Tahhaduts Bini’matil Ma’iyah

Lap Krida Utama Limbangan Kutasari Purbalingga, 27 Januari 2020.
Foto: Adin (Dok. Progress).

Para Redaktur caknun.com menyampaikan informasi yang sangat membuat saya bergembira dan bersyukur. Dalam waktu seminggu sesudah ditajukkan “Netes Masa Depan Dunia”, lebih dari 100 anak-anakku Jamaah Maiyah sudah mengirimkan kepada mereka tulisan pendek untuk “Wisdom of Maiyah”. Dan sudah ditayangkan berkesinambungan sampai hari ini.

Tentu saja saya bergembira karena berarti insyaallah entah berapa lama lagi akan terbit buku anak-anakku “Wisdom of Maiyah” yang saya ada di dalamnya bersama mereka. Rasa syukur saya kepada Allah Swt adalah karena kiriman tulisan-tulisan pendek itu membuktikan kepada saya bahwa benih dan tanaman Maiyah sudah menjadi Kebun “Jannatul Ma’iyah”. Semacam himpunan benih-benih agar kelak diridlai Allah untuk bertempat tinggal di sorga sejatinya Allah Swt.

Yang membuat saya sekaligus berterima kasih dan bersyukur adalah karena tulisan anak-anakku rata-rata bagus dan “sublim”. Mengendap dan matang. Meng-inti dan men-tètès. Saya wajib jujur dan berterus terang bahwa saya tidak pernah menyangka anak-anakku sudah mengembara sampai ke keluasan dan kedalaman itu.

Maka saya menuliskan kenikmatan Maiyah ini. Sekalian mendambakan anak-anakku merenungkan kemungkinan-kemungkinan judul buku itu. Bisa “Hikmah Maiyah”, “Sorga Maiyah”, “Maiyah Menyapa Dunia”, “Maiyah Untuk Ummat Manusia” atau apapun. Kalau perlu anak-anakku sehari-hari sesempat-sempatnya mendzikirkan wirid “Allahummahdini”, dikasih sandal Istighfar dan berpakaian Shalawat. Atau syukur sekalian bersembahyang Istikharah.

Kemudian, dari seratusan tulisan yang sudah dikirim ke caknun.com, saya menemukan bahwa kebanyakan anak-anakku berpijak pada semacam keberangkatan akademis. Tentu saja itu sangat bagus dan membanggakan. Tetapi saya merindukan ekspresi, impresi atau refleksi Maiyah yang lebih otentik, alamiah pada pengalaman kalian masing-masing. Mungkin ia lebih bersahaja karena berasal dari lingkup rohaniah personalmu sendiri. Tetapi tulisanmu adalah tulisanmu sebagai diri orisinalmu. Semacam “galih” dari diri sejatimu.

Tentu saja boleh dan tetap bagus apabila tulisanmu mengandung hasil pengamatan, penelitian atau pengalaman. Tetapi engkau tidak harus menjadi ilmuwan meskipun tetap berada dalam disiplin ilmu. Tidak harus akademis, meskipun pola, peta, dan sistem berpikir tetap harus menjaga objektivitasmu. Engkau tidak harus menjadi perseptor dan analis, meskipun ketepatan pandang dan ketajaman analitik tetap menjadi bekal kematangan ekspresimu.

Jadi tulisanmu bisa “sekadar” bersumber dari pengalaman kecil dan seakan-akan remeh atau tidak penting. Yang sedang kita himpun ini adalah “Hikmah Maiyah”, bukan “Kitab Maiyah” atau “Ilmu Maiyah” dalam nuansa yang kaku dan kering.

Anak-anakku tolong jangan marah atau tersinggung. Berikut ini saya kasih contoh: 

Seorang Ibu mendatangi saya menjelang Bangbang Wetan Surabaya dimulai. Ia menyampaikan: “Cak, saya menyampaikan matur nuwun sekali”. Saya belum paham: “Matur nuwun untuk apa?”. “Suami saya sudah cukup lama ini mulai mau shalat. Sejak ikut Maiyahan”. Saya merespons, “Lho di Maiyahan tidak pernah ada anjuran atau ajakan untuk rajin shalat”. Si Ibu itu menjawab: “Mungkin dengan sering Maiyahan dia menjadi lebih tenang hatinya dan tertata pikirannya, sehingga salah satu hasilnya adalah ia menjadi rajin beribadah”. Suaminya adalah seorang Profesor Doktor, berada di posisi cukup tinggi di Universitasnya, dengan derajat akademis maupun jabatan administratif.

Di kesempatan lain suami istri datang menyatakan terima kasih juga. Karena sejak ikut Maiyahan, putranya menjadi jauh lebih santun dan mengabdi kepada kedua orangtuanya. Lebih mengerti terimakasih dan penuh tanggungjawab dalam hidupnya.

Jadi anak-anakku menulis tidak harus tentang dunia, globalisasi, Negara, Pemerintah dan sistem yang dijalankannya. Atau apapun yang besar-besar. Di Maiyah kita “Sinau Bareng” untuk belajar menemukan “Silaturahmi” atau sambungan kasih sayang antara sebutir jagung dengan ayat Al-Qur`an. Antara sandal jepit dengan Malaikat Jibril. Antara kuku hitam dengan Siti Maryam. Antara ngonthel sepeda dengan Lauhul Mahfudh. Antara apapun dan siapapun dengan apapun dan siapapun. Bahkan dengan tidak apapun dan bukan siapapun. Antara baqa dan fana. Antara ada dan tiada.

Mbah Nun
Yogya 15 Maret 2021.

Lainnya