CakNun.com

Dan Hujan Pun Turut Menyemai Rindu di Kenduri Cinta

Sejak Jumat siang (9/9), hujan deras mengguyur hampir di seluruh penjuru Jakarta. Tidak terkecuali di Cikini. Bulan-bulan ini memang adalah momen memasuki musim penghujan, beberapa hari terakhir intensitas turunnya hujan cukup tinggi, tidak hanya di Jakarta saja.

Ustadz Noorshofa hadir di forum Maiyah bulanan Kenduri Cinta edisi September 2022 di Taman Ismail Marzuki.
Dok. Kenduri Cinta

Hingga lepas maghrib, hujan tak kunjung reda. Persiapan Kenduri Cinta pun baru bisa disempurnakan menjelang Isya’, termasuk untuk sound check tata pengeras suara dan pemasangan backdrop di panggung. Namun demikian, nyatanya hujan yang turun tidak mengurangi antusiasme teman-teman jamaah Maiyah di Jakarta untuk Maiyahan di Kenduri Cinta malam itu. Cukup banyak yang datang sejak sore bahkan, mereka turut menikmati suasana senja yang cukup dingin di Taman Ismail Marzuki.

Bagi sebagian jamaah, cuaca hari itu memang cukup mengkhawatirkan. Beberapa bertanya melalui DM di Instagram apakah Kenduri Cinta tetap terselenggara mengingat hujan yang turun cukup deras. Tapi, bagi penggiat Kenduri Cinta, hujan bukan sebuah halangan. Bahkan, beberapa tahun lalu saat Kenduri Cinta masih diselenggarakan di Plaza Taman Ismail Marzuki di depan, pernah mengawali forum dalam situasi hujan turun cukup deras, bahkan hingga berlangsungnya diskusi sesi pertama pun, hujan masih turun sangat deras, nyatanya jamaah justru yang hadir semakin banyak. Tapi sekali lagi, forum Kenduri Cinta ini bukan hanya sekadar kuantitas banyaknya jamaah yang hadir, setiap jamaah pasti memiliki alasan tersendiri kenapa mereka ingin datang ke Kenduri Cinta.

Sekitar pukul 20.30 WIB, Kenduri Cinta dibuka dengan munajat shalawat dan lantunan surat Ar-Rahman oleh beberapa penggiat Kenduri Cinta. Jamaah yang sudah datang diajak untuk menyapa langit, mensyukuri bahwa hujan yang turun juga merupakan rahmat dari Allah untuk semesta. Setelah munajat itu, sesi mukadimah pun digelar. Bukhori dan Nashir memandu sesi tersebut, menyapa jamaah yang sudah hadir.

Salah satu jamaah, Riyan, ditanya kenapa tetap datang ke Kenduri Cinta? Baginya, Kenduri Cinta adalah tempat untuk berkumpul. Ada suasana yang berbeda yang ia temui di forum ini. Disinggung mengenai harga BBM yang naik, ia menjawab, tidak terlalu pusing dengan kenaikan BBM itu, yang penting masih bisa ngopi dan rokok’an, itu sudah membuatnya bahagia. Apalagi, Maiyahan di Kenduri Cinta bisa ngopi sambil rokok’an, itu sudah lebih dari cukup, menurutnya.

Lain lagi dengan Aisyah, seorang jamaah perempuan yang mengaku baru dua kali ini datang di Kenduri Cinta. Tampak masih muda, jadi mungkin Aisyah ini generasi Z yang baru saja mengenal Kenduri Cinta. Tidak dipungkiri memang, banyak anak-anak muda sekarang, terutama generasi Z, mengenal Maiyah bukan dari buku-buku atau karya Mbah Nun, mereka mengenal Kenduri Cinta atau juga Maiyah dari konten-konten yang tersebar di media sosial saat ini. Aisyah yang awalnya mengenal Kenduri Cinta dari Instagram mengakui, forum ini banyak guyonnya, tetapi ia juga tetap mampu mengambil banyak hikmah dari forum Kenduri Cinta ini, jadi tidak hanya guyon, ilmunya juga tetap banyak yang ia dapat.

“Masih ada Mbah Nun,” ungkap Irfan, salah satu jamaah Kenduri Cinta yang sudah bersentuhan dengan forum ini sejak tahun 2010. Tidak terlalu mengherankan, karena memang Irfan tinggal di belakang Taman Ismail Marzuki, tepatnya di jalan Kali Pasir. Malam itu, Irfan mengajak jamaah yang hadir untuk selalu memanjatkan doa untuk kesehatan Mbah Nun. “Meskipun kita mengalami kebingungan, mengalami kesedihan, tapi setidaknya kita masih bisa menenangkan diri kita karena kita masih punya Mbah Nun,” pungkasnya.

Irfan menambahkan, bahwa di awal tadi, kita sudah melantunkan wirid Hasbunallah, lalu Mawlan Siwallah, yang sebenarnya wirid-wirid itu sudah dibiasakan kita di setiap pembukaan Kenduri Cinta sudah sangat cukup menegaskan bahwa jamaah Kenduri Cinta itu adalah manusia Indonesia yang sangat nasionalis. Tidak peduli dengan kenaikan BBM, ya mungkin sesekali kita bersedih, merasa susah, tapi kita tetap memiliki pondasi optimisme yang sangat kuat, bahwa hanya kepada Allah kita bersandar. Mbah Nun sudah memberi kita kunci, dengan statemen dari Rasulullah Saw. in lam yakun bika ‘alayya ghodlobun, falaa ubaalii. Asalkan Allah tidak marah kepadaku, maka aku tidak peduli dengan apa yang terjadi di dunia ini.

