang diwarnai dengan suara jedar-jedor dan biyaya’an di jalan. Sementara dalam bershalawat, ada shalawat yang dibawakan oleh kelompok hadroh dengan jenis musik koplo.

Memang banyak jenis atau suasana musikal bisa dipakai untuk melantunkan bacaan-bacaan shalawat, dan malam itu Mbah Nun meminta KiaiKanjeng memberikan contoh bermacam-macam genre musik yang diterapkan dalam bershalawat, mulai dari musik Melayu, Barat, Timur, Jawa, Dangdut, dan Koplo. Saat sampai pada contoh yang terakhir, Mbah Nun bertanya, “Kira-kira bagaimana perasaan Kanjeng Nabi? Apakah ini mengekspresikan kelembutan hati kepada Kanjeng Nabi dan Allah Swt.” Mereka menjawab, “Tidak!” Mbah Nun mengingatkan bahwa bershalawat atau shalawatan itu sesuatu yang baik tetapi jangan dirusak oleh musik koplo atau yang lain-lain yang bila dirasakan terasa lebih pada suasana hubbud dunya. Mbah Nun bahwa shalawatan itu untuk Rasulullah, jadi perlu diimajinasikan apakah pilihan musik yang dipakai sudah pas dan mencerminkan kehalusan hati atau belum.

Secara lebih tegas Mbah Nun mengungkapkan bahwa hidup ini terbagi dalam dua nilai: duniawi dan ukhrawi. Maka setiap hal perlu dirasakan lebih besar kadarnya ke ukhrawi atau duniawi, termasuk dalam bershalawat. Ringkasnya, malam itu Mbah Nun mengajak semua anak-cucunya untuk belajar untuk memiliki rasa, ilmu, dan pemahaman. Dalam menerapkan musik pada shalawat pun, Mbah Nun mengatakan kita perlu belajar nada, alat tiup, alat gesek, dan lain-lain untuk dipakai dengan pertimbangan bagaimana alat tersebut mendukung etika tersebut dan tidak melanggarnya.

Setelah menguraikan secara gamblang etika dalam bershalawat, Mbah Nun mempersilakan KiaiKanjeng memulai Tawashshulan. Perlahan-perlahan suasana khusyuk, khidmat, lembut, dan halus mulai terbangun seiring Qabliyah dan Ifititah dilantunkan. Kurang lebih satu jam Tawashshulan berjalan. Sepanjang itu pula, Mas Islamiyanto, Mas Imam, Mbak Nia, Mbak Yuli, dan Dik Faqih berbagi peran dalam membaca bagian demi bagian dalam Tawashshulan. Mbah Nun pun yang menemani KiaiKanjeng dalam Tawashshulan ini turut membaca bagian-bagian dengan penuh perasaan yang mendalam dalam memohonkan keberkahan bagi anak-cucu Jamaah Maiyah dan siapa saja yang hadir.

Jamaah yang mengular dari depan panggung hingga jalan yang berada di luar jalan dusun tempat Aula Achmad Sadjangi semuanya khidmat dan khusyuk mengikuti Tawashshulan. Kekhidmatan itu semakin meningkat membawa semua jamaah ke dalam suasana ukhrawi dan menep saat di penghujung acara Mbah Nun melantunkan nomor Takbir Akbar yang diiringi bunyi gamelan KiaiKanjeng yang begitu intens bunyinya pada nomor ini sehingga terasa makin mendalam, makin mendalam, tetapi juga makin meninggi. (caknun.com)