Bunker Armagedon (1)

Sekitar 2016 lalu ketika Sinau Bareng di Padhangmbulan, (Sumber ilmu Sepuh Maiyah) setelah ngaji bareng selesai, malam itu melalui Cak Yus, salah satu keluarga Ndalem PB. Sebutan “Cacak” (kakak) panggilan akrab seluruh keluarga Ndalem Kasepuhan Padhangmbulan, semua yang bernasab dari Sayyid Muhammad bin Abdul Lathif dan Sayyidah Halimah, menyederhanakan perihal gelar atau identitas lain, di sana tidak ada panggilan Gus, Kyai, Raden, dsb-nya. Cukup dengan sebutan “Cak”, entah kenapa, kami tidak tahu. Sampai saat ini pun kami masih dalam tahap sinau tentang hal tersebut.

Singosari, November 2019. Foto: Adin (Dok. Progress).

Semoga Allah memberikan ilmu kepada kami yang bodoh, memberi daya ingat ketika lupa. Alhamdulillah, walaupun masih sedikit, pelan-pelan kami rangkum apa yang telah kami dapat dari perjalanan menimba “tirto wening” di kasepuhan Maiyah Padhangmbulan. Semoga Lain waktu kita sinau dalam ruang berikutnya yaitu “black Hole”.

Baiklah kita lanjut kisah awal tadi. Kami dipanggil menghadap beliau. “Luth, dihaturi Mbah Nun”. Sungguh, mendengar pesan itu, mendadak jantung saya kaget, badan saya “nyumer” khawatir, bercampur “nderedeg”, pikiran kacau dan balau darurat, dengkul gemetar seolah tak bertenaga. Bukannya mengada-ada, tapi ya begitulah realita saat itu.

Memang sebelumnya kami sering melihat Mbah Nun murung tidak seperti biasanya, mungkin karena di sebelah “Jannatul Maiyah” ibarat bangunan, keadaan pada saat itu sedang tidak siku, satu sama lain saling “pating pecotot” (berantakan) saling menonjolkan ukuran masing-masing, tidak ada yang mau mengalah apalagi mengaku salah. Semua merasa akurat dengan meterannya sendiri, ditambah lagi argumen yang sangat membuat bising telinga. Jangankan ramah, peduli lingkungan saja tidak. Sadar atau tidak bau abab-nya mengganggu sirkulasi kesehatan manusia. Wes mbuh reek.

Dengan pikiran penuh campur aduk perlahan kami menenangkan hati, melangkah menghadap beliau. Di teras depan terlihat Cak Nang, Cak Mif, dan Cak Dil, beliau masih menemani para tamu dan jamaah yang belum pulang. Setelah tiba di ruang tamu ndalem, di situ kami melihat Mbah Nun sedang menulis beberapa wirid di atas kertas. Lalu kami dipersilakan duduk oleh beliau. Seperti biasa pada umumnya kita memilih duduk di bawah kursi. Sambil menunggu beliau menulis, kami sebisa mungkin berupaya menenangkan hati dan pikiran yang masih dipenuhi tanda tanya.

Berselang berberapa menit kemudian, setelah beliau selesai menulis, beliau membaca ulang hasil tulisannya. Beliau sangat teliti dan waspada, terhadap apapun saja, apalagi menyangkut perihal wirid. Setiap wirid yang beliau ijazahkan selalu terukur bahkan presisi, baik muatan atau esensinya. Tentu sangat banyak ijazah wirid yang beliau hadiahkan kepada jamaah Maiyah. Semua itu tentu sangat berguna bagi teman-teman jika dilaksanakan dengan sungguh sungguh. InsyaAllah dalam waktu cepat atau lambat akan segera terwujud oleh kekuatan Takdir Allah. Kalaupun tidak, itu soal biasa. “Wis oleh ijazah wirid, ditinggal turu, begitu tangi, njaluk terkabul hajate”. Hehehe guyon reek.

