Ta’dib Pesantren Padhangmbulan dan Komitmen Kesederhanaan

Dok. Padhangmbulan

Setelah melalui beberapa kali pertemuan dan musyawarah bersama Pak Mif, Cak Dil, Cak Nas dan Cak Nang, kami memutuskan Ta’dib Pesantren Padhangmbulan dimulai pada Jum’at, 27 Agustus 2021. Pesertanya dimulai dari siswa kelas XI SMK Global Mentuo Sumobito Jombang.

Ta’dib Pesantren Padhangmbulan bukan sekadar model belajar seperti kerap dijumpai di kelas-kelas sekolah. Tidak menjadikan siswa sebagai gelas kosong yang manut dan pasrah dituangi pengetahuan. Tidak pula dilangsungkan melalui komunikasi satu arah, dikotomi benar-salah, pintar-bodoh, serta sejumlah parameter akademik yang sempit dan linier.

Fondasi Ta’dib adalah semangat menemukan kembali keutuhan manusia. Para santri, pembina, dan pendamping Ta’dib Pesantren Padhangmbulan adalah manusia. Mereka berkomitmen untuk saling ngajeni satu sama lain, baik sebagai sesama manusia maupun hamba Tuhan yang masing-masing personalitas dianugerahi fadlilah.

Tidak berlebihan apabila Ta’dib menjadi formula yang mengobati dahaga para pembelajar di tengah cadas batu-batu pendidikan yang gersang dan tidak memanusiakan manusia.

Pukul dua siang para santri hadir di halaman Pengajian Padhangmbulan. Mereka melakukan registrasi, mengecek perbekalan, dan mengisi daftar hadir. Shalat Ashar berjamaah menjadi kegiatan pembuka sebelum para santri mengikuti rangkaian acara hingga pukul sebelas malam.

Yang menarik adalah sesi diskusi setelah shalat Ashar ketika para santri menyampaikan komitmen untuk disiplin, tanggung jawab dan sopan santun selama mengikuti Ta’dib. Komitmen itu merupakan hasil diskusi sekaligus kesepakatan bersama antar para santri yang tergabung dalam setiap kelompok. 

Bagaimana komitmen itu ditemukan? Nyaris tidak ada campur tangan atau intervensi dari pembina atau pendamping. Para santri tidak diceramahi apalagi sambil diancam-ancam agar mematuhi tata tertib dan sejumlah perilaku tertentu. Kita percaya dan husnudhdhon bahwa setiap manusia mengalami pembenihan langsung dari Allah. Mereka adalah para ahsanu taqwim. 

Sebelum Ta’dib berlangsung pada setiap sesi musyawarah bersama pengurus yayasan dan tim, Cak Dil memberikan tahapan-tahapan proses yang menjadi pijakan kegiatan. Tahapan itu meliputi pembenihan, penyemaian, pemupukan dan pemanenan. Tahapan yang diambil dari analogi menanam ini memandu pembina dan pendamping menyusun rangkaian kegiatan Ta’dib.

Adapun nilai-nilai pembelajaran telah dibangun sebelumnya pada Ta’dib angkatan pertama yang dipandu langsung oleh Mbah Nun. Kami tinggal melanjutkan serta melakukan modifikasi melalui ragam kegiatan. Nilai-nilai itu meliputi disiplin, tanggung jawab, adab/sopan santun, dan seterusnya.

“Silakan pembina Ta’dib menyusun tahapan-tahapannya sambil tetap memasang fondasi nilai seperti yang telah dilakukan Mbah Nun,” pesan Cak Nang. “Namun satu hal yang perlu diperhatikan: kita harus tetap dalam kesederhanaan.”

Dalam konteks ini menerjemahkan pikiran Mbah Nun, Pak Mif, Cak Dil, Cak Nang serta menjalankan amanah dari pengurus Yayasan Al-Muhammady memerlukan berlapis-lapis paradigma, sudut pandang, resolusi pandang dan seterusnya. Tidak cukup dipahami secara linier, kaku, dan hitam putih layaknya mematuhi regulasi formal struktural politik pendidikan. 

Dalam hati saya berkata, “Ini musyawarah Ta’dib, bukan rapat kerja Kepala Sekolah bersama Kepala Dinas Pendidikan.” Tentu saja spirit Maiyah, Sinau Bareng serta vibrasi Pengajian Padhangmbulan harus menjadi spirit dan vibrasi utama.

Dok. Padhangmbulan

Di atas panggung Pengajian Padhangmbulan, malam itu saya menyampaikan pesan kepada para santri. “Di tempat ini beberapa tahun lalu dilangsungkan Ta’dib angkatan pertama yang langsung dipandu oleh Mbah Nun. Malam ini, di tempat ini pula, tempat Pengajian Padhangmbulan, kita melangsungkan kegiatan Pesantren Padhangmbulan. Jadi, mari kita bersungguh-sungguh, temenan, agar selaras dengan kesungguhan dan keistikamahan Padhangmbulan.”

Saya merasakan Ta’dib Pesantren Padhangmbulan malam itu berlangsung khusyuk namun tidak merampas rasa bahagia. Serius tapi tetap dihiasi tawa gembira. Disiplin tapi tidak mengurangi fleksibilitas. 

Sabtu pagi sambil menyaksikan kegiatan yang dipandu oleh Mas Alfan saya berbincang dengan Cak Nang. Kembali beliau menegaskan, “Kita memang tidak bisa meninggalkan kesederhanaan.”

Sebagaimana Pengajian Padhangmbulan yang berlangsung selama lebih dari 27 tahun, kita  menyaksikan kesederhanaan yang menjadi salah satu pilarnya. Menjadi sederhana dan mempertahankan kesederhanaan ternyata tidak mudah di tengah atmosfer kepura-puraan yang dibungkus branding dan pencitraan. 

Ta’dib Pesantren Padhangmbulan menyadarkan saya akan hal itu.

Menturo, 27 Agustus 2021.

Lainnya