Baru sesi mukadimah saja, diskusi yang bergulir sudah menghangat. Tema “NEGARA CANDA” ini sebenarnya hanya pemantik saja bagaimana jamaah akan merespons, selalu dibiarkan alami saja diskusi mengalir. Ada Mas Bayu yang ternyata seorang ASN di Jakarta, menyampaikan bahwa memang Indonesia sebagai Negara harus melakukan revolusi perubahan secara mendasar jika ingin menjadi Negara yang lebih baik dari hari ini. Begitu juga dengan Ali Condet, yang memang berdarah Ambon, ia menyadari bahwa sampai hari ini masih saja terjadi ketimpangan sosial di Indonesia.

DIskusi sesi mukadimah berlangsung di bawah rintik gerimis yang memang masih turun malam itu. Nashir kemudian mempersilakan Adiba untuk membawakan beberapa nomor lagu sebelum memasuki diskusi sesi selanjutnya.

Tri Mulyana kemudian memoderasi diskusi sesi selanjutnya. Bersama Adi Pudjo dan Ali Hasbullah menemani Tri Wahyu dan Ahmad Karim yang turut bergabung di Kenduri Cinta malam itu. Tri Wahyu sendiri adalah salah satu penggiat simpul Maiyah di Lingkar Daulat Malaya, Tasikmalaya yang memang kebetulan sedang di Jakarta. Sementara Ahmad Karim adalah penggiat Simpul Maiyah Mafaza Eropa yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikan di Belanda.

Setelah menafsirkan maksud dari poster tema Kenduri Cinta kali ini, yang tentu saja tafsir semaunya sendiri, Tri menyampaikan bahwa memang saat ini kita memiliki kecenderungan untuk menyelesaikan masalah dengan masalah yang baru. Begitu juga dalam kehidupan bernegara, bagaimana Pemerintah Indonesia seringkali menghadapi permasalahan yang rumit, namun kemudian diselesaikan dengan cara memunculkan permasalahan yang baru. Yang terakhir saja, mengenai kebocoran data di beberapa kementerian, tidak diselesaikan dengan mencari akar masalahnya apa, melainkan dengan memunculkan masalah yang baru lagi.

Kita ini cenderung mati-matian untuk dunia, padahal dunia ini adalah sesuatu yang tidak akan dibawa mati
Dok. Kenduri Cinta

Ahmad Karim lalu menyoroti tema yang diangkat Kenduri Cinta kali ini. Ia beberapa kali hadir di Maiyahan di beberapa titik Simpul Maiyah, hampir selalu kata “Indonesia” disebut dalam diskusi. Hal ini menandakan betapa cintanya Masyarakat Maiyah terhadap Indonesia. Tidak dalam rangka mengkritik, menghina, membully apalagi merendahkan, justru Jamaah Maiyah di setiap Simpul Maiyah memiliki caranya sendiri untuk mengungkapkan cinta kepada Indonesia. Tidak peduli apakah Indonesia selalu memberi kebahagiaan kepada mereka atau tidak, tetapi mereka tetap cinta kepada Indonesia dan tidak memiliki niat sedikit pun untuk meninggalkan Indonesia.

“Maiyah selalu membicarakan Indonesia dalam setiap diskusinya,” lanjut Karim menyampaikan. Dibicarakan dan didiskusikan dari berbagai sisi. Entah akan menjadi solusi bagi Indonesia atau tidak, itu urusan lain, tetapi diskusi yang berjalan dengan serius itu mebuktikan betapa cinta yang sangat luar biasa dari Jamaah Maiyah kepada Indonesia. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan kehidupan di Belanda. Diceritakan oleh Karim, sangat jarang rakyat di Belanda membicarakan negara, karena Negara memang benar-benar hadir untuk menyelesaikan persoalan rakyatnya, sehingga hampir tidak ada celah untuk rakyatnya mendiskusikan negaranya.

Di Indonesia, obrolan mengenai negara itu muncul di warung-warung kopi, di pinggir jalan, di kelompok-kelompok diskusi rakyat, yang sebenarnya mereka sama sekali tidak memiliki otoritas untuk melakukan perubahan terhadap negara. Kita bisa melihat realita hari ini, bagaimana rakyat Indonesia begitu asyik membincangkan Negara dalam skup diskusi mereka di setiap lini. Termasuk Maiyah ini.

Yang digarisbawahi oleh Karim, Maiyah sebagai komunitas sangat berbeda dengan Ormas atau Partai Politik. Secara padatan, Simpul Maiyah tidak memiliki otoritas sama sekali untuk melakukan perubahan, tetapi sangat serius membicarakan negara di setiap diskusinya. Tidak dalam rangka memunculkan ekspektasi yang tinggi terhadap Indonesia, tetapi setidaknya ada narasi yang kuat dan selalu diingat, bahwa setidaknya kita di Maiyah tidak ikut menambah kerusakan di Indonesia. Mungkin hanya memiliki peran seperti semut yang setia membawa tetesan air untuk memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim saat dihukum oleh Namrud, meskipun kecil, tetapi tindakan itu nyata adanya.

Lainnya

Sisi Lain Otentik Pak Nevi

Sisi Lain Otentik Pak Nevi

Sebagai Jamaah Maiyah, kebanyakan kita mengetahui sosok Pak Nevi adalah salah satu personel KiaiKanjeng pada posisi Saron.