Ya Emha… Ya Muhammad!

Foto: Adin (Dok. Progress)

Saya benar-benar dibuat jatuh cinta pada Markesot, tokoh yang ditulis Mbah Nun pada buku Markesot Bertutur. Seandainya saya lahir pada zaman Markesot, mungkin saya akan tergila-gila pada sosok Markesot, lalu berguru kepadanya.

Seringkali saya tertawa geli membaca kisah-kisah Markesot pada lembaran buku karya Mbah Nun ini. Ada kisah lugu, lucu, kocak, satir, kesejatian hidup dan kesederhanaan, pun tentang kemerdekaan berpikir. Seolah Mbah Nun sedang menunjukkan bahwa ada orang yang sangat authentic di muka bumi ini yang diciptakan Tuhan untuk mengajari manusia-manusia modern tentang bagaimana menjalani kehidupan sejati, sebagaimana harusnya tugas seorang Khalifah itu sendiri, being a human being!

Dan lebih luar biasanya lagi, kok ya Allah menciptakan Emha Ainun Nadjib yang asalnya dari Desa Menturo Jombang Jawa Timur, diperjalankan Allah dari timur ke barat, memiliki miliaran pengalaman extraordinary, lalu sekarang kita sebagai anak cucunya boleh berbangga dan meneguk manis buah yang beliau tanam tanpa ikut repot. Melalui tulisan beliau, justru saya dapat melihat Mbah Nun jauh lebih dekat dibanding ketika saya nonton beliau di video-video Youtube apalagi dari video colongan yang sengaja memfitnah maupun memutar balik fakta tentang kesejatian diri Mbah Nun.

Pilihan kata dan rangkaian kalimat yang dipilih Mbah Nun pada setiap alur cerita dalam buku ini, bahkan pada karya buku yang lain seperti Allah Tidak Cerewet Seperti Kita, menurut pendapat saya sangat istimewa. Saya tidak banyak membaca buku-buku serius, tapi tulisan-tulisan Mbah Nun yang serius itu bisa dibawakan dengan sangat mengena seolah kita sedang ngobrol santai berhadap-hadapan dengan beliau. Renyah seperti sedang menikmati jajanan Stroopwafel khas Belanda, manis, legit dan mengenyangkan secara pemikiran! Salah satu contoh kalimat yang membuat saya tertawa terbahak-bahak, ketika Markesot diserang sakit mencret, Mbah Nun menuliskan bahwa apabila imunitas dibuka selebar-lebarnya, maka banyak penyakit yang ngisi formulir, mendaftar untuk menghancurkan tubuh kita! Saya nggak habis pikir, kok yo iso punya ide menganalogikan penyakit seperti manusia, bisa ngisi formulir pendaftaran, layaknya manusia-manusia rakus mengisi formulir rebutan dana sosial meski dirinya tergolong mampu mencukupi diri dan keluarganya.

Ya Allah… Mbah Nun… Oh Mbah Nun! Tuhan benar-benar Maha Rahman dan Rahim, menganugerahkan Indonesia sosok Mbah Nun yang luar biasa, istimewa, bijzonder istilah Bahasa Belanda untuk sesuatu yang dibuat sangat khusus, limited edition, dan tiada duanya! Kalau Anda berkunjung ke rumah orang Belanda, kemudian mereka memberi anda sesuatu yang tidak biasa mereka masak atau makan setiap hari, tapi khusus dibuat dan disajikan ketika itu hanya untuk Anda, itulah istilah bijzonder dimaksud. Mbah Nun yang istimewa sayangnya generasi zaman sekarang yang ngakunya arek-arek Maiyah justru tidak menghormati beliau sebagai seorang Ayah, Mbah, Opa, Guru tapi malah nyuwun sewu, kencing di atas kepala beliau, dengan cara menyebarluaskan video maupun memotong perkataan-perkataan beliau dan membenturkan dengan tokoh-tokoh lain untuk kepentingan pribadi juga adu domba.

