Dan Hujan Pun Turut Menyemai Rindu di Kenduri Cinta

Semakin larut, diskusi di Kenduri Cinta semakin intens dengan pembahasan yang juga semakin berbobot. Meskipun hujan kembali turun, jamaah tak sedikitpun bergeming. Banyak yang rela untuk tetap berbasah-basahan diguyur hujan, seolah-olah eman rasanya jika harus segera meninggalkan forum Kenduri Cinta ini.

Dok. Kenduri Cinta

“Di Indonesia itu orang-orangnya prigel”, Ali Hasbullah menyambung paparan Karim dan Tri Wahyu sebelumnya. Berkaca pada mukadimah Kenduri Cinta edisi September ini, Ali Hasbullah menyatakan bahwa perlu dirumuskan kembali parameter yang menjadi penentu indeks kebahagiaan sebuah negara di dunia. Faktanya, di Indonesia ini kita mendapati keyataan bahwa mau sesulit apapun kondisi hidupnya, rakyat Indonesia memiliki kreativitas yang sangat tinggi untuk menemukan cara untuk tetap bahagia.

Yang juga perlu ditegaskan, Ali menyampaikan bahwa di Islam kita memiliki bekal dari Allah berupa ayat; Innallaha la yughayyiru maa biqoumin hatta yughayyiru maa bianfusihim. Bahwa perubahan itu datangnya atas kehendak Allah yang sebelumnya didukung dengan usaha yang dilakukan oleh manusia itu sendiri.

2 tahun mengalami masa pandemi, sama sekali tidak memusnahkan rasa optimism untuk terus bahagia. Mungkin sesekai merasakan kebuntuan hidup, menghadapi kesulitan hidup, namun faktanya tetap bisa bertahan dan tetap menemukan alasan untuk tetap bahagia.

Tri Mulyana menggarisbawahi bahwa memang cara mengukur kebahagiaan antara kita sebagai rakyat dengan dunia memandang kebahagiaan sebuah negara itu sebenarnya sangat berbeda landasannya. Jika sebuah negara, maka akan diukur tingkat achievement rate-nya untuk menentukan apakah sebuah negara terbukti menghadirkan kebahagiaan untuk rakyatnya atau tidak. Semenatra kita di Indonesia, memiliki rasa bersyukur untuk menjadi pijakan dalam menemukan kebahagiaan. Apapun saja, kita sebagai rakyat di Indonesia selalu menemukan celah untuk bersyukur.

Untuk mengisi sesi jeda kedua, grup musik Empang (Emperan Pamulang) dari Pamulang dan juga teman-teman Komunitas Jazz Kemayoran menghibur jamaah dengan nomor-nomor yang dibawakan. Semua bernyanyi, semua bergembira bersama di Kenduri Cinta malam itu.

Memasuki diskusi sesi puncak, Ustadz Noorshofa hadir bersama Habib Husein Ja’far bergabung di panggung Kenduri Cinta.

“Sesama kita itu bersaudara,” Habib Ja’far membuka paparannya malam itu dengan mengisahkan satu pengalaman yang ia alami saat bertemu dengan pedagang Starling di Monas yang ternyata adalah sama-sama orang Madura. Saat belum saling mengenal, yang ada adalah imajinasi bahwa jika tidak membeli dagangannya, maka orang itu kurang ajar, harus dikasih pelajaran. Namun dengan satu kode saja, pada akhirnya pedagang Starling itu justru memberi air mineral secara gratis.

Istilah “Sesama kita bersaudara” itu bisa diungkapkan dengan barbagai macam bahasa. Di Madura, disebut Tretan Tibi’, lalu di Jawa ada istilah Dhulure Dhewe, atau Jape Methe, begitu juga di daerah lain, punya istilahnya sendiri. Kesadaran dasar dalam diri manusia Indonesia ini yang secara naluriah menumbuhkan imajinasi yang kemudian diejawantahkan dalam kehidupan nyata bahwa kita semua ini memang bersaudara.

Sementara, yang sedang kita hadapi hari ini adalah polarisasi demi polarisasi yang terjadi secara massif. Pada setiap isu yang bergulir, selalu menghadirkan polarisasi yang baru, yang ujungnya kemudian adalah perpechan yang semakin meruncing. Setiap isu yang bergulir selalu ditunggangi oleh pihak-pihak yang memang sedang menghendaki perpecahan agar terjadi.

Dalam dunia digital, kita mengenal istilah Echo Chamber, atau ruang dengung. Dalam sistem Echo Chamber, kita dikondisikan pada sebuah aturan main di mana kita hanya mau mendengarkan informasi yang sepihak dengan kita. Kita akan menolak informasi yang bertolak belakang dengan keberpihakan kita. Sebaik apapun yang dilakukan oleh orang yang berseberangan dengan kita, tidak akan kita terima. Singkatnya, kita dikondisikan untuk tidak mau menerima perspektif lain dari apa yang kita yakini.

Berbicara tentang “NEGARA CANDA”, Habib Ja’far menyampaikan bahwa kita di Islam memiliki pijakan bahwa dunia dan seluruh isinya ini hanya permainan dan senda gurau belaka. Tetapi, meskipun permainan kita itu menjalaninya dengan serius. Sayangnya, hal ini tidak kita aplikasikan seutuhnya dalam kehidupan kita. Kita lebih sering serius untuk hal-hal yang sifatnya main-main, misalnya bermain game di handphone kita sangat serius, scroll time line media sosial, kita sangat serius. Sementara untuk hal-hal yang sejatinya bersifat serius, seperti ibadah, kita justru main-main dan penuh canda.

Dok. Kenduri Cinta

“Kita ini cenderung mati-matian untuk dunia, padahal dunia ini adalah sesuatu yang tidak akan dibawa mati”, Ustadz Noorshofa menyambung apa yang disampaikan oleh Habib Ja’far. Diibaratkan oleh Ustadz Noorshofa bahwa kita hidup di dunia ini sebenarnya hanya sebentar, sangat sebentar bahkan jika dibandingkan dengan kehidupan di akhirat yang lebih kekal, karena tidak ada kehidupan lagi setelah kehidupan di akhirat kelak.

Ustadz Noorshofa menegaskan bahwa kita jangan sampai juga melupakan untuk melakukan introspeksi ke dalam diri kita. Kita lebih sering mengkritik apa yang ada di luar diri kita, tetapi sangat jarang untuk melakukan kritik ke dalam diri kita. Agar kita mendapat kehidupan yang layak di akhirat kelak.

Kehidupan di surga, dijelaskan oleh Ustadz Noorshofa adalah kehidupan yang penuh dengan kenikmatan. Ketika di surga kelak, kita minum itu bukan dalam rangka menghilangkan dahaga, saat kita makan bukan dalam rangka kita lapar, melainkan itu semua dilakukan karena kita mendapat kenikmatan.

Kembali pada konteks bersyukur, sejatinya apa yang kita lakukan bersama-sama di Kenduri Cinta dan di Maiyah ini adalah dalam rangka nyicil kehidupan surga. Kita semua menyadari bahwa tidak ada satu pun dari kita yang sempurna, kita semua punya aib dan kesalahan, hanya saja Allah masih menyembunyikan aib kita, dan yang harus kita waspadai adalah jangan sampai kita terjebak dalam aib kita sendiri.

Lewat tengah malam, Kenduri Cinta dipuncaki dengan doa bersama, untuk kebaikan bersama. Sampai jumpa pada Kenduri Cinta edisi Oktober 2022.