Belajar Untuk (Selalu) Sehat (4)

Pilihan — Keputusan

Ternyata ibu si Fariz adalah seorang insan kesehatan. Artinya adalah sosok yang bergelut di dunia kesehatan, berlatar belakang seorang sarjana kesehatan dan bekerja sebagai praktisi di bidang kesehatan. Si ibu muda ini sedang mengandung, dan umur kandungannya hampir sembilan bulan, sehingga kira-kirai dalam dua minggu ke depan akan melahirkan.

Doctor covid photo created by freepik

Bisa dibayangkan, di tengah kebahagiaan menyambut anak yang sekaligus adik si Fariz, pasangan muda ini harus menghadapi kenyataan bahwa Fariz menderita leukemia. Saya melihat raut wajah si ibu dan sudah membayangkan kesedihannya. Raut wajah seorang ibu yang tak bisa ditutupi dengan kosmetik apapun. Walaupun bicaranya sangat irit, saya bisa ikut merasakan kegalauan dan kesedihannya.

Kami kemudian mengundang bapak dan ibunya Fariz dalam suatu majelis yang biasa kami lakukan manakala kami akan melakukan penyampaian ‘bad news’ tentang seorang pasien. Di dalam majelis ini ada beberapa pihak yang hadir, yaitu dokter, dokter jaga, perawat, (kadang kalau diperlukan) psikolog dan tak kalah penting adalah ketua atau anggota paguyuban orangtua penderita kanker. Walaupun yang terakhir ini sekarang agak sulit bergabung karena hal teknis. Saya membuka pertemuan itu sekaligus menyampaikan hasil hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan.

“Pak dan Ibu Fariz, saya akan menyampaikan hasil kesimpulan diagnosis atas kondisi Fariz, bahwa adik Fariz menderita leukemia jenis Myeloid (LM).”

“Pada populasi anak-anak kita, memang jenis ini lebih sedikit dibanding dengan jenis Lymphoid Leukemia, berkisar di angka 20%,” lanjut saya.

“Apakah bapak ibu Fariz ada pertanyaan mengenai hal ini?”

Ibu Fariz terdiam. Bapak Fariz bertanya, “Apakah penyakit anak saya Fariz bisa diobati?”

“InsyaAllah bisa, Pak,” jawab saya.

Kemudian kami tunjukkan protokol pengobatan yang sudah kami siapkan untuk Fariz. Di dalam protokol itu terkandung macam atau jenis obat yang akan diberikan, kapan diberikan, dengan cara apa diberikan, apakah dengan suntik, dengan infus, obat telan atau obat yang diberikan melalui suntikan di tulang belakang.

Termasuk teknis pemberian obat juga kami sampaikan. Berapa lama obat ini diberikan. Kemungkinan efek samping obat yang bisa terjadi. Semuanya kami jelaskan. Tak lupa kami selalu tanyakan pemahaman bapak dan ibu Fariz. Mereka menyatakan bahwa paham terhadap penjelasan kami.

Tiba giliran bapak muda ini bertanya kepada kami, “Berapa persen kemungkinan anak saya berhasil dalam pengobatan ini?”

Kami sudah menduga dan tentu kami sudah mempunyai jawaban atas pertanyaan ini.

“Bapak dan ibu, kesembuhan — kesakitan, kehidupan — kematian yang punya hak adalah Allah semata.”

“Yang wajib kita lakukan adalah upaya untuk menjalani cara penyembuhan ini,” demikian prolog saya.

“Kalau ditanya chance, kemungkinan, probabilitas, ini adalah angka-angka yang tersaji atas hasil upaya kami yang telah dijalani. Ada banyak faktor yang berperan dalam tersajinya angka-angka itu.”

“Data kami berbicara bahwa di antara pasien pasien LM yang bisa kami sembuhkan di bawah lima puluh persen,” demikian jawab saya.

Tentu di bawah lima puluh persen ini bisa saja 48%, bisa saja 30% atau bahkan bisa saja 5%. Tapi saya tidak menyampaikan berapa angka pasti yang kita punyai.

Kedua orangtua Fariz ini tidak menampakkan kekagetannya. Saya paham, karena bapaknya adalah seseorang yang educated, seorang sarjana, pasti banyak referensi yang beliau baca. Apalagi ibunya yang seorang insan kesehatan yang sedikit banyak paham atas penyakit yang diderita oleh buah hatinya.

“Beri kami waktu untuk menentukan pengobatan ini,” pinta bapaknya.

“Silakan Pak….”

“Tapi jangan terlalu lama dalam membuat keputusan, karena penyakit ini sangat progresif,” jawab saya.

Hari berikutnya saya mendapati ruangan Fariz yang sudah kosong. Bapak ibunya memutuskan untuk tidak menempuh pengobatan seperti yang telah kami terangkan, yang saya duga karena chance-nya untuk sembuh tidak seperti yang beliau harapkan.

Saya berada di antara paham dan tidak paham dengan situasi seperti ini.

Saya memahami bahwa orangtua mempunyai hak untuk menentukan pengobatan, apapun pertimbangannya, apapun jenis dan macam pengobatannya. Yang saya kurang mengerti adalah penyakit ini bisa diobati, walaupun prosentase kesembuhan tidak/belum terlalu besar, tetapi pilihan ini tidak diambil, padahal kalau mengambil pilihan ini dan dengan berhusnudzon kepada Allah semoga si anak masuk dalam prosentase yang kecil ini, maka ada kemungkinan dia mendapatkan kesembuhan.

Allah Swt berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjing satu sama lain.” (Al-Hujurat:12)

Aku bersama prasangka hambaku dan Aku akan selalu bersamanya. Selama dia mengingat-Ku maka Aku akan mengingatnya di dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dengan begitu banyaknya, maka Aku akan mengingatnya lebih banyak darinya. Dan apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Dan apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari.” (Riwayat Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Tirmidzi).