(Sinau Puasa, bag. 8)

Sudah Mengurangi Konsumsikah Kita?

Photo by Fikri Rasyid on Unsplash

Mestinya esensi puasa adalah ‘menahan diri’, mengekang, mengurangi, dan tidak berlebih lebihan. Lebih jelas lagi adalah (dan ini definisi yang saya suka) melakukan apa yg tidak kita sukai, dan tidak melakukan apa yang kita sukai.

Dalam kesehatan finansial, puasa akan menyehatkan kondisi finansial, kalau bukan dengan cara menambah income, setidaknya dengan puasa akan mengurangi pengeluaran. Contohnya adalah: yang mestinya makan 3 kali sehari, maka dengan puasa akan berkurang menjadi 2 kali saja yaitu pada waktu buka puasa dan sahur.

Marilah kita lihat kondisi riil di masyarakat atau di banyak lapisan masyarakat. Dalam penggunaan listrik, terutama untuk penerangan atau untuk keperluan perlistrikan yang lain, yang terjadi adalah kenaikan pemakaian daya listrik. Kita tengok tagihan listrik sebelum Ramadhan dan sesudah Ramadhan. Atau berapa kali kita menambah token listrik selama bulan Ramadhan ini. Bahkan PLN sendiri pernah menghitung bahwa konsumsi listrik selama ramadahan meningkat 10%.

Untuk urusan makanan, pada kenyataannya kita mengeluarkan anggaran ekstra untuk mengada-adakan konsumsi buka puasa dan sahur. Apakah itu dengan acara buka bersama, sahur bersama atau di tingkat rumahan. Banyaknya pedagang makanan ‘tiban’ di pinggir-pinggir jalan, dan banyak pula pembelinya. Apa artinya?

Ada satu artikel yang cukup menarik ketika saya berselancar di dunia maya, artikel yang berjudul ‘Konsumsi Gula Pasir meningkat di bulan Ramadhan, kenali perbedaannya’. Masyarakat kita suka yang manis-manis, karenanya masyarakat kita jadi manis. Menarik memang fenomena ini.

Ada lagi fenomena (kalau waktu kecil saya namanya ‘mlaku-mlaku’ (jalan-jalan) — sesudah jamaah subuh). Naah, sekarang mlaku-mlakunya engga pakai kaki, tetapi pakai sepeda motor, tentu tujuannya lebih jauh, tidak sekadar dari mushalla saya ke Dongkelan. Nah kalau sore hari sambil menunggu buka puasa, jalan-jalan sore itu disebut ngabuburit, ini juga bentuk kegiatan konsumtif (bahan bakar minyak).

Kenapa di bulan yang mestinya mengekang, mengurangi, justru konsumsi berbagai hal makan, listrik dan BBM, malahan naik? Malah cenderung pemborosan menurut saya. Jelas ada yang salah dalam pemaknaan ‘shaum’ itu.

Kita dididik oleh media-media untuk menjadi insan yang konsumtif. Menjadi insan yang lama-lama akan ‘sakit’ oleh pola-pola kegiatan semacam ini. Menjadi tugas siapa ini untuk kembali meluruskan tujuan puasa itu sendiri? Tidak sekedar shiyam (menahan diri dari makan dan minum serta bergaul antara isteri-suami), tetapi shaum (tidak hanya mencegah makan, minum dan bergaul antara istri-suami tetapi juga harus mencegah bicara, mendengar, melihat dan bahkan pikiran dari hal-hal yang merusak ibadah puasa).

Malahan fenomena ini di-support dengan kita lihat di koran-koran yang memuat berita-berita bahwa ketersediaan bahan pangan termasuk bawang merah, telor, cabai, daging sapi ayam dan gula pasir sampai ketersediaan BBM dijamin cukup, bahkan melimpah. Fenomena seperti ini di masyarakat berimbas secara finansial jelas tidak sehat, secara emosional juga tidak sehat. Bahkan nanti akan timbul masalah kesehatan fisik sesudah puasa, di mana semestinya puasa bisa menyembuhkan, setidaknya bisa mengontrol masalah kesehatan.

Nah dengan pandemi ini paling tidak bisa sedikit ‘nge-rem’ pemborosan yang terjadi.

Bagaimana secara spiritual? Apakah sehat?

(bersambung)

Lainnya