Stay at Home, Mengenang Ramadhan Setahun Lalu

Image by Andrew Neel from Pexels

“Ramadhan tiba, Ramadhan tiba…”

Sayup-sayup lagu itu terdengar kembali. Seiring iklan sirup dan iklan sarung hilir mudik muncul di tv, semacam tanda yang bisa dipastikan bahwa bulan Ramadhan telah hadir kembali di tengah-tengah kita.

Sekalipun Corona masih menjadi penyebab kegalauan umat manusia, namun Ramadhan tetap mengada. Puasa tetap jalan. Dan umat tetap tak terpengaruh, menggeliat senantiasa.

Sudah dua Ramadhan ini kita dalam kondisi mau tak mau menerima tamu yang menurut dunia menyeramkan. Satu jenis virus yang dunia global sepakat bahwa virus ini mematikan, ngeri, dan berbahaya tak terkira. Corona namanya, seperti yang kita semua sudah ketahui.

Saya tidak akan membahas Corona secara detail ataupun cabang-cabang efeknya lebih lanjut. Bukan ranah saya. Saya hanya mencoba mencari setetes air hikmah dari setahun kebelakang saat awal Maret 2020 di mana Corona hadir ke bumi ini. Adakah titik terdalam dari diri kita memahami sesuatu yang lebih, setidaknya mungkin bisa membuat kita lebih mampu menentukan langkah yang tegap dan bijak. Sebagai bekal menjalani puasa Ramadhan tahun ini. 2021.

Awal corona hadir, semenjak bulan Maret 2020, ada beberapa hal yang tidak diperbolehkan selama pandemi ini berlangsung. Salah satunya adalah berkerumun. Saking seramnya efek virus ini, kita diharuskan menghentikan kegiatan yang melibatkan orang banyak. Hanya diperbolehkan berkegiatan di rumah dan dari rumah.

Akibatnya, perekonomian semua skala saat itu ambyar, habis, dan mayoritas gulung tikar. Dari kalangan pebisnis tingkat dewa hingga tingkat hamba bubar jalan. Mati kutu. Semua kalangan bisa dipastikan mengeluh saat itu. Tak disangka Corona yang dikirim untuk merenggut kesehatan badan bisa-bisanya ikut merenggut perekonomian tak hanya beberapa ratus atau ribu orang, namun kepada manusia sedunia. Ngeri-ngeri takjub rasanya.

Saat itu, seluruh dunia lengang dan sepi, sekalipun di tempat yang seharusnya penuh sesak ramai. Jarak menjadi keharusan. Dan berdiam diri di rumah adalah wajib bagi semuanya. Tak ada anak sekolah. Tak ada jualan tempe goreng, tak ada bengkel buka. Pabrik-pabrik jenis apapun tutup. Bandara berhenti beroperasi. Tempat wisata tak boleh menerima pengunjung. Tak ada jualan apapun. Tak ada dan tak boleh. Tak ada tempat hiburan. Tak ada mall buka. Tak ada nongkrong di warung. Hingga tak ada sholat jamaah di masjid. Tak boleh. Seolah roda kehidupan di suruh berhenti sejenak. Siapapun harus ngempet dan harus stay at home (tetap tinggal di rumah). Terlepas pro dan kontra, berkerumun dimanapun dan oleh siapapun tidak diperbolehkan. Saat itu.

Walau lambat laun kegiatan-kegiatam itu kini telah diperbolehkan kembali, dengan syarat disiplin prokes yang dianjurkan pemerintah. Seperti jaga jarak, tidak boleh salaman atau kontak fisik, tak ada berkerumun, pakai masker dan sering-sering cuci tangan. Maka sepi sudah tidak terlalu dan orang telah gregah bekerja kembali. Dan melakukan aktiviitas hampir-hampir normal. Roda perlahan bergerak kembali. Kini.

***

Dan mari kita flash back ke setahun belakang sejenak.

Ramadhan tahun lalu seolah beberapa hasrat dan hak untuk “ingin” kita terampas. Dan berlaku kepada siapapun, entah dia memiliki uang atau tidak. Tua muda anak-anak, orang baik maupun penjahat, laki-laki perempuan, Islam maupun non-Islam. Siapapun tanpa pandang bulu. Dan siapapun itu tetap saja tak bisa memenuhi beberapa “ingin“ tersebut. Sekalipun ia mampu membayar.

