Wirid Orang Tertindas

Ada satu mitos yang awet dipercaya banyak orang. Bahkan mitos demikian kerap direproduksi untuk kemudian disematkan kepada orang lain. Mitos ini berupa kemiskinan seseorang diakibatkan karena kemalasan. Sebuah ungkapan yang bukan hanya berbahaya, melainkan juga melupakan satu hal. Faktor makro adanya pemiskinan. Dalam teori ekonomi disebut sebagai kemiskinan struktural.

Stigma orang malas membuat miskin telah bercokol semenjak seabad-abad silam. Di era kolonialisme Hindia-Belanda, pandangan miring terhadap bumiputra seperti itu beredar luas. Pada tahun 1977, Syed Hussein Alatas, menampik citra tersebut dalam bukunya The Myth of the Lazy Native (Mitos Pribumi Malas).

Citra pemalas yang disebarkan para orientalis Barat, baik melalui ungkapan langsung maupun produksi pengetahuan lewat brosur, diproduksi kolonialis untuk melegitimasi eksploitasi sumber daya pribumi. Alatas mencatat cakupan eksploitasinya yang tidak sekadar di Nusantara, tetapi juga negara yang sekarang disebut sebagai Filipina maupun Malaysia.

Kemalasan pribumi waktu itu sesungguhnya juga merupakan wujud perlawanan. Tatkala sistem tanam paksa dimulai sejak tahun 1830, penduduk jelas merasa dirugikan karena pendekatan yang ditandaskan penguasa kolonial cenderung bersifat koersif. Kekerasan acap kali mewarnai prakik tanam paksa, sehingga korban yang berjatuhan setiap hari sukar dihitung dengan jari.

Kolonialisme, kendati kemerdekaan telah diteken setiap negara, bukan menjamin praktik berikut efeknya juga berakhir. Pada tahun 1971 di Malaysia terbit brosur Revolusi Mental yang diluncurkan United Malays National Organisation (UMNO). Alatas mengatakan melalui brosur tersebut citra kemalasan masih dipertahankan.

Stigma masyarakat Melayu sebagai orang yang irasional, cenderung mengutamakan perasaan, kurang berani memperjuangkan kebenaran, ingin cepat kaya tapi enggan berusaha, sampai bersifat fatalis dituangkan dalam brosur itu.

Nama brosur ini pun tampaknya tak asing bagi masyarakat Indonesia sekarang. Walaupun kini ia menjadi jargon di samping “kerja, kerja, kerja” nama Revolusi Mental telah terlebih dahulu dipakai di Malaysia dengan riwayat terbit yang amat ganjil.

Tak ada hal baru di bawah matahari. Jargon “kerja, kerja, kerja” juga demikian. Di masa kolonialisme Jepang yang konon seumur jagung itu, terdapat Mars Romusha (Barisan Pekerja) pada tahun 1943. Salah satu penggalan liriknya:

“Bekerdja… bekerdja… bekerdja…//Tenaga semoea soedah bersatoe//Mesin pabrik berpoetar teroes//Paloe godam soeara gemoeroeh//Semoea bekerdja riang gembira//Tenaga pekerdja tegoeh bersatoe//Goegoer hantjoer kaoem sekoetoe.

Lagu propaganda di zaman Nippon itu didendangkan oleh Njonja Roekiah dan Toean Sarifin dengan lirik serta musik dari Keimin Bunka Shidoso (Organisasi Kebudayaan Masa Kependudukan Jepang). Propaganda melalui mars semacam ini memperlihatkan betapa efektifnya ketika ia didengungkan untuk memobilisasi sekaligus menarik simpati rakyat. Ia sebetulnya menjadi bagian dari gerakan propaganda 3A yang inisiatornya Shimizu Hitoshi (pejabat Sendenbu).

Azia no hikari Nippon
Azia no botai Nippon
Azia no shidōsya Nippon

Jepang Cahaya Asia
Jepang Pelindung Asia
Jepang Pemimpin Asia

Peristiwa sejarah di atas memperlihatkan bahwa penindasan, kekerasan, bahkan praktik apa pun yang menginduk pada kolonialisme terus berlangsung di negeri ini. Meskipun menunjukkan kekhasan tertentu di setiap periode zaman, praktik tersebut terus tereproduksi dengan berbagai variasinya. Namun, semua itu seakan memosisikan rakyat atau masyarakat sebagai pihak yang pasif, diam, narimo ing pandum.

Benarkah demikian?

Dalam wirid Orang Tertindas yang sejak akhir 90-an dinyanyikan sekaligus dikenalkan Cak Nun dan KiaiKanjeng, posisi rakyat menjadi subjek atau pelaku yang aktif. Salah satu ilmu di Maiyah menyebutnya sebagai pihak yang berdaulat atas dirinya sendiri serta keadaan yang sedang dialaminya.

Sekalipun rakyat berada di kungkungan kemiskinan, penindasan, dan penyingkiran yang bermuara dari akar struktural, ia menyadari atas ketidakadilan tersebut dengan menegaskan kondisinya, seraya menyerahkan sepenuhnya kepada Sang Empunya Kehidupan.