Beliau tidak pernah sedikit pun meremehkan sesuatu, meskipun tampak remeh bagi halayak umum. Beliau tetap saja menghargai penuh “shiddiq” (sungguh-sungguh). Bahkan saya pernah melihat dengan mata saya sendiri, ada pemuda memberikan cincin akik kepada Mbah Nun, lalu beliau menunjukkan cincin itu kepada saya. Setelah saya lihat dengan teliti, cincin akik itu sangat biasa dan mudah didapat di pasaran. Namun setelah cincin itu saya kembalikan ke beliau, dengan sangat senang hati cincin yang beliau pakai sebelumnya langsung dilepas dan beliau memakai cincin akik pemberian pumuda tadi. Seperti itulah beliau, sangat menghargai “amanah” walau nampak kecil dan sepele, namun beliau tetap saja hormat dan menghargai.

Setelah tulisan wirid itu dikoreksi oleh Mbah Nun, kemudian beliau meminta saya untuk bergeser lebih maju mendekati kursi di mana saat itu beliau duduk. Lalu beliau memberikan kertas wirid yang beliau tulis sendiri, sambil dhawuh, “Jajal wocoen Luth, iso diwoco tah tulisane (coba dibaca Luth, bisa dibacakah tulisannya)”. Dengan tangan sedikit gemetar, saya terima kertas itu, lalu membaca dengan hati. Kalau pakai suara saya jelas belepotan, karena saat itu mengatasi nderedeg belum juga reda. Pelan-pelan saya baca, alhamdulillah sampai selesai. Kalau ada salah, semoga Allah memaafkan kami.

Beliau melanjutkan dhawuhnya, “Luth wirid iku wocoen sak marine sholat wengi, selama patang puluh dino, siapno pasir sak wakul cilik, wocoen nang ngarepe pasir sing wes mbok siapno, misale awakmu Maiyahan, gowoen pasir iku sitik wae, wadahono plastik, tetep dilakoni syarat wirid iki koyo biasane, ojo sampek pedot teko 40 wengi, ben koen gak mbaleni maneh teko awal (Luth, wirid itu bacalah setelah sholat malam, selama empat puluh hari, siapkan pasir sebakul kecil, bacalah di depan pasir yang telah kau siapkan, misalnya kamu maiyahan, bawalah pasir itu sedikit saja, tempatkan di plastik, tetap dilakukan syarat wirid ini seperti biasanya, jangan sampai putus dari 40 hari, agar kamu tidak mengulangi dari awal)”.

Masih di hadapan Mbah Nun, sambil merundukkan kepala, pikiran dan hati saya saat itu bertanya-tanya, ada apa ini, kenapa dengan wirid 40 malam, kenapa mesti ada pasir. Pertanyaan demi pertanyaan muncul tiba-tiba, penasaran tentang jawaban dari wirid 40 malam itu. Entah apa, kami tak mengerti.

Sepertinya diam-diam beliau melihat dan membaca alur pikiran saya. Mbah Nun segera “tanggap ing waskito” menenangkan gejolak hati dan pikiran yang nampak takut. Iya, saya benar-benar takut. Beliau kembali dhawuh: “Luth koen ojo mikir macem-macem, wes talah pokok’e lakonono, ngko ne’ ono isyaroh, aku dikabari yo (Luth, kamu jangan mikir macam-macam, sudahlah pokoknya lakukan saja, nanti kalau ada isyarat — petunjuk alam — aku dikabari ya)”.

Masih duduk bersimpuh di hadapan beliau, kemudian beliau memegang kepala saya yang sedang merunduk, saya mendengar beliau membacakan do’a-do’a dengan suara lirih pelan, seperti suara orang berbisik, sekitar 2-3 menit. Saat itu saya merasakan ada tiupan angin yang masuk dalam ubun-ubun saya. Badan terasa dingin bahkan sejuk, sangat berbeda jauh dari sebelumnya. Lalu beliau mengizinkan saya pergi meninggalkan tempat. Setelah saya berdiri beranjak akan meninggalkan tempat, beliau menambahkan sedikit pesan yang menguatkan batin saya, “Biasa Luth, aku biyen yo koyok ngono (biasa Luth, saya dulu ya seperti itu)”.

