Tiga Sajak Terjemahan Rendra dan Kerling Persajakan Kita

Selain menerjemahkan drama maupun saduran, Rendra juga menerjemahkan sajak-sajak — yang menjadi bagian dari proses penciptaan dan perkembangan kepenyairannya. Di samping itu, Rendra juga menerjemahkan buku latihan teater, serta menulis terjemahan yang lain-lain. Namun, dari sekian banyak terjemahannya itu, agaknya sukar melacak sajak-sajak terjemahan Rendra.

Bahkan, saya pernah menduga, mungkin sajak terjemahan Rendra dikhususkan hanya untuk bacaan pribadinya sendiri, tapi baru sekarang saya menyadari kalau saya keliru. Di luar tiga sajak terjemahan tadi, barangkali masih ada banyak sajak terjemahan Rendra yang dibiarkan berceceran tak tentu rimbanya. Mungkin ada yang tersimpan rapi dalam arsipnya sendiri, dalam dokumentasi tiap pribadi, maupun dalam suatu majalah apapun namanya itu, yang ia mengirim sajak terjemahan ke situ lalu dimuat.

Sebagian pembaca sajak, tentu sudah mengenal sejumlah penyair turis asing — yang sajak-sajaknya merupakan bacaan Rendra dan telah mengembara ke bumi sastra Indonesia. Sajak-sajak dari para penyair itu, sedikitnya paling mungkin memberi pengaruh bagi Rendra dalam mencipta sajak kemudian.

Akan tetapi, dalam kerling persajakan ini, saya mencoba memandang panorama sekitar tiga sajak terjemahan Rendra. Dengan latar belakang sikap puitik plus disiplin artistiknya yang kokoh, membaca sajak terjemahan Rendra bagaikan menjelajahi kilasan peristiwa dan ketegangan sejarah — yang sedemikian berpadu padan dalam sajak. Pantulan itu kemudian lalu dipertautkan ke langgam persajakan semasa pandemi.

Lain halnya dengan prosa, misalnya cerita pendek. Saya teringat surat Rendra yang ditujukan kepada D.S. Mulyanto. Dalam suratnya, Rendra mengakui bahwa sepengalaman ia bergulat dengan cerpen, ia merasa sebagai bukan penulis cerita pendek. Bab cerpen ini, selain tiga buku kumpulan cerita pendek yang telah diterbitkan, saya kira juga masih banyak cerita pendek karangan Rendra yang belum terhimpun yang rezekinya nyaris sama dengan terjemahan sajaknya, berserakan.

Entahlah, berapa jumlah cerpen karangan Rendra itu, yang jelas dalam surat tersebut ia menyatakan bahwa “bakat saya dalam cerita pendek tidak jelas”. Ia pun berterus terang kalau dirinya tak pernah merasakan masalah cerpen sebagai masalah pribadinya, meskipun ia senantiasa juga mengalami cerpen sebagai suatu keterlibatan untuk berbagi pendapat dan pemikiran ke arah depan.

Menurut Rendra, soalnya ialah unsur kecintaan, ia merasa sangat lain dalam menghadapi masalah cerpen. Berbeda dengan puisi, ia selalu sediakala mendudukkan masalah puisi dengan cinta dan birahi. “Apabila saya mencipta sajak, cara saya menyerahkan jiwa raga saya lebih mutlak daripada saya menulis cerita pendek,” ungkapnya.

Pada edisi bundel majalah Basis, tahun 1961-1962, tak sengaja saya menemukan tiga sajak terjemahan Rendra. Sebuah sajak dari Atilla Josef, dua buah sajak Georgy Gomori, dan keduanya pula sama-sama penyair “revolusi Hongaria”. Di bawah ini, saya mulai dengan sajak Atilla Josef.

Nina Bobok

Langit memejamkan matanya yang biru,
rumah-rumah menutup matanya yang banyak itu,
dengan selimut padang diluarpun tertidur —
tidurlah pula, anakku Balazs.

Sambil menekurkan kepala kekaki-kakinya,
serangga dan kumbangpun tertidur,
sambil tertidur mereka mendengkur —
tidurlah pula, anakku Balazs.

Dan juga trem tertidur pula
Dan selagi gemuruhnya reda dalam kantuk
gentanya mengleneng pelan-pelan —
tidurlah pula, anakku Balazs.

Bola, peluit, — keduanya tertidur
demikian pula hutan, demikian pula darmawisatamu,
dan juga gula-gulamu pergi tidur —
tidurlah pula, anakku Balazs.

Jarak akan kau miliki, bagai kau miliki
kelereng-kelereng kacamu, kau akan sebesar raksasa,
tapi harus kau tutup matamu yang kecil itu —
tidurlah pula, anakku Balazs.

