Tadabbur Lockdown di Maiyah

Photo by Matt Seymour on Unsplash

Ada dua hal di Maiyah yang terbetik di benak saya, ketika rekan Progress meminta saya menuliskan refleksi pandemi Covid-19 untuk jamaah Maiyah.

Yang pertama soal tamsil jamaah Maiyah, yang oleh Mbah Nun dianalogikan seperti “penghuni gua kahfi”. Para pemuda gua kahfi, mungkin satu-satunya komunitas yang pernah menjalani masa lockdown paling ekstrem terlama sepanjang sejarah dunia. Mereka “ditidurkan” Allah selama 300 tahun, lalu ditambah 9 tahun lagi. Begitu informasi Al-Qur’an. (Lihat QS. Al-Kahfi: 25).

Tidak ada keterangan rinci soal berapa jumlah persis pemuda al-kahfi yang bersembunyi atau disembunyikan di dalam gua tersebut. Demikian pula yang terjadi pada konfigurasi Maiyah. Maiyah telah berjalan hampir tiga dekade, melewati dua orde dan lima masa kepresidenan, telah melaksanakan acara-acara majelis ilmu dalam durasi yang berjalan panjang dan lama (7-8 jam dan rutin setiap minggunya di 5 titik tanpa sponsor atau berbayar), tapi Maiyah tetap sunyi tidak dikenal. Maiyah hakikatnya selama ini ter-“lockdown” dari arus mainstream dan viralnya pemberitaan. Acaranya yang dihadiri ribuan jamaah (atau boleh jadi puluhan ribu) sama seperti metafor pemuda kahfi, tidak ada yang tahu persis secara presisi berapa jumlah pasti pesertanya. Mereka tetaplah pejalan sunyi; al-ghuraba di tengah ingar-bingarnya kebisingan dan “kemajuan” zaman. Dalam konteks ini, Maiyah seperti diperjalankan untuk menggali khandaq (parit) peradabannya sendiri. Ter-lockdown dari modernitas tapi berdaulat atas lingkungannya sendiri.

Perjalanan panjang bermaiyah berpuluh-puluh tahun menyambungkan silaturahmi vertikal horizontalnya lewat pergulatan sinau barengnya, lantunan-lantunan munajat-hizb-wirid berjamaahnya, hingga kebersamaan shalawat cintanya kepada baginda Nabi Saw. harapannya dapat menumbuhkan pribadi-pribadi mandiri dan berdaulat penuh atas kehidupannya. Dengan semua laku itu, semoga hadir dalam lingkaran Maiyah suatu imunitas dan daya tangkal terhadap infeksi globalisasi yang membawa limbah materialisme, hedonisme, sekularisme, dan segala manifestasi peradabannya yang ateistik.

Hal kedua yang menarik perhatian saya ada pada istilah generik Maiyah itu sendiri. Di antara makna Maiyah adalah “kebersamaan dengan Allah”. Pilar utama bermaiyah adalah menyambungkan situasi kapan pun dan dimanapun agar tetap online dengan Allah Swt. dan juga Rasulullah Saw. Pelaku Maiyah hatinya mampu duduk bersila dalam keramaian dan tetap bisa asyik dalam kesendirian, karena hatinya selalu dipenuhi kesibukan berbisik-bisik mesra dengan Allah.

Dari kedua hal yang saya tadabburi pada Maiyah itu, nilai pembelajaran yang saya mau angkat adalah soal “ikhtiar membangun benteng pertahanan diri” sejurus dengan itu lalu “selalu bersinergi dengan langit, menyambungkan pertalian kepada perlindungan Allah Swt. Hanya Allah saja sebaik-baik penolong dan pelindung dalam kehidupan ini”.

Jurus Menghindar yang Gamang

Lockdown adalah istilah yang paling popular berkaitan dengan kondisi wabah. Penerapan lockdown terhadap suatu wilayah tertentu ditujukan dalam rangka pengendalian wabah dengan cara mencegah perpindahan manusia, baik masuk maupun keluar dari suatu wilayah. Berbagai kebijakan pembatasan yang diambil dari derivasi nilai lockdown, telah pernah dirumuskan pemerintah, tapi dengan formula yang gamang dan kerap berubah-ubah formatnya. Mulai PSBB, PSPB transisi, PSBB diperketat, PSBB transisi 2, PPKM, PPKM mikro, PPKM darurat hingga saat ini bernama PPKM level 3 & 4. Lockdown dalam artian yang sebenarnya, dengan dijalani secara totalitas sama sekali tidak pernah dilakukan. Kebijakan lockdown yang parsial demikian, terjadi karena di masa awal pandemi para penguasa sudah berbeda persepsi dalam soal Covid-19 apalagi soal membaca kemungkinan terburuk yang bakal terjadi di masa-masa mendatang. Sebagian besar pejabat di masa awal pandemi merasa over confident kalau negerinya ini “kebal sakti mandraguna”. Fenomena demikian juga sebenarnya bukan khas terjadi di Indonesia saja, hampir di banyak negara, para penguasa mengawali sikapnya secara denial terhadap kemungkinan penyebaran pandemi ke negerinya. Alasan menjaga denyut nadi perekonomian seperti menggalakkan sektor pariwisata, mengundang investor atau membuka pintu-pintu tenaga kerja asing lebih diutamakan daripada harus mawas diri dan bersikap ekstra waspada mengantisipasi sejak dini. Ya sudahlah, tidak perlu banyak dikeluhkan karena toh semua telah berlalu. (Yang terpenting, kita harus dapat belajar dari sejarah, lalu menemukan hikmahnya. Semoga ?).