Belum melaksanakan tugas wirid 40 malam, serunya sudah terasa bukan main. Cukup membuat adrenalin lahir batin terguncang oleh aura dan pamor yang tersimpan dalam jiwa raga Mbah Nun. Bukannya berlebihan, namun memang itulah kenyataan. Kenapa saya memberanikan diri menulis semua ini, karena kami sering menemukan bahkan melihat langsung saat sinau bareng, bagaimana para jamaah histeris berteriak dengan nada tinggi sambil menangis memanggil-manggil nama Mbah Nun, baik itu laki laki atau perempuan, orang tua ataupun anak anak bawah umur, apalagi ketika akan pergi meninggalkan panggung, di tengah riuh berjejal manusia.

Di antara mereka saling bersahutan memanggil-manggil nama beliau. “Mbah Nuuun, Mbah Nuuun” “I Love You Mbah Nuuun….” Berulang-ulang mereka berteriak lengking, sambil menjulur-julurkan tangan ke arah tubuh Mbah Nun. Ada yang ingin bersalaman, ada pula asalkan menyentuh pundak atau punggung beliau, mereka sudah terasa lega hati, namun air mata dan tangis meraka tak cukup membendung Cinta Kasih Sayang juga Kerinduan yang mereka pendam dalam hati mereka.

Sungguh kami tidak tega pada mereka, yang sering membatasi agar tidak berebut bersalaman pada Mbah Nun, andaikan saya di posisi mereka tentu saya akan melakukan hal yang sama. Tak jarang kami dan kawan-kawan disangka arogan, karena tak diberi kesempatan untuk bersalaman dengan beliau, namun itulah konsekuensi yang harus siap kami terima dengan hati lapang. Tentu masih sangat banyak kisah saat Gerilya Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Lain waktu kita bahas pengalaman kawal keamanan Sinau Bareng. InsyaAllah.

Kalau dituruti tentu tidak cukup dua jam untuk salaman. Itu belum yang meminta doa dengan air botol yang meraka siapkan. Dulu sebelum Covid-19 datang melanda belahan dunia, Mbah Nun masih melayani salaman menjelang pulang sampai tuntas. Dan memang lebih dari dua jam, beliau melayani dengan berdiri tegak, dengan hati penuh kasih sayang. Tak satu pun terlewatkan, semua diperlakukan sama, dengan cinta dan kasih Slsayang seorang Mbah terhadap anak cucunya.

Seperti yang telah banyak kita semua ketahui, sekarang kondisi beliau sudah tidak seperti dulu lagi, usia beliau yang sudah 70 tahun. Dapat kita bayangkan sendiri, secara fisik tentu tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya. Sebagai anak cucu hendaknya kita mengerti bagaimana cara menyikapi dengan tata krama yang lebih arif dan bijaksana, namun ikatan cinta lahir batin kita masih tetap utuh dan lebih mendalam. Coba kita bayangkan sejenak, walaupun dalam keadaan yang belum sembuh tuntas, beliau masih sangat penuh semangat untuk datang menemui anak cucunya, seperti saat di Bojonegoro kemarin lalu, walaupun hujan membasahi panggung, kaki beliau rela menginjak “lemek plastik” yang basah. Padahal kondisi beliau dalam pemulihan dari sakitnya. Lebih jelasnya buka dan baca disini.

Beliau dan kiaikanjeng selalu memberikan yang terbaik kepada jamaah, masyarakat, rakyat. Semua dihibur, digembirakan, bahkan dibahagiakan, dengan ilmu dan wawasan luas, dengan musik yang melantun ikhlas, tulus suci murni tanpa dikotori oleh niat-niat yang lain. Mbah Nun dan Kiaikanjeng adalah berlian Nusantara Raya, yang tidak sedikit pun meremehkan ciptaan Tuhan.

Nanti kita jumpa lagi di Bunker Armagedon (2).