Tarian ‘Arsy dan Etos Memberi

Majelis Ilmu Mocopat Syafaat Yogyakarta, Rumah Maiyah Kadipiro, 15 Desember 2021

Lampu sorot perlahan meredup. Sekitar ruangan menjadi remang-remang berwarna kemerahan. Empat ketukan saron patah-patah mengiringi tujuh penari memasuki panggung. Enam di antaranya membentuk kelompok, saling keliling bergiliran memenuhi sorot lampu. Jujuk Prabowo, penari satunya, duduk bersila di panggung sebelah kiri. Dalam diam dengan sorot mata fokus, posisi duduknya menunjukkan sedang beryoga.

Sementara penari lain, dua laki-laki dan empat perempuan, memainkan selendang yang menyampir di punggung sembari memutar melawan arah jarum jam. Efek suara seperti film berlatar kahyangan lalu menggaung, para penari berganti gerak agak cepat secara rapi. Jujuk berdiri dari duduk pertapaannya kemudian agak membungkuk dengan posisi tangan mirip pertahanan diri. Ia ikut memutar namun searah jarum jam.

Para penari itu paripurna mengharmonikan tiga anasir wiraga, wirama, dan wirasa. Ada kesan efek magis dalam gerak-gerik mereka. Seperti memusat pada satu titik. Penonton bermain tafsir sepanjang tarian selama kurang-lebih 15 menit itu. Resepsi audiens terhadap tarian tersebut menyembul di benak masing-masing.

Sama seperti adegan monolog Eko Winardi yang membawakan naskah berjudul Kucing Mengajari Burung Terbang usai tarian dihelat. Sinambung dua peristiwa kesenian sebelumnya, penonton tergerak menggali lebih mendalam.

Setelah dua pertunjukan selesai, Cak Nun mengajak koreografer duduk membanjar. Jujuk dan Eko diminta menjelaskan proses kreatif di baliknya. Penggalian karya yang diusung dua seniman tersebut menjadi prolog Mocopat Syafaat Jumat malam (17/12). Namun, sebelum itu, Cak Nun dan KiaiKanjeng telah melambari dengan shalawat Tarhim Mahmud Khalil Al-Hussary yang biasanya dilantunkan sebelum kumandang adzan.

Ada titik persinggungan antara paparan Cak Nun soal shalawat Tarhim dan makna intrinsik koreografi besutan Jujuk Prabowo. Shalawat yang diperkirakan masuk ke Indonesia dan direkam di Solo itu mengandaikan naiknya jiwa ke ‘Arsy. “Lalu dengan Jibril kita shalat bersama dan diimami oleh Kanjeng Nabi. Maka setelah shalawat sholah-sholah itu tadi kita membaca Inna anzalnahu fi lailatil-qadr,” ungkap Cak Nun.

Peristiwa transendental di ‘Arsy itu senada dengan gambaran imajiner di balik proses koreografi Jujuk. Ia mengatakan di belakang proses tarian tersebut berawal dari ide semiliar malaikat berada di singgasana tertinggi. Tapi simbolisme ‘Arsy yang dimaksudkan cenderung Jujuk interpretasikan pada domain rasa. Baginya, ada kedekatan emotif antara ‘Arsy dan rasa. “Jadi tadi itu tidak hanya jejogetan. Tapi kami menarikan. Kami tarikan kepada panjenengan sedaya. Tarian ini kami sampaikan dengan roso,” ujarnya.

Berbeda dengan motif itu, Eko Winardi menuturkan monolog yang tadi ia mainkan, selain mengisahkan kucing dan burung, juga berpretensi jejogetan. “Tujuannya adalah biar kalian bisa melakukan seperti tadi. Tapi ini bukan bertolak belakang dengan paparan Jujuk lho ya. Tapi saya punya misi jejogetan itu untuk mengekspresikan aktivitas sehari-hari yang bisa kita lakoni semua,” ucap Eko.

Suguhan seni Mocopat Syafaat tadi malam memang diharapkan untuk saling memberi dan menerima. Maka tak mengherankan kalau tema yang dipilih adalah Give Your Hand Take My Hand. Penggalan judul ini juga pernah dipakai sebagai tajuk sebuah esai Cak Nun di akhir 80-an yang lengkapnya Zakat: Give Your Hand Take My Hand.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Dalam buah pena tersebut juga terkandung dua tawaran. Zakat sebagai etos dan zakat sebagai sistem. Cak Nun condong pada pertama melalui dorongan memberi. Sedangkan bentuk kedua memiliki kelemahan karena sistem memungkinkan praktik pemaksaan.

Cak Nun menuturkan tema Mocopat Syafaat ini berdasar pada sebuah penawaran nilai. Entah apa pun nilai itu. Penampilan kesenian sebelumnya juga merupakan bagian dari nilai yang diberikan. “Ketika Anda memberikan itu Anda malah dapat banyak. Al-Qur’an sendiri banyak memakai ungkapan idiomatis yang berkaitan dengan tema perniagaan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Mas Helmi memaparkan kosakata atau idiom perniagaan di kitab suci. Pertama, hisab atau hitungan yang dalam konteks perdagangan. Kedua, qardhan hasanan atau pinjaman yang baik. Termasuk persoalan timbangan.

“Ini penting untuk kita garis bawahi. Mengapa Tuhan pakai kosakata itu. Karena pada fase Makkah, umumnya pekerjaan mereka berdagang. Kondisi ini akhirnya membuat audiens pertama di Al-Qur’an adalah para pedagang. Jadi sangat wajar kalau Tuhan berfirman dengan bahasa mereka,” terang Mas Helmi.

Latar historis masyarakat Makkah yang gemar berniaga itu juga terlihat pada Al-Baqarah: 261. Menurut Mas Helmi, kandungan ayat tersebut menggunakan ungkapan “lipat ganda”. Ia memberikan catatan tambahan: kebahasaan di sana sekadar perumpamaan bagi orang yang menafkahkan. Demikian pula rumusan masalah di dalamnya. Hanya pengandaian.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Prakondisi sosiologis para pedagang ini juga berefek pada kecenderungan psikologis masyarakat waktu itu. Mereka rajin dan gemar menumpuk harta. Efeknya bukan hanya ketimpangan sosial, melainkan juga membentuk penindasan baru. Latar ini menunjukkan genealogi kapitalisme di kawasan jazirah Arab. “Jadi kita perlu mengetahui konteks historis sebab-musabab turunnya sebuah ayat,” tambahnya.

Di penghujung acara Cak Nun juga mengingatkan kepada jamaah agar kritis terhadap kehendak memberi yang bermotif memperkaya diri. Memberi tak perlu bermotif apa pun kecuali ikhlas. Mengharap kembali cukup kondisi keyakinan atas berkah Tuhan. Mocopat Syafaat tadi malam memperkuat bahasan-bahasan bulan sebelumnya.

Populer