Wisdom of maiyah (93)

Tongkat Maiyah dalam Kehidupan

Secara fungsi tongkat merupakan alat untuk menopang atau pegangan ketika berjalan, menyokong, dsb.

Dalam menjalani kehidupan yang serba tidak pasti, orang mukmin, alumni pesantren baik yang mukim dan alumni santri kalong, jika kita ajukan pertanyaan kepada mereka, apa pegangan hidup untuk menjalani kehidupanmu? Lantas mereka menjawab dengan keras: Al-Qur’an.

Bisa jadi turunan konteks dalam pegangan hidup di atas adalah petunjuk, pencerah, minaddhulumati ilannur, menyoroti, hingga bisa juga dianaologikan dengan fungsi tongkat yakni untuk pegangan dalam berjalan agar kuat, kokoh, menerka-nerka atau gragap-gragap jalan baik dan buruk dalam hidup, dan banyak kata lain yang bisa dikumpulkan dalam hal ini.

Dalam pribadi saya selama ini, tidak mengurangi rasa imanku kepada Kitab yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw, Al-Qur’an adalah senter, Maiyah Adalah tongkatnya. Al-Qur’an yang mencerahkan, yang menyoroti. Maiyah yang menghantarkan, yang berhasil gragap-gragap-(meraba-raba). Karena selama saya nyantri banyak idiom atau kosakata tawakkal, Iman, Taqwa, Syukur, Insan kamil dll, namun tidak saya temukan perumpamaan-perumpamaan yang bisa menghantarkan dalam nilai-nilai tersebut. Namun Maiyah adalah yang berhasil men-stimulus untuk menghantarkan saya untuk dekat dengan kosakata Taqwa, Tawakkal, Syukur dll.

Satu contoh, Kerap Cak Nun mengutarakan, “sing gawe tanduran uwoh sopo rek? Sing iso nukulke tanduran kui sopo rek ? Sing gawe sehat lan loro awake dewe sopo?” dalam pertanyaan tersebut, jelas jawabanya: Allah Swt. Karena modernisasi sedikit berhasil menggeser nilai-nilai kemutlakan Al-Qadir-Nya Allah. Banyak Orang lupa bahwa tidak ada kepastian yang benar-benar pasti selain kehendak Allah.

Banyak orangtua berpesan kepada anak-anaknya, lik yen iso dadio pegawe sing seragaman, sing gajine pasti tiap tanggal siji. Oke gaji pasti tanggal satu, tetapi dalam konteks menjalani penghidupan banyak permasalahan-permasalahan lain yang Allah selalu hadir. Karena tenteram dan bahagianya keluarga tidak berhenti di tanggal satu. Bisa jadi di tanggal 2 sampai 30 didatangkan masalah bertubi-tubi, misal; Istri diberi sakit berkepanjangan, susah dikarunai buah hati. Jadi dengan ungkapan Cak Nun: “Urip kui ora titik rek, pasti ono lanjutane.”

Yang jelas sampai saat ini, Maiyah adalah tongkat saya untuk membelah pemahaman-pemahaman modernisasi yang mengagungkan harta dan jabatan. Maiyah berhasil pula mencari idiom-idiom kebahagiaan meski dalam situasi yang sangat sulit, serta berhasil menemani saya untuk tetap berjalan, terus berproses menjadi Hamba yang dekat dengan Allah, dengan bekal karunia Syafaat Nabi Muhammad Saw.

Lainnya