Wisdom of Maiyah (142)

Tidak Menelan Mentah

Saya asli Banyumas mengenal Maiyah waktu ada Sinau Bareng di Purbalingga yang pada waktu itu hati saya ingin sekali ikut.

Pada waktu itu saya mau berangkat, tetapi istri saya dan kedua anak saya belum tidur. Anak yang pertama saya usia 2 tahun. Waktu Sinau Bareng di Purbalingga tahun 2017 itu, waktu mau berangkat anak saya agak tidak enak badan, dan saya berusaha mengobati anak pertama saya yang bernama Nada Dziarsy Maratusholehah, sebisa saya. Anak kedua saya Miya Thahara zamzami.

Setelah sudah agak enak badan anak saya, saya berangkat ke Purbalingga mengikuti Sinau Bareng di sana. Setelah sampai di sana hati saya merasa nyaman, nglangsa atas apa yang selama hidup dilakukan.

Maiyah ini, menurut saya, dalam menyikapi masalah tidak ditelan mentah tapi begitu matang dalam menyikapi permasalahan hidup. Kebijaksanaannya dalam menerima sesuatu, itulah Maiyah. Yang menarik dari Sinau Bareng di Purbalingga itu, saya menerima Ilmu di Maiyah yang dalam Bahasa Arab: Inlam yakun bika ‘alayya ghadlabun fala ubali. Asalkan Engkau tidak marah kepada-Ku, ya Allah, aku tidak peduli.