Karena Mereka Mencelakakan Kami
Karena Mereka Memiskinkan Kami
Karena Mereka Mencurangi Kami
Karena Mereka Membenci
Karena Mereka Kami Menyakiti Kami
Karena Mereka Menyingkirkan Kami
Karena Mereka Menggelapkan Hak Hak Kami
Karena Mereka Menfitnah Kami
Karena Mereka Membodohi Kami
Karena Mereka Merampok Kami

Pada bait pertama jelas menunjukkan kesadaran rakyat terhadap posisinya di hadapan penguasa. Kata “kami” dan “mereka” mengukuhkan posisi sosialnya kepada penguasa korup yang membuat serta mengondisikan keadaan sedemikian rupa sehingga melahirkan permasalahan struktural. Diksi “mencelakakan”, “memiskinkan”, “mencurangi”, “merampok”, dan seterusnya terkesan gamblang, tanpa tedeng aling-aling. Sebuah ungkapan yang denotatif. Tak dibuat-buat.

Maka Engkaulah Pahlawan Derita Kami
Engkaulah Penolong Kerja Keras Kami
Engkaulah Juragan Nafkah Kami
Engkaulah Penyembuh Sakit Kami
Engkaulah Pencahaya Rabun Mata Kami
Engkaulah Penemu Muatan Qolbu Kami
Engkaulah Ya Alloh Kekasih Nurani
Engkaulah Tuan Rumah Penampung Sunyi Hati Kami
Engkaulah Penghibur Sengsara Perasaan Kami
Engkaulah Maha Guru Kami
Engkaulah Maha Panglima Kami
Engkau Tahu Pedang Kami Dirampas, Maka Jadikanlah Kami PedangMu

Baik kedua menggambarkan sangkan dan paran manusia yang apa pun permasalahan yang sedang dialami — meski berakar secara struktural — tetaplah hanya Dia yang dapat menuntaskan. Bukan berarti lirik ini mengandung sikap pesimistis, melainkan karut-marut sampai tensi masalah yang dihadapi semakin runyam karena kompleksitasnya.

Di Maiyah solusi atas permasalahan jelas diwujudkan dengan Solusi Segitiga Cinta, yakni Allah merupakan faktor primer bersama Kanjeng Nabi dalam mengupayakan solusi atas segala permasalahan. Ia berbeda dengan Solusi Bulatan yang Tuhan diposisikan sebagai faktor sekunder, bahkan ironisnya sebatas dianggap hanya sebagai pelengkap penderita atas masalah manusia.

Wirid Orang Tertindas ini kemudian dipungkasi dengan ungkapan mesra sang hamba kepada Tuhan. Lirik yang kalau dinikmati sendiri, berada di situasi suwung, maka akan membawa energi bagi penikmatnya. Seperti berikut:

Liannahum khodzaluunii, fakun yaa ‘aziizu naashirii
Liannahum abghodhuunii, fakun yaa waduudu habiibii
Liannahum khoda’uunii, fakun yaa ‘aadlu hakamii
Liannahum haromuunii, fakun yaa basithu rooziqii
Liannahum amrodhuunii, fakun yaa syaafii mulathifii
Liannahum thoroduuni, fa aminii ya Mannaanu aamiinii
Liannahum fatanuunii, fakun yaa ro’uuf maasih dumu’ii
Auqo’unii fii dhulumaatin, fa minka yaa nuur altamisu nuuri
Liannahum jaahiluu wa jahhaluu fakun yaa ‘Aliimu Mu’allimii

Karena mereka mencelakakanku, maka wahai Maha Perkasa Engkaulah Penolongku,
Karena mereka membenciku, maka wahai Maha Pembela Engkaulah Kekasihku,
Karena mereka mencurangiku, maka wahai Maha Pengadil Engkaulah Hakimku,
Karena mereka memiskinkanku, maka wahai Maha Penghampar keluasan Engkaulah Pemberi Rizqiku,
Karena mereka menyakitiku, maka wahai Maha Penawar Engkaulah Penyembuhku,
Karena mereka menyingkirkanku, maka wahai Maha Penabur Nikmat Engkaulah Pengamanku,
Karena mereka memfitnahku, maka wahai Pencipta keindahan Engkaulah Penghiburku,
Mereka menyeretku dalam kegelapan, maka dari-Mu lah wahai Cahaya hidupku aku genggam
Cahaya-Mu,
Karena mereka itu adalah kebodohan dan membodohkan, maka wahai Yang Maha Mengetahui Engkaulah Maha Guruku

Keseluruhan lirik Wirid Orang Tertindas yang terhimpun di dalam album Wirid Padhangmbulan benar-benar mendeskripsikan persoalan sosial dengan memosisikan Tuhan sebagai subjek pemberi ketenangan, kehangatan, dan sumber penawar utama. Ia ditulis Cak Nun dan Cak Fuad pada titimangsa menjelang milenium 2000. Namun, aktualitasnya dapat dirasakan sampai sekarang. Terutama saat menengok Indonesia yang segera berusia ke-76 tahun.

Sebuah pencapaian usia kemerdekaan dengan tumpukan utang sebesar Rp 6500 triliun (CNN Indonesia, 13 Agustus 2021).

Lainnya