Nongkrong di warung angkringan adalah hal termurah dan seolah mampu dibeli oleh bahkan pemilik seribu rupiah. Entah punya uang untuk beli warung seisinya atau kita adalah hanya seorang yang hanya mampu membeli secangkir kopi, tidak boleh nongkrong dan berkerumun di warung angkringan sejuta umat itu. Atau sekalipun kita adalah siswa pintar sundul langit, di mana juara 1 adalah kelumrahan, tetap saja tidak boleh masuk sekolah. Sebingung dan sepusing apapun orangtua dengan sistem belajar dari rumah (online), saat itu mau tak mau orangtua harus belajar sabar mengajari anaknya sendiri di rumah dan tidak boleh mengirim anaknya ke sekolah.

Sejenuh apapun jiwamu, tetap tidak boleh pergi ke tempat-tempat wisata yang ada di puncak atau pantai. Semelarat apapun tetap tidak boleh jualan, karena berjualan di pasar adalah tindakan berkerumun. Serewel apapun istrimu ngidam minta mie ayam atau martabak, tak akan bisa terturuti, walaupun kamu bisa membeli sepuluh porsi sekalipun. Karena membuka warung mie ayam atau martabak akan memancing kerumunan. Dan ketahuilah berkerumun saat itu bagai dosa.

Serindu apapun dengan kawan, karib, keluarga atau kekasih, hanya kepada layar handphone kita boleh saling sapa dan melayangkan rindu. Pagelaran seni dan ilmu hanya bisa dinikmati pun juga melalui layar canggih handphone , laptop, dan sejenisnya. Kelulusan siswa dan mahasiswa digelar megah hanya dirumah masing-masing.

Sekangen apapun kita untuk jamaah shalat taraweh di masjid, hal itu muskil dilakukan, jangan sampai berkerumun sekalipun niatnya jamaah atau ibadah. Aturan yang berlaku memaksa kita semua untuk membangun ruh nuansa masjid di rumah masing-masing. Sekalipun Ramadhan tahun lalu umat Islam sangat nelangsa. Baru kali ini ada larangan berjamaah. Baru kali ini ada larangan tak boleh Haji. Bahkan larangan itu berlaku seluruh dunia. Aneh dan mengenaskan, seolah.

Dan akhirnya, satu-satunya tempat nongkrong, belajar, bekerja, rapat, sholat taraweh, minum kopi atau menganggur seperti biasanya ya hanya di rumah. Titik.

Saya anggap stay at home ini sebagai puasa. Makna puasa adalah menahan. Sedangkan tindakan stay at home mengandung makna menahan. Menahan diri untuk tidak keluyuran.

Puasa yang kita ketahui adalah menahan diri untuk tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan hubungan badan atau melampiaskan syahwat bagi suami istri pada waktu yang telah ditentukan. Dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Begitu syariat fiqih menentukan. Dan menahan untuk tidak kemana-mana inipun juga adalah puasa. Saat kita sangat dianjurkan stay di rumah, banyak hal yang kita tahan untuk tidak dituruti. Namun makanan tak harus berwujud makanan dalam puasa jenis “stay at home” ini. Mungkin ini sejenis puasa yang tertulis hanya dalam buku di kedalaman Al-Alim-Nya.

Menjalani nongkrong adalah makanan bagi jiwa-jiwa yang sepi dan tak mampu sendiri. Pergi ke sekolah bertemu kawan dan ilmu adalah makanan bagi siswa teladan. Bekerja giat adalah makanan bagi jiwa-jiwa workholic. Pergi ke tempat wisata adalah makanan bagi mereka yang jenuh dan stres. Pergi berjamaah ke masjid adalah makanan bagi ruhani yang sudah terkadung nikmat menjalani jamaah dan merasakan sejuknya masjid. Atau sekadar keluar rumah mencari angin adalah makanan bagi siapa saja, entah bagi mereka yang tegang hidupnya atau yang landai-landai saja. Dan masih ada sekian ratus atau ribu jenis hal atau “makanan” lain yang harus kita tahan saat kita dilarang keluar rumah dalam kurun waktu yang lumayan lama. Saat itu.