Saya tentu sangat sedih melihat perkembangan sosial media sekarang, tidak hanya yang menimpa Mbah Nun tapi juga para guru dan alim ulama lain. Semoga setelah tulisan Mbah Nun leren Maiyahan membuat teman-teman Maiyah sadar apa yang dirasakan Mbah Nun. Beliau adalah permata Nusantara yang sangat berharga, mari kita juga saling menjaga dan menghormati Mbah Nun seperti orang tua kita sendiri.

Profil Mbah Nun bagi saya pribadi adalah “representative”-nya Kanjeng Nabi Muhammad, sallahu alaihi wassalam yang mampu memberikan contoh, tauladan, serta mampu ngudar sosok Rasulullah secara Kenabian, Kerasulan juga sisi Manusianya. Mencintai Kanjeng Rasul berarti meneladani ketiga aspek tersebut lalu berusaha menerapkannya dalam kesatuan yang utuh pada kehidupan kita, bukan hanya tentang boleh menikahi empat perempuan sebagai alasan ladang amal mengikuti sunnah Rasul saja, tapi kemudian lupa menerapkan keadilan, kasih sayang, kedermawanan, kesederhanaan, kecintaan kepada sesama, dan masih banyak lagi contoh-contoh keagungan akhlaq Rasulullah yang mungkin sekarang sudah dilupakan.

Melalui sosok Mbah Nun, saya seolah diperlihatkan Tuhan secara tidak langsung tentang bagaimana mencontohi Kanjeng Rasulullah. Kalau Rasulullah itu dikatakan sebagai Al-Qur’an yang berjalan, maka Mbah Nun adalah glossary-nya kehidupan Rasulullah. Nah itu yang saya rasa hilang atau bahkan susah ditemui dari kebanyakan pemimpin Negeri ini. Namun jangan lantas berpikir saya mengkultuskan Mbah Nun loh ya… Nee Nee Nee… Helemaal Nee..!! Nooit!!! Saya mencintai Mbah Nun, dan dari Mbah Nun saya diajari mencintai Kanjeng Rasulullah, melihat sosok Muhammad yang kekasih Allah, sekaligus manusia istimewa itu secara personal. Mbah Nun membuat saya melihat Nabi Muhammad lebih dekat sebagai sosok manusia, hamba Allah, ayah, pemimpin, entrepreneur, bagian dari sebuah society, bagaimana seharusnya beradab, beretika kepada Kanjeng Rasulullah, begitu pula bagaimana kita seharusnya berunggah-ungguh kepada Mbah Nun sebagai orang tua, maupun kepada sesama manusia itu sendiri.

Saya sangat mengerti dan memaklumi keputusan Mbah Nun untuk “mengingkari” orang-orang yang mendzolimi beliau, lalu memutuskan untuk Leren Maiyahan, meski berat sekali bagi saya yang jauh di rantau harus kehilangan nasihat beliau dari layar peryutuban, apalagi kalau sampai Mbah Nun berhenti menulis di website caknundotcom, saya akan jadi salah satu orang yang patah hati, kehilangan Guru Spiritual sekaligus Guru Sastra. Tapi saya juga sadar, bahwa saya tidak boleh egois, Mbah Nun bukan hanya milik anak-cucu maiyah, Mbah Nun adalah milik keluarga beliau, juga milik Tuhan. Mungkin setelah selama ini sibuk mengurusi anak-cucunya di Maiyah, saatnya Mbah Nun jeda sejenak, seperti Markesot yang tiba-tiba menghilang di Krian untuk menyepi dan bertapa.

Mbah Nun, saya akan sangat merindukan panjenengan, mbok kalau bisa dinego ya Maiyahan sedikit-sedikit dengan Mas Sabrang di Kadipiro, biar kami yang rindu tetap bisa mendengar nasihat-nasihat Mbah melalui kanal resmi CakNundotcom. Kalaupun tidak bisa, buku Markesot ini yang akan saya baca berulang kali untuk mengobati rindu kepada Mbah Nun.

Ya EMHA… Ya Muhammad… Keduanya sama-sama memiliki huruf M, keduanya sama-sama menjadi sosok penting dalam hidup saya, tapi bukan berarti keduanya adalah sama, begitu kira-kira ajaran Cak Markesot… Ya Emha… Ya Markesot… Ya Muhammad Rasulullah.

Almere, 16 Juli 2021.

Lainnya