Yai Muzammil Gula yang Memang Manis

Bangbang Wetan, Maret 2019.
DOk. Bangbang Wetan.

Gula berbeda dengan manis. Gula bisa manis, bisa tidak manis. Gula tidak pasti manis, juga tidak bisa dianggap pasti tidak manis. Yang manis pasti manis. Tapi yang manis belum tentu gula dan tidak harus gula.

Gula itu nama, sedangkan manis itu rasa. Untuk mengetahui gula itu manis bukan dilihat dari gulanya tapi rasanya. Maka dia harus dicicipi. Pepatah lama mengatakan yang berwarna kuning tidak pasti emas. Begitu pula dengan gula yang belum tentu manis.

Sesuatu benda butiran-butiran kecil putih bisa dibentuk persis seperti gula, kemudian diberi label nama gula, cap gula, gelar gula, perkumpulan gula, padahal setelah dicicipi ternyata narkoba yang laknat dan durjana. Adalah rasa asin, pahit, kecut, serta tak pernah manis sama sekali.

Seperti parade karnaval. Siapa saja bisa dibikin menjadi apa saja. Ada yang pejuang, guru, tentara, petani, pejabat, anggota dewan yang mewakili rakyat, hingga presiden. Meskipun aslinya mereka bukan pejuang, melainkan hanya didandani, disuruh pakai baju seperti skenario karnaval.

Adapun Yai Muzammil, lihatlah! Beliau sungguh-sungguh gula yang manis. Bukan gula yang tak manis. Keluasan ilmu agamanya luar biasa, ta’dhim dan tawadhu’nya sungguh tak terkira. Lihatlah kembali rekaman-rekaman beliau di YouTube ketika dengan Cak Nun.

Begitu pandai dan cerdasnya sekaligus tawadhu’nya beliau dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan Cak Nun tatkala Cak Nun membutuhkan berbagai macam hal yang berkenaan dengan Qur’an, Fiqih, dan lain-lain yang dikontekstualisasikan dengan persoalan-persoalan kekinian zaman.

Lihatlah YouTube di kanal CakNun.com yang berjudul Sanad Ilmu Menurut Kyai dan “Penyanyi”, Sanad Kualitatif, Qur’an Bukan Hanya Untuk Muslim dan Ulama, Huruf dalam Al-Qur’an, Kecenderungan Penyempitan Makna Al-Qur’an, dan lain-lain.

Dalam sebuah YouTube yang kebetulan saya temui, dengan penuh rendah hati Yai Muzammil menyampaikan: “Cak Nun yang kita kenal ini (adalah) kiai yang sebenarnya. Kalau seperti saya ini (adalah) kiai imitasi. Makanya saya pakai serban dan sebagainya supaya kayak kiai. Jadi untuk membedakan yang sebenarnya dan yang imitasi biasanya dipoles sedemikian rupa supaya kelihatan sungguhan. Kalau yang sungguhan tidak perlu dipoles-poles…”

Dengan saya yang sekadar kenal saja dan memang beliau telah hapal wajah saya karena sudah beberapa kali ketemu di Maiyahan, ketika beliau hadir di Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di Blokagung Banyuwangi, beliau ini dengan ringannya menitipkan handphonenya ke saya tatkala beliau mau bersih-bersih di kamar mandi masjid.

Juga tatkala bertemu beliau sebelum naik ke Bangbang Wetan di Balai Pemuda Surabaya, tahun 2017, saat itu Cak Nun tidak hadir pas acara ke luar negeri, saya ditawari naik mobil bareng beliau pulangnya, saya diantar ke Stasiun Gubeng, beliau ke Madura sebelum ke Yogya. Nah kunci mobilnya beliau dengan ringannya pula dititipkan ke saya lalu beliau bersiap-siap naik ke Bangbang Wetan.

Ya Allah, Yai Muzammil sungguh seorang guru berhati sahabat yang sangat hangat, yang kepergiannya sangat begitu cepat. Kami semua masih membutuhkanmu Yai. Akuilah kami sebagai sahabatmu Yai. Bincangkanlah yang indah-indah tentang kami di sana, agar kami yang kotor ini menjadi beres tatkala para malaikat kelak menginterogasi kehidupan kami. Bilangkan bahwa kami pecinta Allah dan Rasulullah, Yai.

Allahummaghfir lahu warhamhu wa afihi wa’fu anhu. Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.

Banyuwangi, 29 Mei 2021

Lainnya