Sunan Bambang Darto Kalijaga

Photo by Agto Nugroho on Unsplash

Ilmu Hidup yang Sudah Dilakoni

Ada pertemuan lintas komunitas sastra di bagian belakang kantor Berita Nasional (Bernas) Gondomanan 15, sekarang Kantor BRI. Komunitas Insani, Remaja Nasional, Persada Studi Klub, penulis di Mingguan Eksponen, Kedaulatan Rakyat juga lainnya yang saya tidak ingat lagi. Ruang belakang Bernas itu cukup luas. Hadirin duduk lesehan. Acaranya, Oleh-Oleh dari Jakarta. Maklum waktu itu penyair senior dari Persada Studi Klub Malioboro diundang ke TIM. Ketua suku Umbu Landu Paranggi hadir.

Disampaikanlah laporan pandangan mata tentang pengalaman di TiM itu yang intinya wong Yogya percaya diri sebagai sastrawan Yogya. Detail peristiwa saya lupa, maklum sudah puluhan tahun silam peristiwa ini terjadi.

Yang tidak bisa saya lupakan adalah tampil dan beraksinya Mas Bambang Darto.

Entah siapa yang mengomando, semua hadirin membuat tepuk paha berirama. Bunyinya: thek dhuk thek dhuk dhuk dhuk thek thek dhuk. Begitu terus-menerus berulang-ulang sampai lama memunculkan suasana ritmis magis mistis. Di tengah-tengah suasana mistis ini Mas Bambang Darto muncul, juga dengan gerak ritmis magis mistis. Ia mementaskan drama mini kata yang bagi saya menakjubkan. Memanjakan imajinasi penonton. Saya jadi ingat fatwa seorang senior: kalau ketemu karya seni yang demikian jangan berusaha memahami. Yang penting nikmati dan nikmati dengan panca indera, dengan hati, dengan jiwa. Dengan demikian kita bisa masuk ke dalam pertunjukan ini.

Mesin penghayatan pun saya gerakkan untuk menikmati bunyi-bunyian dan gerak gerakan yang sulit dipahami tetapi mudah dinikmati. Begitu Bambang Darto selesai beraksi, hadirin bertepuk tangan menggemuruh. Termasuk Umbu Landu Paranggi yang pernah menjadi aktivis teater itu.

Dalam perjalanan pulang ke rumah yang terngiang di kepala bukan isi oleh-oleh dari Jakarta, tetapi pertunjukan singkat, minikata dan minigerak yang amat kuat itu.

Saya selalu ingat bunyi tepuk paha itu dan kalau ngisi pengajian anak-anak atau Pramuka saya ajarkan, tetapi saya ubah menjadi bunyi yel yel yang ekspresif. Kalau ada kesempatan ngisi workshop teater kampus juga saya ajarkan untuk menghidupkan suasana.

Itulah perkenalan awal saya dengan Mas Bambang Darto. Cah Malioboro, yang waktu itu masih dalam episode ‘Brandal Lokajaya’ dan belum masuk episode sebagai ‘Sunan Kalijaga’. Memang menurut Kiai Ahmad Thohari, dalam hidup manusia biasanya melewati periode atau episode ‘Brandal Lokajaya”, artinya masih suka memanjakan kenakalan tertentu sebagai pintu masuk menuju kedewasaan pribadi. Kang Ahmad Thohari sendiri mengaku pernah akan tergoda menjadi ‘Lokajaya’ dan untung ingat dengan nasab dan sanad sehingga cepat masuk ke periode ‘Sunan Kalijaga’. Tentu kadar ‘Lokajaya’ masing-masing orang berbeda. Pemberontakan kultural semacam ini kalau selamat justru akan mengantarkan seseorang menjadi ‘Sunan Kalijaga’ yang kesadaran beragama dan kealimannya otentik, orisinal, dan tidak KW.

Saya menyaksikan Orang-orang Malioboro Yogyakarta mendapat hidayah seperti ini. Periode ‘nggembyeng’ menurut istilah Cah Karangmalang akan ditutup dengan periode ‘nggenah’ dan ‘maton’ uripe.

Setelah puluhan tahun tidak ketemu, mungkin masing-masing masih asyik dengan dunia ‘Lokajaya’, saya suatu hari dipertemukan oleh Tuhan dengan Mas Bambang Darto di sebuah rumah mungil di barat kampus UMY. Saya kaget, trenyuh, dan bersyukur. Rumah dia dilengkapi dengan langgar tempat dia beribadah dan iktikaf selama hidup. Saya merasa rendah diri dan tidak sanggup menjangkau maqam spiritualnya. Seperti saya kaget dan terharu ketika bertamu di rumah Bang Fauzi Rijal disuruh nunggu di ruang tamu karena beliau mau merampungkan tadarus Al-Qur’an. Atau saya terhenyak dan bersyukur ketika ketemu Mas Gentong Selo Ali yang tiba-tiba mengajak saya ngobrol tentang ilmu makrifat. Dengan pengalaman spiritual yang menakjubkan.

Nah, dalam obrolan dengan Mas Bambang Darto, dia bercerita kalau diminta masyarakat untuk memakmurkan masjid di dekat rumah. Juga diminta mengisi pengajian. Dia bilang, kehidupan duniawi sudah cukup, lewat, dan saatnya merintis kehidupan ruhani. Saya sudah mau bercanda dengan bertanya kapan dia ketemu Sunan Bonang dan ditunjukkan pohon kolang-kaling, tetapi tidak sampai hati.

Saya fokus pada maksud kunjungan silaturahmi ke rumahnya. Yaitu meminta Mas Bambang Darto membaca puisi humor saya yang bukunya di-launching di Taman Budaya Yogyakarta. Sebenarnya, berhadapan dengan ‘Sunan Bambang Darto Kalijaga’ ini saya tidak tega untuk meminta beliau membaca puisi humor saya. Akan tetapi karena tugas dari SPS tetap saya sampaikan. Mas Bambang Darto dengan gembira menyanggupi permintaan yang mengingatkan aktivitas di masa-masa muda ini. Saya mengucapkan banyak terimakasih, tentu saja.

Saya pun berguru kepada beliau tentang ilmu hidup yang membawanya menjadi penyuluh kehidupan masyarakat sekitar dengan menjadi khatib Jum’at dan guru ngaji.

Ketika saya menonton film Kartini besutan Hanung Bramantyo, saya surprise ketika yang menjadi Kiai Shaleh Darat adalah mas Bambang Darto. Guru agama RA Kartini menyanggupi permintaan muridnya untuk menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa.

“Wah, Pas tenan,” kataku lirih.

Yogyakarta, 21 Mei 2021

Lainnya