Musuh “Tak Terkalahkan”

Kini boleh dikatakan tidak ada satu negara pun yang steril dari musibah pandemi virus novel Corona dengan segala implikasi kerusakan yang ditimbulkannya. Perjalanan menuju dua tahun pandemi, jumlah infeksi di dunia telah mencapai 194 juta orang, memakan korban lebih dari 4 juta jiwa di dunia, (lebih 80 ribu jiwa untuk di Indonesia). Angka-angka ini masih akan bergerak terus dan bertambah lagi.

Tidak ada siapapun yang mampu menjawab kapan wabah ini akan berakhir. Jika kita bercermin pada sejarah “keluarga virus corona” yang pernah hadir mengusik umat manusia sejak Flu Spanyol (100 tahun silam ), SARS (2002) & MERS (2015) durasi keberadaan mereka berada dalam rentang 1-2 tahunan. Novel Coronavirus ini berbeda dengan “kakak-kakaknya”. Jika virus seperti SARS yang memiliki Case Fatality Rate (CFR) 20 % dan MERS 40 %, sehingga digolongkan sebagai virus yang sangat ganas dan mematikan, maka CFR Novel Coronavirus sejak awal diperkenalkan dengan angka yang cukup rendah “hanya” 3-7 % saja. Tapi, yang kemudian terlewati ternyata, bahaya virus Novel Corona justru terletak pada anggapan tidak berbahayanya. Virus adalah entitas yang sepenuhnya bersifat parasit. Untuk keberlanjutan hidupnya, virus mutlak memerlukan host (rumah) hidup. Virus-virus ganas mematikan seperti SARS atau MERS tidak akan memiliki mata rantai generasi yang panjang, karena si virus akan “ikutan mati” ketika si tuan rumahnya meninggal dunia. Karena beratnya gejala orang yang terinfeksi SARS dan MERS, maka orang tersebut otomatis langsung ter-lockdown di kamarnya karena keadaan klinisnya yang berat.

Virus “yang cerdas” sebutlah begitu, tidak akan melakukan tindakan ekstrem seperti itu. Dengan CFR yang rendah maka spektrum manifestasi klinis orang terinfeksi Covid-19 menjadi beragam, dan sebagian besarnya tampil ringan bahkan tak bergejala (dulu diistilahkan sebagai OTG). Novel Coronavirus juga berbeda dengan pendahulunya, Ia menggunakan manusia sebagai host kendaraannya, maka transimisi perkembangannya juga berkait arus mobilitas manusia yang sukar dikendalikan. Penerapan lockdown secara total sukar diterapkan, karena tentu akan menimbulkan krisis dalam dimensi sosial lainnya terutama faktor ekonomi.

Reputasi penyebaran Novel Coronavirus adalah yang paling fantastis dari semua jenis corona, kini bahkan ia telah mendesak hingga benteng paling inti dalam tatanan sosial masyarakat yakni: keluarga! Dan untuk Indonesia, akhirnya di bulan Juli 2021 ini memasuki babak di mana negeri ini meraih urutan teratas di dunia dalam jumlah kejadian kasus baru dan persentase kasus kematian akibat Covid-19.

“Kecerdasan lainnya” dari Novel Coronavirus adalah kemampuannya menyamarkan dirinya. “Penyakit dengan tampilan 1000 wajah” merupakan predikat yang disematkan pada infeksi Covid-19. Ia tidak hanya menyerang sistem pernafasan, tapi juga mampu menghajar pembekuan darah, menyebabkan stroke dan serangan jantung hingga manifestasi-manifestasi klinis ringan pada mata, kulit, dan saluran pencernaan. Bersamaan telah hadirnya vaksin, namun Novel Coronavirus pun sialnya ikut “belajar” mengubah dirinya bermutasi untuk semakin efisien sebagai agen penginfeksi serta bertambah kemampuan virulensi keganasannya. Muncul strain-strain baru, dengan nomenklatur yang juga berubah-ubah alpha, beta, delta, gamma, epsilon, zeta, eta, tetha, iota, kappa. Entah apalagi nanti perubahan varian jenis ini di masa mendatang ?

