Kebon (47)

Sorogan Gamelan Empu Kikil

Foto: Adin (Dok. Progress).

Apa yang dikreatifi oleh perjalanan musikal KiaiKanjeng, sebenarnya tidaklah luar biasa, hebat atau aneh, bagi siapapun yang mengerti musik sejak rentang dari akar, batang tubuh hingga “ujung rambut” terlembutnya. Bagi siapapun yang berpengalaman mengembarai dengan teliti rahasia suara dengan segala kemungkinan lurus keritingnya, mengkelanai nada dengan semua lembah dan bebukitannya, serta menjelajahi irama dengan semua probabilitas dan dinamika laju dan cara berlangsungnya.

Semuanya dan setiap detailnya masih dalam lingkup wilayah kreatif yang ada penjelasan dan bisa diidentifikasi. Seakan-akan menakjubkan bahwa Simfoni Beethoven, lagu Ummi Kultsum yang seakan berada di langit fantasi, sekaligus lika-liku Campursari atau bahkan klasik Jawa dibunyikan dengan Gamelan yang sama. Kalau Anda mengambil seperangkat Gamelan Jawa entah dari Empu mana atau Keraton Raja atau Sultan siapapun, hal itu tidak akan pernah terjadi.

Dunia musik dan minimal urusan nadanya saja, sebagaimana teritorial bumi ini, terbagi menjadi beberapa benua. Ada musik benua Barat, ada musik benua Arabic, ada benua Jawa. Yang terakhir ini ke kiri bertemu dengan Negeri Sunda, ke kanan bisa ada gerbang ke Negeri Cina. Barat bisa berjumpa dengan Arab, termasuk India, di sejumlah terminal kunci nada dan nuansa. Tetapi letak benua Barat maupun Arab berjauhan dengan benua Jawa. Nevi Budianto membangun “jalan tol” antara tiga benua itu. Dengan sangat banyak keterbatasan, tetapi bisa dibikin “jalan butulan” di antara ketiga benua itu.

Jijit mengatakan “jembatan antar benua Jawa dengan dua benua lainnya sangat panjang, sehingga KiaiKanjeng memerlukan sorogan, atau bilahan cadangan atau reserve nada”. Sehingga ketika beralih lagu, penabuh Saron, Demung dan Bonang KiaiKanjeng terlihat sibuk mengganti satu dua bilahan atau kepingan besi nada yang disimpan di balik tubuh alatnya. Nevi bukannya merangkum Barat dan Arab dengan Jawa melalui Gamelan KiaiKanjeng. Ia hanya mengamati meeting point, tempat bertemunya alur nada dari ketiganya. Dan ia menemukan sejumlah terminal berdasarkan peta khasanah lagu-lagu yang menghampar di seluruh dunia yang berasal dari tiga benua itu.

Nabi Muhammad Saw wanti-wanti kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib menantunya: “Wahai Ali, sebanyak jalan yang engkau ketahui dalam hidayah Allah, Setan juga mengetahui jalan itu untuk menyesatkanmu”. Nevi KiaiKanjeng menangkap kasus yang sebaliknya: Sebanyak renggangan dan jarak yang menjauhkan tiga benua musik itu satu sama lain, Nevi mengincar titik-titik temunya.

Ari Blothong menguraikan dengan bahasa akademis: “Secara Organologi, Gamelan Kiaikanjeng adalah Gamelan biasa seperti halnya gamelan Jawa, ada bilah-bilah logam yang tersusun dalam sebuah pangkon dengan susunan tangga nada. Sedangkan susunan tangga nada (maqom) yang digunakan adalah tangga minor melodis (sel, la, si, do, re, mi, fa, sol). Fenomena itu dipelopori oleh Nevi Budiyanto dengan menerapkan dalam Gamelan KiaiKanjeng yang dimulai dengan nada sel (nada awal). Pada dasarnya Gamelan KiaiKanjeng adalah Gamelan Diatonis walaupun tangga nada pendukung lainya menggunakan Pentatonis (Jawa-Arab)”.

Mungkin perlu diteliti asal-usul kepeloporan Nevi Budianto itu jangan-jangan karena ia sangat menyukai lauk kikil. Beda kalau yang biasa dikonsumsinya adalah misalnya ati-rempelo. Kikil bukan dinisbahkan kepada kerendahan derajat kaki, melainkan mungkin mencerminkan kerendahan hati hidupnya. Kapan saja Bis KiaiKanjeng lewat di suatu wilayah yang di tepi jalan tampak ada Warung Kikil, Nevi berikhtiar total untuk bisa berhenti. Atau kalau berhentinya di tempat lain, ia akan mencari angkot atau apapun untuk bisa kembali ke warung Kikil itu. Betul-betul Nevi adalah Wali atau Empu Kikil.

Berkat hikmah kikil itu bahkan Blothong menambahkan uraiannya yang lebih sosiologis: “Gamelan KiaiKanjeng adalah Gamelan yang sifatnya adaptif, inovatif, dengan dorongan spiritual. Gamelan KiaiKanjeng bisa beradaptasi dengan berbagai macam genre musik baik secara umum (pop) atau khusus (Jawa-Arabic). Dalam perkembanganya Gamelan KiaiKanjeng selalu berinovasi dan mengikuti zaman (kontemporer) dengan diawali Lantunan Shalawat pada tahun 90an dengan iringan gamelan. Dalam berinovasi menambah bilah nada (sorogan) sesuai dengan tangga nada yang dibutuhkan (arabic maqom — dan tanda kunci/key signature) dengan demikian terpenuhi nada-nada yang dibutuhkan dengan Jawa Sunda Madura Bugis Batak dll”.

Kalau pakai terminologi nasihat Kanjeng Nabi kepada Ali yang mencemaskan betapa Setan juga mengetahui yang diketahui Ali, maka Nevi mengetahui apa yang diketahui Setan, atau bahkan Nevi bisa menemukan wilayah-wilayah musikalitas dan estetika yang Setan tidak memperhatikannya. Kita semua, termasuk kaum ulama yang paling alim atau doktor kesenian yang paling mumpuni, belum pernah mendengar bahwa Setan bermain musik, bikin Orkestra atau mendirikan Band seperti Letto. Bahkan kalau sampai komunitas Setan punya hajat bikin grup musik, saya khawatir mereka akan menyewa Nevi untuk menjadi mentor atau pelatih.

Semua warga KiaiKanjeng pasti mengizinkan dan rela-rela saja. Asalkan di kampung Setan itu banyak warung kikil. Tetapi terutama karena semua sangat percaya kepada aqidah Nevi, kepada akhlaq budayanya, madhep mantep mentalitasnya, serta istiqamah kejuangannya, sejak di Dipowinatan dulu hingga di KiaiKanjeng sampai sekarang. Nevilah yang paling mengkonsep semua perjalanan hidupnya sebagai “asra bi’abdiHi lailan”, diperjalankan oleh Allah di malam hari.

Lainnya