(Sinau Puasa, bag. 7)

Supaya Tubuh dan Pencernaan Tak Kaget

Image by mohamed Hassan from Pixabay

Nabi memang top! Beliau mengajarkan kepada kita step-step kehidupan ini dengan sederhana. Urusan berbuka saja beliau mengajarkan, gak usah emosian, gak perlu terburu-buru dan tergesa-gesa, agar tubuhmu tak kaget setelah sekian jam (di negara kita rata-rata 14 jam), dan tentu saja akhirnya baik untuk kesehatan.

Ibarat sebuah lagu, ia dimulai dengan intro, kemudian masuk ke lagu, dan ada interlude-nya, kemudian lagu lagi dan coda. Demikian juga dengan berbuka, mulailah dengan yang ringan dulu, yang gampang dicerna oleh tubuhmu, agar tubuhmu dan pencernaanmu tidak kaget, dan tubuhmu pelan-pelan bisa menerima makanan seperti biasa.

Mulailah dengan minum air putih, makan buah (kurma) kemudian sholatlah dulu, baru sesudah itu ‘makan besar’, tapi ingat makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan — kemudian beraktivitas seperti biasa.

Saya pun sedang belajar banyak untuk berpuasa, puasa sesungguh-sungguhnya. Bahkan nanti akan saya ceritakan bahwa puasa bisa menyembuhkan penyakit berat tanpa obat. Tidak seperti saya yang kemaren-kemaren, fisiknya berpuasa, tidak makan atau tidak minum dan tidak melakukan hal yang membatalkan puasa, tetapi apakah itu jaminan emosi kita juga berpuasa? Pikiran kita juga berpuasa? Ah, terlalu rumit ya saya memikirkannya, mending saya coba bernostalgia saat-saat Ramadhan waktu saya kecil.

Waktu kecil, saya tinggal di kampung di dekat kali Winongo, berbatasan antara kotamadya dengan kabupaten. Masih banyak kebun dan sawah, walaupun sebagian besar milik saudara-saudara sendiri. Ada Simbah buyut, Simbah, Paklik dan juga Pakde. Tingggal bersama Simbah di dalam satu rumah yang engga besar cukup menyimpan banyak cerita.

Setiap habis jamaah shalat Subuh di mushalla Simbah saya, lanjut dengan jalan-jalan pagi berombongan dari mushalla kemudian ke jalan besar sampai di kebun bibit terus putar balik. Sesudah itu blusukan dari kebon ke kebon untuk memunguti biji belinjo yang jatuh, dikumpulkan dalam sebulan untuk dibuat emping di hari raya.

Selain ‘golek mlinjo’ tersebut, saya juga plirak-plirik barangkali ada jambu atau mangga yang jatuh. Nah kalau dapat buah-buahan tersebut, maka dikumpulkan dijejer-jejer di atas meja untuk berbuka nanti.

Itu puasa saya zaman kecil saya. Yang ingin saya katakan adalah bahwa saya berpuasa kok tujuannya untuk berbuka, padahal nantinya kalau berbuka, hasil memungut buah-buahan di kebun tersebut juga enggak habis dimakan selama berbuka.

Eh tapi, fenomena ini ternyata masih berlanjut di sekitar kita. Sebelum puasa pun di instansi-instansi, perkumpulan-perkumpulan, komunitas-komunitas, sekolahan-sekolahan sudah memikirkan kapan diadakan acara buka puasa bersama. Masya Allah…! Terus dipikirkanlah menu A, B, C dan seterusnya.

Untungnya sekarang masih situasi pandemi. Tapi, kayaknya acara-acara itu, walaupun terbatas saya yakin masih berlangsung pada sebagian kalangan tertentu.

Masak iya buka bersama secara virtual?

(bersambung)

Lainnya