Masyarakat dunia telah salah berhitung dalam menghadapi mikroorganisma liliput ini. Berawal dari menyangkal, menyepelekan sempat dibuat gurauan olok-olok, lalu shock kaget hingga akhirnya terpojok kanvas tidak berdaya.

Saat merenungkan ini, saya teringat liriknya Mbah Nun dari salah satu nomor album kaset Zaman Wis Akhir tahun 1999, yang pesannya terasa sangat relevan dengan kondisi saat ini.

Kalau YANG SUNYI engkau anggap tiada
Maka bersiaplah terbangun mendadak dari tidurmu oleh ledakannya.

Kalau yang diam engkau remehkan,
bikinlah perahu agar di dalam banjir nanti engkau tidak tenggelam.

Kalau YANG TAK TERLIHAT oleh pandanganmu engkau tiadakan,
bersiaplah jatuh tertabrak olehnya.

Dan kalau YANG KECIL engkau sepelekan,
bersiaplah menikmati kekerdilanmu di genggaman kebesaran-Nya.

[Emha Ainun Nadjib]

Dalam khazanah Islam, mungkin satu-satunya teks yang secara eksplisit bicara tentang wabah adalah sebuah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim: Rasulullah Saw. mengatakan: “Tha’un (wabah) adalah suatu peringatan dari Allah Swt. untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” Konten hadits ini menginformasikan anjuran tentang pentingnya prinsip “karantina dan isolasi” dalam berhadapan dengan wabah penyakit.

Wabah hanya disebabkan oleh species jasad renik dari golongan virus atau bakteri. Kedua jenis mikroorganisme itu merupakan mahkluk Tuhan yang teramat tangguh. Virus dan bakteri, adalah penghuni paling senior di planet bumi ini. Leluhur mereka telah ada sejak 3 miliar tahun silam. Ketika para predator raksasa purba seperti Raptor atau T-Rex punah dihantam hujan-hujan api meteorit dari langit, virus tetap bertahan hingga hari ini. Mereka menjadi saksi sejarah periode katastrofis yang pernah berlangsung di bumi dan yang sangat kaya pengalaman asam garam sebagai penyintas kehidupan.

Novel Coronavirus terlalu kecil ukurannya, 900 kali lebih kecil dibanding sebutir pasir pantai. Ia dapat menyisip masuk hingga menembus ke wilayah paling sakral dalam struktur jasad manusia yakni inti pada sel manusia yang disebut “nukleus”. Nukleus ibaratnya merupakan sebuah brankas baja kokoh yang menyimpan harta kehidupan paling berharga yakni material genetik yang berisi manual petunjuk kehidupan. Nyaris tidak ada entitas atau unsur yang seenaknya dapat masuk menembus nukleus. Ilmuwan medis mengembangkan smd (small drug moleculer dan teknologi nano medicine) agar dapat mengirim messengger masuk ke dalam inti sel. Namun hingga hari ini, teknologi farmasi paling hebat sekalipun belum mampu menciptakan peluru-peluru farmakologis yang dapat memberangus virus Corona (juga jenis-jenis virus lainnya). Kemampuan penetrasi Novel Corona hingga ke dalam inti sel manusia, lalu membajak kode-kode DNA/RNA untuk keperluan regenerasi spesiesnya menjadi bukti “kehebatan” sepak terjangnya.

Lantas bagaimana menghadapi musuh teramat halus dan invisible ini? jumlahnya sangat banyak dan mereka bisa ada di mana-mana. Upaya-upaya obyektif dan pendekatan ilmiah medis yang canggih dalam hampir dua tahunan ini, masih belum mampu secara tuntas mengatasi pandemi Novel Coronavirus. Bila strategi yang digunakan adalah berhadapan secara frontal kepada mereka, maka bolehlah dikatakan “kita tidak akan pernah memenangkan perang melawan mereka!”. Dokter, nakes dan orang-orang yang bergelut di dunia kesehatan tentu akan lebih memprioritaskan memilih cara-cara preventif dan promotif dalam strategi mengalahkannya. Karena itu, jangan pernah sebut nakes merupakan garda terdepan dalam mengatasi pandemi ini. Kita semualah garda terdepan itu tanpa kecuali. Menghadapi pandemi bukan fardhu kifayah, yang bisa didelegasikan pada sebagian kita melainkan menjadi fardhu ‘ain bagi kita semua dengan posisi kita masing-masing sebagai apapun.

