Belajar “Kuda-Kuda” Lita’aarafuu dari Para Pendekar

Acara Akhirussanah SMK Global dan dilanjutkan Sarasehan Pencak Silat di Mentoro pada Senin, 16 Mei 2022 dipungkasi Pengajian Padhangmbulan pukul 20.00 WIB. Jamaah yang hadir sudah menyemut. Cak Majid, Mbak Yuli dan Lemut Samudro mengawalinya dengan Wirid Padhangmbulan dan Hasbunallah.

Foto: Hariyadi (Dok. Padhangmbulan)

Doa ya Rahim Irhamnaa, ya Hafidz Ihfadznaa, ya Hadi Ihdinaa dibaca bersama jamaah yang dipandu Cak Lutfi. Pada kesempatan itu Mbah Nun juga mengajak anak cucu membaca wirid ya Lathif sebanyak seribu kali atau sesuai kemampuan tanpa dibatasi jumlah. Kita semua memerlukan tetes kelembutan hati dari Asma Allah: Al-Lathif.

Malam itu lita’aarafuu menjadi “kuda-kuda” Pengajian Padhangmbulan. Kata yang terdapat dalam surat Al-Hujurat ayat 13 ditadaburi Mbah Nun melalui simulasi contoh yang sederhana. Di sana terdapat kata dzakarin wa untsa. Pemaknaan dua kata ini menjadi menarik karena Mbah Nun tidak membatasinya pada pengertian bahwa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan saja.

Dzakarin wa untsa diperas substansi maknanya menjadi potensi kelelakian dan keperempuanan. Kalau menyebut potensi maka kita bisa mengaplikasikannya bukan hanya pada konteks perjodohan suami istri saja. Potensi laki-laki dan perempuan juga ditemukan pada ruang lingkup perjodohan yang lebih luas. Misalnya, perjodohan uleg-uleg dan layah, petani dan sawah, gamelan dan gitar, rakyat dan pemerintah, dan seterusnya.

Bagaimana proses perjodohan itu berlangsung? Ya lita’aarafuu — kita saling belajar dan mengenali potensi kelelakian dan keperempuanan dalam setiap kenyataan yang terdapat dalam syu’ub dan qabail.

Pada konteks itu kehadiran Bapak Fajar Suharno dari Persatuan Gerak Badan Bangau Putih tengah menjalani lita’aarafu bersama pendekar pencak silat dari desa Brudu, Kwaron, dan Mentoro. Silat adalah silaturahim. Semua di-silat(urahim)-kan, semua di-lita’aarafuu-kan. Bapak-bapak KiaiKanjeng adalah contoh konkret lita’aarafuu dalam bermusik.

Kehadiran Bapak Fajar Suharno menambah kebugaran jamaah pada Pengajian Padhangmbulan. Tujuan belajar pencak silat bukan hanya untuk berkelahi. Ada manfaat 3 B, yakni bugar, bungah (gembira), dan bebrayan (pergaulan). Manfaat mempertahankan diri juga tidak terutama agar selamat dari serangan luar. Serangan yang tidak kalah berbahaya bisa datang dari dalam diri, seperti malas, sombong, kikir dan sebagainya.

Pencak silat memperkuat posisi kuda-kuda agar kita waspada menangkis serangan yang datang dari luar dan muncul dari dalam diri.

Pada penghujung acara Mbah Nun kembali menegaskan cara pandang multispektrum, yakni setiap apa pun sesungguhnya berada dalam lapisan-lapisan lingkaran yang saling mengandung sekaligus dikandung. Lingkaran itu berada dalam lingkaran yang lingkaran itu berada dalam lingkaran. Demikian seterusnya hingga kita menyadari bahwa Yang Maha Meliputi, wasi’a kursiyyuhussamaawati wal ardli, adalah Allah itu sendiri. (ASS/caknun.com)