Kau akan jadi pemadamapi, jadi serdadu pula!
Gembala yang menggiring binatang hutan!
Lihatlah, mama sudah siap akan tidur —
tidurlah pula, anakku Balazs.

“Penyair Proletarian” ini mencipta suatu puisi lirik yang bersahaja, dan salah satu sajak suasana yang menawan hati, dalam arti mengalami suatu bayangan yang berarti. Sajak ini seakan-akan melukiskan keadaan masa bergolak lewat cara ungkap kelembutan. Terasa sekali ketenangan plus kegelisahan dalam menggali kepekaan sosial yang berkecamuk, saat ketika genting dan malam yang rusuh datang menyempurnakan hening. Apalagi perang seringkali mengusir kantuk secara paksa. Seperti suara yang tiba-tiba nyaring sekali.

Tidur bagaikan cita-cita dan impian yang indah. “Tidurlah pula” yang berulang-kali bunyinya mengisyaratkan sesuatu, ada ketegangan yang timbul-tenggelam dalam diri, dan ada peperangan yang lebih dulu terjadi: gelisah. Dengan kegelisahan itu, orang tergerak untuk berpikir, sehingga menebalkan jarak antara kantuk dan tidur yang jauh. Seolah-olah jangan biarkan tidur datang.

Secara garis besar haluan persajakannya, erat sekali hubungan puisi dalam api perjuangan yang membakar semangat revolusi Hongaria. Aura puisi lirik sedemikian menyulut kesadaran daya hidup bersama masyarakat dan bangsa. Konon, puisi lirik juga merajai wilayah kesusastraan Hongaria, sampai-sampai Georgy Gomori pernah berkata dengan bangga, “orang memang bisa berkata bahwa negeri Hongaria adalah negeri utama di Eropa yang paling mencintai puisi.”

Walaupun dalam perkembangan alam perpuisian Hongaria, masalah umum selalu menyertainya, terutama soal membebaskan diri dari kungkungan Partai Komunis yang sedemikian keras mengontrol lagi mengintai gerak-gerik kesusastraan, dan kedua, tentang bagaimana melepaskan ikatan dari jerat aliran satu-satunya yang dianggap sah oleh pemerintah komunis: realisme sosialis.

Sajak yang kedua dan ketiga ialah pencekaman oleh Georgy Gomori, saya kutipkan secara beruntun.

Sajak Tahun Baru

Inilah sepi yang dulu kau cari, inilah sepi mutlak sepi;
tigapuluh derajat Celcius dibawah palma yang menggaya,
diteras hotel yang penuh manusia. Dimalam Tahun Baru.
Orang berpasangan bergoyang-goyang, bergoyang-goyang
dalam musik yang diangankan. Balonan yang lamban dan sedih melayang
dan penjual permen meniupi terompet kertasnya yang laknat.
Engkau sendiri dan sepi: kerang yang dilempar kekarang basah,
kau dengarkan suara hatimu tetapi kebalau dan alun suara
serta pekikan terompet menimbun dirimu, merenggut sukmamu.
Siapa inginkan turun keneraka? — Wajah yang kuning dan tembaga
menoleh kepadaku dan tertawa, serta memandang betapa aku
meniup terompet kertas melabrak siksa-sepi
orang celaka dari tanahairnya terlempar.

Djakarta, 1961

Segala zat melawan kita

Seperti udara membeku dikacakristal
langit diatas kepalakupun membeku
dan dengan gemetar, bagaikan dari bawah mukaair,
menyembullah gelembung-gelembung sepiku.

Bila aku melangkah, bagai dalam film yang diputar pelan,
berat tubuhku menarik kebawah, kakiku tertanam.
lain kali aku melangkah: aku melonjak tinggi-tinggi —
bagai dikosmos aku terapung diudara tipis yang mendesis

Alangkah dinginnya didasar laut itu. Kawanan ikan
tak bisa diajak bicara: mulutnya megap-megap dan kaku —
Alangkah dinginnya dilangit. Penghuni bintang yang mekanis
menghindariku.

Yang kudambakan kini hanyalah planet yang hangat:
dalam mimpiku masih kutemukan bumi —
tapi disana — wahai! senjata-senjata yang dingin beradu
dan nasib segala umat adalah mati didekat api.

Oxford, 1957

Sajak yang terakhir ialah sajak mencampakkan suka dan duka penyairnya. Ke manapun ia mengembara, “berat tubuhku menarik kebawah, kakiku tertanam” dalam hati tiap orang Hongaria. Ia mengangankan suatu gencatan senjata dalam api perjuangan bersama rakyat. Sajak ini mengalun ke sana ke mari, bersenandung dalam bandingan-bandingan, rangkaian mengalami sepi saling tumpang-tindih, menjadi muatan rindu yang menggunung, lalu ketika mau usai iramanya sayup-sayup sangsi, letih sesaat sebelum meledak. Tersebarlah suasana yang memadukan pengalaman dan kehidupan penyairnya.

