Aspirasi Mewujudkan Kurikulum Maiyah

Beberapa bulan yang lalu saat Mocopat Syafaat, 17 Juli 2022, Mbah Nun mengutarakan pandangan sekaligus pertanyaan mengenai apa sih hasil kita bermaiyah selama ini. Penekanan dari statement Mbah Nun itu menurut interpretasi saya lebih kepada wujud (output) yang konkret, bisa diukur dan dirumuskan dari proses bermaiyah selama ini. Seperti analogi yang juga diutarakan Mbah Nun dari aspirasi rembug rasan jamaah Maiyah Padhangmbulan sebelumnya. Jika kita menanam jagung maka akan tumbuh jagung, jika menanam partai politik maka akan berbuah kekuasaan, menanam perusahaan akan berbuah keuntungan, bathi secara materil. Lantas jika menanam maiyah maka akan uwoh, berbuah apa?

Mocopat Syafaat 17 Juli 2022. Foto: Adin (Dok. Progress).

Pertanyaan Mbah Nun itu bagi saya cukup menantang. Sebab jamaah Maiyah dipantik untuk menjawab mengenai legacy Maiyah. Tetapi bagaimanakah caranya membangun legacy padahal Maiyah sendiri tidak diakui, tidak dianggap eksistensinya oleh dunia. Maiyah bahkan tidak masuk dalam kategori overrated-underrated sehingga hampir mustahil menjadi viral eksistensinya. Maiyah adalah entitas baru yang belum ada preseden sebelumnya. Singkat kata Maiyah berada di luar pengkategorian apapun.

Meskipun berada di luar perhitungan dan kategori apapun di dunia, bukan berarti Maiyah tidak mempunyai sesuatu yang konkret meskipun bukan dalam wujud kebendaan. Sesuatu yang konkret itu, katakanlah cara berpikir ala Maiyah yang sebenarnya sudah ada di dalam kesadaran Maiyah itu sendiri. Tentu saja setelah bertahun berproses sinau bareng dan maiyahan, jika ditelusuri, diukur, dan diteliti lebih mendalam maka akan ketemu kecenderungan dari pola-pola, rumusan hingga paradigma yang merupakan cara berpikir yang khas Maiyah, sesuatu yang idiomatik Maiyah.

Maka tantangannya adalah bagaimana menginventarisir hingga merumuskan pola-pola, puzzle dari cara berpikir maiyah menjadi sesuatu yang sistemik. Merumuskan cara berpikir maiyah itu menjadi padatan kurikulum berupa sistem rencana yang aplikatif sesuai tujuan yang diinginkan dan dipahami secara lebih umum. Bagaimana mengkontekstualkan cara berpikir Maiyah yang holistik dan siklikal ke dalam realitas yang nisbi tanpa mendistorsi maknanya.

Lantas tantangan berikutnya, setelah mem-breakdown paradigma Maiyah, adalah bagaimana berunding dan berkompromi dengan realitas yang tidak ideal bahkan cenderung banal. Saya pikir di Maiyah banyak sekali wacana keilmuan praktis, ilmu-ilmu kehidupan yang seharusnya bisa diaplikasikan ke dalam realitas keseharian. Sebenarnya, kita jamaah Maiyah sudah mendapatkan berkah sangu berupa bekal ilmu-ilmu itu sedemikian rupa banyaknya.

Kita, jamaah Maiyah, telah memetik berkah ilmu-ilmu kehidupan di kebun Maiyah yang subur dan berlimpah, kita memakannya sehingga menjadi nutrisi dan gizi yang menyehatkan tubuh kita. Maka sudah semestinya, seyogyanya, sepantasnya, buah-buah ilmu yang kita petik di kebun Maiyah itu, menumbuhkan ghirrah untuk memulai dan lebih giat nandur, menebarkan benih nilai-nilai maiyah di kebun-kebun lain, di gelanggang kehidupan masyarakat umum dalam skala yang lebih luas. Sudah saatnya jamaah Maiyah membuka “perkebunan” nilai-nilai dan ilmu sesuai dengan inspirasi dan nomenklatur Maiyah.

***

Tentu saja setinggi apapun wacana keilmuan, seluas apapun spektrumnya, jika tidak diwujudkan dalam tindakan, maka ya tetap menjadi wacana keilmuan. Bagaimanapun akan tetap berlaku adagium ngelmu iku kelakone kanthi laku. Ilmu atau ide-ide di dalam hati dan pikiran hanya akan menjadi kenyataan jika diwujudkan melalui tindakan nyata.

Jika Tuhan sebagai eksistensi yang mutlak cukup berfirman, kunfayakun, maka kita sebagai makhluk yang nisbi niscaya harus mewujudkan keinginan, cita-cita, kehendak melalui proses ikhtiar, serangkaian tindakan, laku prihatin menghadapi rintangan dalam realitas yang tidak mudah. Mengutip apa yang sering diwedar Mbah Nun bahwa kita mentok hanya berada di dalam wilayah semoga. Tetapi bukankah Tuhan tidak pernah menuntut hasil. Ia tidak menuntut keharusan akan keberhasilan tetapi sejauhmana kita berjuang dan berusaha semaksimal mungkin sehingga ruang doa kepada-Nya akan tetap terlantun penuh harap dari hamba-Nya.