Ublik Mencari Lailatul Qadar

Photo by Yong Chuan Tan on Unsplash

21 Ramadhan 1417 H, 1997 M. Jamaah shalat Isya’ dan tarawih Masjid Sabilillah mulai berkurang. Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ketika menjelang akhir Ramadhan, hanya cah panti, anak-anak dan warga sekitar masjid yang bertahan mengisi barisan shaf hingga akhir Ramadhan.

Tak sampai empat shaf, termasuk Ublik, cucu pemilik Pondok dan Panti Asuhan Islamiyah, tempat di mana Masjid Sabilillah menjadi masjid besar pertama di desa Sembungan yang didirikan Eyang kakung-nya Ublik.

Usia 12 tahun membuat Ublik memiliki banyak kewajiban karena dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan Kyai. Kakek Ublik memang satu dari sekian banyak orang yang dipanggil dengan sebutan Kyai. Mbah Yai Mahfudz namanya.

Entah atas dasar apa warga sekitar menyebutnya begitu. Pakaian yang dikenakannya biasa saja, tanpa sorban. Logat bicaranya njawani tidak kearab-araban, juga tidak memiliki aksen Mekah atau Madinah saat mengimami shalat.

Kakek Ublik murni warga Sembungan dan tidak memiliki garis keturunan Arab ataupun Kyai-Kyai terkenal lainnya. Mungkin karena Allah memberikan waskito yang lebih pada Mbah Yai Mahfudz dalam kepekaan sosial.

Beliau yang menampung anak-anak warga sekitar yang tidak mampu sekolah, memberi tempat tinggal dan kebutuhan anak-anak yatim piatu. Mbah Yai juga memiliki sawah yang luas. Hasilnya cukup untuk menghidupi 9 anak dan 28 cucunya, bahkan masih cukup juga untuk dibagikan ke tetangga-tetangga.

Seperti hari-hari sebelumnya, bahkan di luar Ramadhan, Ublik berkewajiban membersihkan sendang. Begitu sebutan sumur tua di dekat masjid yang digunakan untuk berwudhu. Karena kewajiban tersebut, mau tidak mau membuat Ublik mengikuti shalat berjamaah 5 waktu dalam sehari, termasuk tarawih dan I’tikaf di 10 hari terakhir.

Malam itu, 21 Ramadhan, dikarenakan Kakek Ublik sakit, tidak dapat mengimami, maka posisi imam sekaligus khatib digantikan oleh Pak Gaguk. Sosok yang penampilannya jauh berbeda dibanding Mbah Mahfudz. Berbaju gamis panjang dan bersorban , dengan tasbih yang selalu dalam genggamannya, bak Kyai besar, Kyai Agung, benar-benar menampakkan kekhusyu’annya.

Dalam khutbahnya, Pak Gaguk membahas tentang Malam Lailatul Qadar. Malam yang sangat dinanti-nantikan umat muslim sedunia. Beliau juga memberi bocoran tentang tanda-tanda malam seribu bulan tersebut, dan meminta jamaah lebih peka terhadap isyarat yang diberikan alam.

Di akhir khutbahnya, beliau menyampaikan bahwa malam lailatul qadar ini bagaikan undian berhadiah, dan tidak akan tahu siapa saja yang mendapatkan hadiah. Maka, supaya mendapatkan undian, masukkan kupon sebanyak mungkin setiap hari, karena pada satu hari di mana malam tersebut adalah lailatul qadar, maka Anda sudah memiliki satu kupon untuk mendapatkan malam seribu bulan tersebut.

Dalam hati Ublik bersorak, karena merasa setiap hari, sama seperti tahun-tahun lalu, ia akan beriktikaf setiap malam sampai pagi di sepuluh hari terakhir dan khutbah Pak Gaguk malam itu menancap di pikiran Ublik sampai dewasa. “Ah.. Alhamdulillah, aku pasti salah satu yang dapat lailatul qadar, dosaku selama seribu tahun akan diampuni”, gumamnya.

Hingga suatu ketika Ublik dewasa bertemu sosok Emha Ainun Nadjib atau yang lebih dikenal dengan Cak Nun di sebuah warung pecel di pinggir jalan, saat itu juga Ramadhan, dan mungkin Cak Nun pulang dari memenuhi undangan Sinau Bareng, lantas mampir memesan nasi pecel untuk bersantap sahur.

Cak Nun duduk di meja paling ujung dekat jalan raya, ada beberapa pemuda duduk satu meja dengan beliau. Sambil melahap nasi pecel, Ublik mendengar percakapan rombongan Cak Nun tentang lailatul qadar.

Beliau berpendapat bahwa setiap orang pasti mendapatkan malam lailatul qadar karena itu bukanlah undian. Lailatul qadar adalah kodrat Allah, di mana semua hal Allah yang menentukan, hanya saja bagaimana kita sebagai manusia mempersiapkan dirinya supaya cocok, harmonis, pas dengan lailatul qadar yang terjadi pada akhir bulan Ramadhan.

Hakikat dari harmonis, cocok dan pas itu tadi mestinya datang dari hati yang selalu connect dengan Allah, sehingga menumbuhkan kesadaran bahwa perangkat berupa shalat malam, Iktikaf, dan ibadah-ibadah lainnya adalah merupakan bentuk ungkapan rasa cinta kita pada Allah. Juga kita tidak usah memberikan bentuk, dari lailatul qadar itu berupa apa, terserah Allah saja, mau penghapusan dosa, atau kemuliaan, atau apa saja tidak usah kita duga, semua terserah Allah.

Di Akhir makan sahurnya, Ublik spontan dalam hatinya bergumam “tanazzalul-malā`ikatu war-rụḥu fīhā bi`iżni rabbihim, min kulli amr”. Maka sudah menjadi hak Allah untuk mengatur semua urusan, mengabulkan doa-doa orang yang berdoa di malam lailatul qadar tersebut.

Lainnya