Kebon (100 dari 241)

Ular-ular Sihir Nasional

Dok. Progress

Puncak ketidakmampuan saya untuk memahami manusia Indonesia kemudian tiba di puncaknya. Selama hampir dua dekade manusia Indonesia memuja-muja, menyembah-nyembah dan membela-bela sesama manusia melebihi mereka menjunjung dan membela Tuhan dan Nabi-nabi.

Saya belum pernah membaca atau mendengar ada suatu zaman yang melebihi kurun Fir’aun. Fir’aun menuhankan dirinya, tetapi rakyatnya tidak menuhankannya. Dan ada sebagian dari rakyat Fir’aun yang berjuang untuk memecah segitiga kekuasaan Fir’aun-Hamman-Qorun. Segitiga supremasi penindasan atas kehidupan rakyatnya antara Raja, kaum intelektual-birokrat dan konglomerat.

Keadaan yang saya lihat, saksikan, dan saya alami sendiri berlangsung lebih parah, lebih berkebodohan, berkerendahan, dan berkehinaan dibanding era Fir’aun. Sialnya bangsa Indonesia Allah sudah menyetop jatah Nabi. Nubuwah sudah berakhir di era Muhammad Saw. Berikutnya hanya ada Wali atau Wali-walian, Habib atau Habib-habiban, Majdzub atau dijadzab-jadzabkan untuk pencitraan.

Tidak ada warga negara Indonesia yang bernama Musa. Tidak ada bayi yang dikintirkan di sungai, kemudian ditemukan dan diambil oleh Permaisuri Raja sehingga kelak menjadi Pangeran. Di Indonesia tidak ada Asiyah yang mengasuh Musa. Yang ada hanya Aisyiah Ibu Muhammadiyah. Itu pun tidak berada di ruang muwahhadah ukhuwah persatuan kesatuan dengan Muslimat Nahdlatul Ulama.

Tidak juga ada koordinasi jihad antara Pemuda Muhammadiyah dengan Pemuda Anshor. Malah dijadikan humor Madura, di mana Anshor itu “setengkak (setingkat) di bawah Kodim setengkak di atas Hansip”. Jangankan koalisi antara kaum Muda Daud dengan TNI Thalut untuk melawan rezim Jalut. Bangsa Indonesia tidak punya tongkat Musa, sehingga ular-ular sihir nasional merajalela tanpa ditelan oleh ular raksasa jelmaan tongkat Nabi Musa.

Bahkan Indonesia mengalami evolusi, sampai penyempurnaan dibanding era Fir’aun. Raja Mesir ini hanya memerintahkan pembunuhan dan pemusnahan atas bayi-bayi lelaki, Indonesia menyebarkan kekuatan yang mengebiri kejantanan, memusnahkan keksatriaan, melecehken sportivitas, melecehkan objektivitas dan mengubur harga diri bangsanya sendiri.

Sedangkan yang dijanjikan oleh Allah ini belum kunjung tiba waktunya:

لَقَدِ ٱبۡتَغَوُاْ ٱلۡفِتۡنَةَ مِن قَبۡلُ وَقَلَّبُواْ لَكَ ٱلۡأُمُورَ
حَتَّىٰ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَظَهَرَ أَمۡرُ ٱللَّهِ وَهُمۡ كَٰرِهُونَ

“Sesungguhnya dari dahulupun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah) dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya”.

Kalau mempelajari deretan ketidakpahaman saya atas manusia itu secara tekstual dan linier mungkin sangat banyak dari apa yang saya narasikan bisa ditemukan sealur, segelombang atau semacam sekepahaman dengan narasi Syekh Kanzul Jannah, bendaharawan sorga, alias Idajil atau Azazil, yang khalayak ramai mengenalnya sebagai Iblis. Dan saya sama sekali tidak berkeberatan andaikan ada yang “ngonangi”, mengidentifikasi, menganalisis kemudian menyimpulkan bahwa saya berada di alur itu.

Islam mengenal ragam kejiwaan, mental, sikap dan perilaku manusia dalam term Mu`min, Muslim, Musyrik, Kafir, Munafiq, dengan variabel-variabel misalnya Fasiq, Ghafil, Mufsid dll. Tetapi untuk kasus Indonesia harus dicari sampai lipatan dan siklus-siklusnya untuk memahami manusianya secara lebih tuntas dan benderang.

Misalnya Allah mengemukakan kategorisasi:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ

“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.

Ada posisi manusia perusak dan penyelenggara perbaikan. Kalau ada manusia jujur, kita semua memastikan itu bagian dari jenis pelaku perbaikan. Kalimat “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan” diucapkan oleh manusia Indonesia tidak dalam posisi bohong. Pemerintah, kaum cendekiawan, pengusaha, pekerja-pekerja pendidikan dan kebudayaan hingga rakyat kecil, mengatakan selama sekian dekade pemerintahan bahwa mereka sedang membangun atau memproses penyelenggaraan kebaikan.

Mereka sama sekali tidak bohong. Sebab setahu mereka yang mereka lakukan sungguh-sungguh pembangunan kebaikan. Benar-benar pembangunan. Mamayu hayuning bawana. Bahkan mengutip Qur`an “baldatun thayyibatun wa Rabbon Ghafur”. Atau minimal meneguh-neguhkan Sila Kelima “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Bahasa Qur`annya, semua lapisan dan segmen bangsa Indonesia mantap menyatakan “innama nahnu mushlihun”.

Mampus Elu. Kata orang Betawi. Bongko koen. Kata orang Jombang.

Mereka tidak bohong dan bukan pendusta. Hanya saja ada yang salah dengan otak mereka. Ada dismanejemen intelektual. Ada musytabihat psikologis. Ada yang cacat berat dalam proses pendidikan kebangsaan mereka. Kalau ingin menggambarkan secara keseluruhan, kita kembali kepada policy Dajjal yang membuat manusia meyakini neraka yang dialaminya adalah sorga, serta sebaliknya sorga yang mereka kejar-kejar adalah neraka. Itu memang mindset atau dasar algoritma yang diinstall oleh Dajjal ke dalam software manusia Indonesia.

Jadi, sesulit-sulitnya usaha memahami, saya masih relatif bisa memahami manusia di dunia. Tetapi hampir absolut saya tidak pernah mampu benar-benar memahami manusia di Indonesia.

Lainnya