Wisdom of Maiyah (77)

Teman Seperjalanan

Dalam Maiyah kita senantiasa diajarkan bahwa bersosialisasi tidak hanya dengan manusia, tapi juga dengan apa saja yang ada di sekitarnya. Tujuan sosialisasi sendiri adalah untuk menjaga keberlangsungan hidup bersama dengan saling menghargai satu sama lain layaknya hubungan pertemanan, terlepas nanti pada akhirnya kita saling memanfaatkan itu tak jadi soal selama tidak dilakukan secara berlebihan.

Terhadap alam kita menganggap mereka sebagai kakak pertama kita, hewan sebagai kakak kedua, sedangkan manusia sendiri adalah adik bontot. Tuhan menciptakan alam sebagai teman seperjalan kita sampai nanti kiamat, tapi yang sering terjadi manusia moderen menganggap alam sebagai teman yang kaya raya sekaligus bodoh sehingga setiap hari kita manfaatkan tanpa merasa iba atau bahkan mereka berpikir bahwa adanya alam adalah untuk mereka eksploitasi dan kita jarah sedemikian rupa untuk memenuhi hasrat kemudahan fasilitas hidup sebagai manusia.

Di maiyah kita berusaha menarik garis lurus dalam sekala sebab akibat, gejala alam seperti banjir, gunung meletus, dan lain sebagainya merupakan proses alamiah yang bisa jadi akibat dari pola laku kita sebagai manusia atau mungkin memang itu harus terjadi untuk keseimbangan alam itu sendiri, kita tidak harus menganggapnya sebagai bencana, meski pada kenyataannya itu berdampak kerugian secara materi pada manusia.

Kita belajar untuk memahami makna dari setiap kejadian, jika memang terjadi banjir maka sebaiknya kita mulai berhitung kembali mengenai tata ruang kehidupan kita, mungkin ada yang tidak seimbang antara jumlah bangunan dengan jumlah hutan dan segala kemungkinan lain tanpa harus menyalahkan siapapun kecuali kita sendiri.

Bermaiyah berarti menjadi teman seperjalanan bagi alam semesta, berjalan bersama tanpa saling menghancurkan satu sama lain. Berjalan ke dalam diri untuk memahami segala fenomena yang terjadi di sekitar kita, sekaligus mencari solusi tanpa harus mengeliminasi teman kita sendiri.

Lainnya