Sedangkan “Sajak Tahun Baru” ini ditulis ketika Georgy Gomori terdampar oleh hiruk-pikuk Jakarta. Kala itu, sekitar satu setengah tahun sebelumnya, ia telah datang belajar di Universitas Gajah Mada, di Yogya. Tapi saya tidak tahu, apa yang membuat dan mengapa ia tiba-tiba mengunjungi Jakarta? Selain sebagai pengungsi, katanya dalam sajak juga sebagai “orang celaka dari tanahairnya terlempar.” Kesepian sajak ini seperti melukiskan penghayatan “tapa ing rame.” Sepi yang indah dan celaka di tengah keramaian. Sekaligus juga menyiratkan perasaan dan pandangan hidupnya, di dasar rindu tanah airnya sendiri.

Pada suatu kesempatan, Rendra (saat itu selaku pembantu majalah Basis) mendapat momentum dan berhasil mewancarai Georgy Gomori. Sesi wawancara ini dimuat majalah Basis dan diberi judul “Mengerling Sastra Honggaria”. Di bagian akhir, Rendra menyelipkan sajak-sajak terjemahan tadi. Dan upaya Rendra dalam menerjemahkan tiga sajak itu boleh dibilang ber-arti. Sebab, membaca sajak terjemahannya, saya merasa Rendra mempunyai kedekatan secara khusus dalam penciptaan sajak (maksudnya sajak-sajak Hongaria), seperti telah terjalin satu ikatan pengalaman yang bermakna dalam pertukaran pikiran kebudayaan.

Pasalnya, dalam sesi wawancara dengan Rendra, Georgy Gomori mengatakan, “bahasa Honggaria adalah bahasa yang sangat fleksibel,” dengan demikian, “telah memungkinkan bahasa Honggaria untuk mempunyai kwalitet musik yang unik yang menyebabkan para penyairnya mudah menciptakan kalimat-kalimat yang merdu bunyinya dan irama serta sajak yang sempurna dengan hampir-hampir tanpa kesukaran apa-apa.” Mungkin bertolak dari ini, Rendra menyadari tantangan dan menanggapi dengan hasil terjemahan yang sentuhannya khas.

Hongaria secara umum ialah sebuah negara terkurung daratan di Eropa Tengah. Akan tetapi, bagi Georgy Gomori, “maka karenanya kami merasa bahwa kebudayaan kami yang mempunyai akar Timur dan dedaunan Barat itu agak menarik juga di Eropa.” Lewat terjemahan sajak, Rendra berhasil menuangkan perasaan nasional Hongaria yang berkobar menjadi api semangat perjuangan. Betapa bayangan sajak-sajak Hongaria seringkali gerak-geriknya radikal dan revolusioner — yang romantik. Sebagaimana ungkapan indah Georgy Gomori, “bahwa syair lirik dapat diabdikan kepada masyarakat negara dan agama tanpa mengurangi martabatnya sebagai buah kesenian.

Sementara, puisi Indonesia sekerling masa pandemi ini tumbuh dengan cukup merambat, meskipun dalam semesta pemaknaan dan secara nyata mungkin belum menyentuh elemen-elemen kebudayaan. Baik yang esensi maupun substansial dari kebudayaan hidup sekarang. Adapun gaya, cara ungkap, dan bentuk persajakannya telah mencerminkan suatu penciptaan yang teguh berproses. Hal ini dapat ditinjau dari mempertimbangkan kelanjutan tradisi yang klop, bahwa kerling persajakan kita seperti menjunjung eksperimen berbahasa, abstraksi pengucapan, dan segala corak fantasinya.

Para penyair kita tampaknya percaya penuh pada perkembangan alam perpuisian, meskipun amatan sepintas lalu saya menganggap persajakan kita itu cuma bagian dari kebutuhan ekspresi (sesaat ataukah sepanjang tubir mencipta sajak). Biarpun demikian saya juga percaya, pada suatu waktu nanti, persajakan kita akan benar-benar untuk menciptakan nilai-nilai hidup manusiawi dalam ekspresi para penyair. Yang bukan berdasar dari dorongan hasrat berlebihan maupun ambisi yang berkeinginan kuat akan sesuatu hal, melainkan karena kecintaan dan kesetiaan: dialog, komunikasi, dan ketersambungan.

Mudah-mudahan persajakan kita kelak, mulai mendekati kata Georgy, “apa yang tak dapat dibicarakan dengan wajar dalam bentuk politik dapat direkamkan, dilambangkan dan disindirkan dalam bahasa sastra dan terutama dalam syair lirik.” Mengenai coraknya itu tergantung pada sikap puitik dan disiplin artistik para penyair Indonesia.

25-26 September 2021.

Lainnya