Wisdom of Maiyah (111)

Tuhan, Dokter, dan Obat

Sebagian manusia tidak punya kedaulatan atas kesehatan tubuhnya sendiri, sehingga ketaatannya kepada dokter melebihi ketaatannya kepada Tuhan.

Ketika dokter menganjurkan minum obat ini itu dan harus diminun 3 (tiga) kali/hari. Mereka patuh — tidak berani melanggar anjuran dokter tersebut, karena kalau melanggar mereka merasa bersalah. Sementara kalau melanggar aturan yang diwajibkan oleh Tuhan, mereka tenang-tenang saja, tidak merasa bersalah. Padahal apa yang diwajibkan oleh Tuhan itu pasti baik bagi manusia. Kenapa diwajibkan? Karena itu biasanya tidak disukai oleh manusia, padahal itu baik bagi manusia, maka diwajibkan. Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui.

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

(QS. Al-Baqarah: 216)

Organisme organ tubuh manusia sudah disetting secara default oleh Tuhan. Ketika kaki kita terantuk batu, intervalnya tidak sampai 0, 09 detik, mulut kita teriak; aduh..! Itu artinya interaksi antar organ tubuh manusia itu terjadi secara otomatis.

Oleh karenanya, untuk menjaga dan memelihara kesehatan tubuh, manusia harus me-manage potensi organ tubuh secara proporsional. Pola makan minun dan pola hidup di-manage dengan baik; apa yang harus dikosumsi, seberapa banyak, kapan harus makan dan minum, kapan harus menahan makan, tidak gampang marah, tidak ada rasa dendam dan jangan lupa istirahat yang cukup.

Kalau otak berpikir (perintah)-nya tidak sinkron (dismanagement) dengan organ hati, jantung, ginjal dan organ tubuh lainnya, tubuh akan mudah terserang penyakit.

Lainnya