Karena penyebarannya diperantarai oleh manusia, maka faktor mobilitas manusia menjadi fokus sangat penting untuk memutus mata rantai penyebarannya. Penerapan lockdown total jelas sudah kehilangan momentum dan memiliki dampak sosial ekonomi yang luar biasa. Adanya istilah “cluster keluarga” telah menjelaskan pada kita, bahwa pada saat ini Novel Coronavirus “sudah mengepung dari 4 penjuru mata angin”. Tidak perlu kehadiran orang asing untuk membuat grafik kasus meningkat, tapi kini cukup dari lingkaran terdekat di lingkungan sendiri. Menjaga jarak merupakan sebuah anjuran yang senafas dengan nilai lockdown dalam skala terkecilnya. Bila kebijakan seperti PSBB atau PPKM dilakukan oleh pihak berwenang secara top down, maka menjaga jarak lebih merupakan kesadaran yang dibangun dari tiap individu. Aplikasi jaga jarak yang paling utama saat ini adalah menjaga pintu-pintu masuk bagi Corona pada skala pribadi dengan “mengenakan masker”. Dari anjuran-anjuran prokes yang kerap berubah-ubah 3M, 5M kini 10M, dua variabel yang terpenting di mana kita berdaulat secara penuh adalah mengenakan masker dan rajin mencuci tangan. M-M lainnya sulit dipraktikkan karena semakin lama pembatasan semakin berhubungan dengan penghidupan real masyarakat. Ikhtiar sungguh-sungguh dalam mengenakan masker menjadi andalan utama dalam memproteksi dan membentengi diri.

Mengenakan masker disertai dengan setelan kerendahan hati. Mengenakan masker bukan berarti merasa diri bersih sehingga mencoba menghindar dari kontaminasi orang-orang lain, karena bisa jadi sebaliknya, kita yang sudah menjadi carier (OTG: orang tanpa gejala) yang potensial menularkan kepada orang-orang lainnya. Jika sebuah fatwa harus dikeluarkan, hemat saya dua sikap preventif ini (masker & cuci tangan) adalah yang paling harus dijaga dan dijalani. Sementara dari perkembangan di segmen kuratif dan rehabilitatif, obat-obatan antivirus memang sudah ada. Obat-obatan ini secara prinsip bekerja dengan dua cara menyerang langsung protein virus atau memblok protein virus agar tidak berinteraksi dengan protein-protein sel yang diinfeksinya. Namun kedua model cara kerja obat antivirus ini belum memberi efektivitas yang memuaskan hingga kini. Umumnya perawatan dan pengobatan infeksi virus di rumah sakit dilakukan sebatas penanganan simptomatik (bersifat mengatasi gejala) dan suportif (menunjang) sifatnya. Andalan utama yang dipercaya akan mengantarkan pada proses pemulihan sempurna adalah dengan mengandalkan faktor imunitas (kekebalan tubuh) anugerah Tuhan.

Membangun imunitas diri adalah kunci utama mengatasi penyakit infeksi virus dalam skala individu. Prinsip penatalaksanaan utamanya kembali dengan membangun benteng pertahanan diri.

Namun persoalannya tidak sesimpel itu, sistem kekebalan itu unik. Orang-orang punya kondisi kekebalan yang berbeda-beda satu dengan lainnya tergantung kondisi fisiologisnya masing-masing. Sistem kekebalan itu sendiri bersifat dinamis dan selalu bergerak. Formasi pasukan kekebalan ini selalu berubah sering bergantung siapa yang dihadapinya. Saat musuh baru muncul, sistem ini pada lini pertama menghadapinya dengan formasi pasukan umum. Lalu dalam tahap selanjutnya sistem kekebalan ini akan membentuk “pasukan elit khusus” yang dibentuk sesuai jenis musuh yang menyerang. Pasukan elit khusus bukan hanya soal tentara yang terampil dalam urusan bertempur, tapi pasukan ini memiliki kecanggihan dalam berkomunikasi untuk memanggil pasukan-pasukan lainnya saat mereka butuh bantuan dan yang istimewa punya kemampuan memori tajam untuk segera mengenali penyusup yang pernah masuk. Pasukan khusus ini dibentuk lewat dua peristiwa, secara buatan lewat vaksinasi dan secara alami lewat paparan virus yang asli alias terinfeksi atau sekadar terpapar.

Ada upaya penting yang sering diabaikan, yakni memperkuat pasukan umum dari sistem kekebalan yang kita miliki, bagaimana caranya? Apa yang dapat kita lakukan ? (Bersambung)

Sangatta, 26 Juli 2021.

Lainnya