Zaman yang Majunya ke Belakang

Foto: Adin

Kendati berlangsung dengan protokol kesehatan yang ketat dan undangan yang terbatas, Lauching Mushaf Maiyah Padhangmbulan pada Rabu, 7 Juli 2021 berjalan tanpa kendala. Halaman depan rumah Mbah Fuad menjadi saksi mengalirnya rasa syukur kita semua.

Rasa syukur ini perlu ditadabburi baik sebagai ungkapan syukur itu sendiri maupun sebagai internalisasi personal agar tidak kuwalat dengan limpahan kasih sayang Allah.

Mengapa mentadabburi, tidak menafsiri atau menakwili? Kita ini orang awam. Tidak punya bekal ilmu yang ndakik-ndakik. Ilmu Nahwu-Sharaf gak entos. Ilmu Balaghah tidak mudeng. Ilmu Mantiq mboten becus. Hermeneutika takwil malah terasa seperti makanan yang asing di lidah kita yang awam. Apalagi mengerti nuzulul ayat, muhkamat mutasyabihat, khas dan ‘aam, nasikh mansukh, muthlaq muqayyad, mujmal mufassar. Tangeh lamun pokoknya. Hafal Al-Qur’an pun paling pol surat An-Naas karena sering dibaca saat lewat kuburan.

Sedangkan tafsir dan takwil menyaratkan semua ilmu yang kita awam sama sekali. Dalam strata akademik yang ngelip sampai sundul langit kita berada di tangga paling bawah. “Kita ini umat protolan. Islam ndek-ndekan,” kata Cak Priyo almarhum.

Menjadi umat protolan ini pun kadang masih ditakut-takuti. “Awas, jangan menafsirkan Al-Qur’an seenaknya!” Mana mungkin umat protolan menafsirkan Al-Qur’an. Lagi pula perangkat ilmu apa yang akan dipakai? Ngaji turutan saja belum khatam. Kalah tanding hafalan juz Amma dengan anak PAUD.

Untungnya, nilai kualitas manusia tidak digantungkan pada prestasi akademik, jabatan kehormatan, pangkat kedudukan, gelar sosial keagamaan, melainkan pada nilai manfaat yang diberikan kepada sesama. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia.

Yang fasih membaca Al-Qur’an silakan menjadi imam di masjid. Yang agak fasih tapi ngajinya gratul-gratul monggo jadi muazin. Yang tidak fasih ngaji, yang melafazkan adzan masih terbalik-balik, ambil fungsi melantunkan puji-pujian. Bagaimana “nasib” jamaah protolan yang tidak fasih mengaji, tidak hafal lafaz adzan, tidak tatag pujian karena suaranya lebih cocok jadi kernet bus?

Kalau memakai kualifikasi standar kompetensi akademik jamaah protolan akan tersingkir dari fungsi struktur masjid. Mereka tidak lagi dekat apalagi akrab dengan masjid. Padahal masjid adalah rumah Allah — bukan rumah kaum intelektual, kiai, ulama, ahli baca kitab kuning.

Harapan kita ada pada sikap tadabbur. Cinta kepada masjid, hati selalu bergantung pada masjid, rumah kesadaran kita beralamat di masjid.

Kendati tidak memiliki kualifikasi kefasihan mengaji, kita bisa menjadi bagian dari rumah Allah dengan memberi manfaat, misalnya, menata sandal jamaah, mengisi bak kamar mandi, atau sejumlah aktivitas sederhana lainnya sesuai kemampuan. Adapun amal baik siapa di antara para pemberi manfaat yang akan diterima Allah? Kita berada di garis mudah-mudahan. Biar Allah sendiri yang menjadi Juri Penilainya.

Ternyata ada seseorang yang setiap hari suka rela membersihkan kamar mandi di masjid. Apa motivasinya? “Saya membersihkan kamar mandi dan tempat kencing yang kotor supaya hati saya yang lebih kotor dari tempat ini dibersihkan Allah.”

Demikian pula mentadabburi Al-Qur’an: modalnya cinta, merasa yakin, bahagia, dan dekat dengan Al-Qur’an. Kemampuan apalagi yang digunakan orang awam untuk mengakrabi Al-Qur’an selain melalui kedekatan rasa, kejujuran pikiran, keikhlasan kalbu?

Susunan redaksional surat Muhammad: 24, mengapa menggunakan diksi “Al-Qur’an”: afalaa yatadabbaruuna al-Qur’an, tidak misalnya, afalaa yatadabbaruuna al-Kitab, afalaa yatadabbaruuna al-Furqaan? Adakah keterkaitan makna antara pilihan diksi yang digunakan dan diksi yang tidak digunakan? Sama-sama memiliki arti “membawa”, mengapa bahasa Jawa mengungkapkannya melalui ekspresi linguistik yang berbeda: nyunggi, ngempit, mikul, nyengkiwing, nengguluk dan seterusnya?

Pertanyaan sederhana ini semoga masuk kategori maca Al-Qur’an angen-angen sak maknane. Kalau memiliki tenaga untuk mempelajari dan mendalaminya silakan kita mengaji ilmu tafsir untuk mengumpulkan pengetahuan sebagai bahan internalisasi tadabbur. Jadi, tadabbur tidak menafikan tafsir, dan tafsir dihidupi oleh spirit tadabbur. Output-nya adalah Al-Qur’an menjadi obat hati dan perilaku kita menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Tadabbur menjadi thariqah yang mudah dijangkau oleh siapa pun karena ia berlaku dan bermanfaat secara personal. Sedangkan personalitas setiap manusia tidak ada duanya alias satu-satunya di dunia. Maka, Al-Qur’an yang dinyatakan shalih likulli zamanin wa makaanin — sesuai dengan setiap zaman dan tempat — berarti sesuai juga dengan personalitas manusia yang menghuni setiap zaman dan fakta geografi kehidupan.

Ayat Iqra’ bisa ditransformasi oleh para nelayan yang tinggal di Bajulmati, dusun pesisir pantai selatan, Kec. Gedangan Kab. Malang. Ke-shalih-an Al-Qur’an memantapkan rasa syukur para nelayan kepada Allah Swt. atas kekayaan laut yang melimpah. Syukur itu diungkapkan melalui petik laut yang diadakan setiap tahun. Tradisi yang tidak ditemui di Arab Saudi.

Berhubung setiap zaman dan tempat memiliki persoalan, problematika, serta kegelapannya masing-masing, maka Al-Qur’an juga shalih, nyocoki, muthabaqah untuk menjadi hudan, Al-Kitab, Al-Furqan bagi manusia. Dinamika spirit tadabbur pun mengikuti dinamika zaman, problematika serta kompleksitas personalitas antar manusia.

Sayangnya, manusia mengunci hatinya sehingga memuja kebenaran subjektivisme personal, kelompok, jamaah, parpol dan golongannya masing-masing. Akibatnya, orang-orang kembali ke belakang sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka. (Q.S. Muhammad: 25).

Ternyata kita hidup pada zaman yang kelihatannya maju tapi aslinya mundur ke belakang.

Jagalan, 9 Juli 2021.

Lainnya