Belajar Ekosofi Alam Kepada Leluhur

Gunung yang letaknya di dataran tinggi dan lautan di pesisir merupakan bagian yang tak terpisahkan. Keduanya merupakan bagian dari ekosistem yang membentuk pola alam untuk mengubah ‘dirinya’ sendiri ataupun dengan proses sosial masyarakat sekitar untuk melestarikan atau malah merusaknya yang kemudian sering disebut sebagai ‘bencana’, padahal itu ulah manusianya.

Photo by Ahmad Syahrir from Pexels

Ketersambungan hulu-hilir dieratkan oleh keberadaan sungai. Sungai berfungsi sebagai penyambung proses alamiah anugerah Tuhan untuk seluruh makhluk hidup-Nya serta sebagai sarana masyarakat berinteraksi dengan lainnya dari berbagai unsur dan strata untuk berkegiatan ekonomi dan sosial. Interaksi keindahan inilah yang terus diwariskan oleh leluhur. Tembung laksana tembang, sikap dan gestur laksana tarian.

Sungai sebagai pusat peradaban sangat lekat dalam kebudayaan kita. Menurut Pak Manu J. Widyaseputra, ada 3 elemen penting pendukung kemakmuran atau kejayaan peradaban, yaitu gunung, hutan, dan sungai/lautan.

Pada peradaban sungai terdapat Delta Asrama. Semacam tempat pendidikan atau pendadaran ratusan bidang keilmuan yang melahirkan kebrahmanaan ratusan cabang keilmuan. Jaringan-jaringan kebrahmanaan tersebut yang nantinya akan membentuk jaringan ekosofis yaitu persambungan antara satu dengan lainnya.

Jelas berbeda dengan keadaan sekarang. Kejayaan peradaban dibangun dengan memperkosa hutan, gunung, dan sungai menjadi ‘kejayaan palsu’.

Besarnya perhatian para leluhur akan kesadaran lingkungan dibuktikan dengan adanya warisan budaya dan prosesi spiritual yang melekat dalam kehidupan sehari-hari yang nantinya bermuara pada ucap syukur terhadap sang Pencipta.

Dalam masyarakat dataran tinggi, dikenal yang namanya sedekah gunung atau ngasa. Kemudian ada sedekah bumi di masyarakat dataran rendah dan sedekah laut atau nyadran di pesisir.

Untuk upaya mencapai keseimbangan lingkungan mereka membagi daerah ke dalam beberapa wilayah, yaitu (1) Wilayah larangan yaitu sebuah daerah atau tempat yang tidak boleh seorang pun masuk ke wilayah tersebut. (2) Wilayah tutupan yaitu wilayah yang boleh di-rumat dan dirawat oleh manusia tetapi hasilnya tidak boleh diambil. (3) Wilayah bukaan yaitu sebuah wilayah konsumsi, di mana diperbolehkan mengambil hasil produksinya untuk kebutuhan manusia.

Selain itu ada prosesi ‘menyambungkan’ gunung dan lautan dengan sebutan ‘Ngawor’. Adalah sebuah prosesi penyatuan air dari hulu (asal /wiwitan/gunung/kepala), tengah (awak/badan) dan hilir (muara/sagara/dampal) sebagai simbol atau lambang kembalinya dan menyatunya tatanan semesta (Bhuwana) yang bertujuan memelihara air (tirta) sebagai sumber hehidupan dan kesejahtraan.

Kesadaran kembali akan pentingnya ekosistem hulu-hilir ini harus terus disampaikan kepada generasi saat ini dan akan datang, agar tercipta masyarakat beradab.

Inilah kekuatan untuk membangun peradaban saat ini dan akan datang dengan menggali masa silam.

Sungai sekarang sudah tidak menjadi halaman rumah, bangunan tidak lagi menghadap sungai, semua membelakangi dan difungsikan sebagai tempat membuang apa saja yang ada di dapur kita, menjadi tempat sampah terpanjang di dunia. Bagaimana akan membangun sebuah peradaban, sedangkan yang terjadi adalah menuju kemunduran.

Pun begitu dengan pola tata ruang pemerintah, dengan hadirnya Omnibuslaw yang justru mengancam kelestarian. Pengampu kebijakan sudah seharusnya menjadikan alam menjadi subjek ‘pembangunan’ bukan menjadi objek yang terus dihabisi untuk serakah gerombolan manusia.

Kelestarian bukan hanya milik dan tanggung jawab sekelompok masyarakat, tetapi ini adalah bentuk kesadaran bersama seluruh lapisan untuk berperan serta dalam wilayah masing-masing guna mencapai tujuan bersama, yaitu alam lestari.

Kelestarian alam bagi manusia seharusnya menjadi hal wajib, karena manusia adalah khalifah. Allah Swt. mengutus manusia untuk menjadi ‘wakil’ atau ‘pemimpin’ di bumi sehingga setiap manusia harus memiliki kemampuan mengelola alam semesta.