Perlu kita sadari sebenarnya pada “keinginaan” apapun itu, pada batas tertentu patutlah kita puasai, karena jelas hal yang berlebihan Allah tak pernah anjurkan. Jangan sampai Allah langsung yang menghendaki kita puasa pada hal-hal yang remeh sekalipun seperti kasus stay at home ini. Karena kita tak mau puasa. Maunya berlebihan. Maka hanya paksaan yang bisa dilakukan. Allah memiliki kuasa untuk memaksa siapapun untuk puasa. Mau tak mau, puasa menjadi sebuah pilihan untuk menjadi jalan aman agar selamat.

Dalam puasa jenis “stay at home” ini adalah puasa yang hampir-hampir komplit jenis menahan atau ngempetnya. Barangkali, setidaknya itu menurut saya. Gara-gara Corona ini semua umat kepercayaan apapun, hingga tak memiliki kepercayaan, atau bejat sekalipun, sedunia, melakukan hal yang bernama berpuasa. Dan bahkan pada skala luas tak hanya puasa kepada makanan, minuman atau syahwat. Namun terhadap apapun yang ada di luar rumah.

Ramadhan tahun lalu kita seolah dipaksa uzlah ke kedalaman diri oleh Allah. Uzlah di dalam rumah batin iman kita masing-masing dan puasa dari keinginan-keinginan di luar rumah. Hal itu menjadi satu-satunya cara yang aman dalam menyapa Corona. Bagai kita dipaksa bertapa dari keramaian diluar rumah menuju kontemplasi khusuk di kedalaman diri, di dalam rumah. Bahkan hingga Lebaran kita masih di-training untuk tetap puasa dari mudik dan puasa dari mengunjungi sanak saudara tetangga.

Dan saat itu sebenarnya jika mampu kita mendengar, mungkin hati nurani kita akan berkata begini kepada kita, “Hei bukan di luar rumah yang kau cari. Puasakan dirimu dari mencari “ingin” mu di luar rumah. Sekeras apapun usaha kau mencari rasa “ingin” di luar sana, tak akan bisa kau temukan puas. Hanya akan nagih dan nagih namun tak juga kau temukan yang seharusnya di cari dan diketemukan. Karena yang kau cari ada di kedalaman dirimu. Yaitu Allah Tuhan Kekasih”. Karena barangsiapa mengenal dirinya sendiri maka ia mengenal Allah. Mungkin demikian maksudnya.

Tak ada tempat menuju kecuali rumah. Yang biasanya adalah tempat kembali. Ia kini menjadi tempat menuju dan kembali. “Puasalah dirimu dari hiruk pikuk gemerlap yang ada di luar rumah. Dan akan kau temukan aman. Akan kau temukan rumah yang sebenarnya, yaitu keadaan bersama Allah”. Seolah begitu kebenaran hati nurani berbicara kepada kita.

Diambil dari buku M. Quraish Shihab Menjawab tentang Pahala Ibadah Puasa halaman 160. Diriwayatkan oleh keenam ulama hadist dan Abu Hurairah bahwa Nabi Saw bersabda bahwa “semua amal baik putra putri Adam dilipatkan gandakan ganjarannya sepuluh sampai tujuhratus kali lipat. Allah menyatakan: Kecuali puasa, karena itu adalah untukKu dan Aku langsung yang memberinya ganjaran. Yang berpuasa meninggalkan syahwatnya dan makanannya untuk-Ku, bagi yang berpuasa dua kegembiraan pertama ketika dia berbuka, dan kedua ketika dia bertemu denganKu.

Puasa Ramadhan tahun ini, semoga kita tidak terlena. Semoga kita paham dan mampu untuk melaksanakan puasa yang sebenarnya tanpa harus dipaksa Allah layaknya tahun lalu. Sehingga kita mendapat ganjaran tak terkira dari-Nya. Yaitu Allah itu sendiri. Pertemuan dengan-Nya.

Ponorogo, 13 April 2021

Lainnya