Siswa-Siswa Telah Kembali Pulang

Photo by Mufid Majnun on Unsplash

Bulan Juli pada Tahun Ajaran Sekolah di negeri ini, adalah bulan start anak-anak sekolah mulai kembali beraktivitas. Sekolah buka, siswa masuk kelas, dan guru mengajar kembali. Namun, di rumah masing-masing. Tak seperti 3 tahun lalu, sekolah di kelas-kelas. Sekolah sekarang memakai Hp dan Laptop. Hal ini menjadi jamak dalam genggaman tangan anak-anak. Demikianlah, belajar jarak jauh.

Mulai dari anak TK hingga anak pada sekolah jenjang tinggi. Dalam rangka mendapat materi dari sekolah jaringan internet menjadi karib. Atau petaka bahkan. Ia menjadi love hate relationship bagi siswa maupun guru. Karena jaringan internet adalah satu-satunya jembatan cinta mereka pada hidup bersekolah ini tersampai.

Namun, saat jaringan internet hilang, maka akan jadi awal mula curiga bagi kedua belah pihak. Sehari saja jaringan internet menghilang, siswa akan disangka tidak absen dan tidak mengikuti pelajaran, selebihnya harus siap-siap diteror mulai dari pesan WA yang panjang dan bertubi-tubi hingga telepon di malam hari oleh guru tercintanya. Sedangkan guru akan puyeng karena tak bisa memberi materi kepada siswanya yang jumlahnya tentu tak hanya satu. Padahal mereka dikejar target materi yang harus tersampaikan dalam kurun waktu tertentu.

***

Keluhan dari berbagai pihak bermunculan saat sistem ini muncul. Baik dari guru, orangtua, ataupun siswa itu sendiri. Intinya semua pihak pusing dan tak nyaman. Hal perihal pembelajaran jarak jauh dengan internet dan aplikasi atau sejenisnya membuat semua pihak yang dulu jarang memakainya akan kawalahan. Terutama bagi mereka yang awam sama sekali terhadap sistem ini.

Siswa

Siswa tak jarang mengeluh kalau hp-nya mendadak macet. Atau tak mampu beli paket kuota untuk sekadar zoom atau google meet dengan gurunya hingga jaringan Hp yang byar pet di area pegunungan. Itu pun terkadang ada kasus hp satu biji dipakai 3 anak serumah. Bersama kakak dan adiknya di TK yang rewel karena gurunya minta absen segera.

Guru

Dan guru pun masih ikhtiar tak karu-karuan untuk mencapai siswanya agar mendapat materi pelajaran seolah di zaman sebelum pendemi Covid-19 ini hadir. Terlebih guru yang sepuh atau yang memang tak pernah menyentuh pembelajaran digital ini. Workshop demi workshop atau diklat dadakan tentang cara mengajar jarak jauh memakai aplikasi A atau aplikasi B amat sering diberikan pada guru-guru. Walau setelah workshop atau diklat mereka masih bingung cara log in, log out, sign in dan sign out, lupa nama emailnya sendiri terlebih lupa kode password-nya, entah apa dan entah ditulis di mana. Akhirnya kembali ke cara paling sederhana. Grup WA.

Orangtua

Jika saya bertemu teman atau wali murid maka selalu mendapat keluhan sedemikian rupa.

“…Gara-gara belajar online, tiap hari aku bertengkar dengan anakku!”

Ya jangan bertengkar Bu, bersabarlah, itu anak sendiri, janganlah guru saja yang selalu dituntut sabar atas anakmu. Ibu dari siswa seharusnyalah yang lebih bersabar dan paling sabar tak terkira kepada anaknya. Mendidik sangu utamanya sabar dan telaten.

“Bu, gara-gara pembelajaran online, anak saya pegang hp seharian!”

Ya belajar untuk mengatur dan mengarahkan anak atas pemakaian hp, Bu. Bagaimana caranya anak diarahkan dalam memakai hp untuk hal positif, kreatif sesuai bakat anak namun anak juga tetap gaul. Ayo semangat belajar manajemen dan disiplin dalam pemakaian Hp di rumah. Buat jadwal kapan pakai Hp kapan istirahat pakai Hp, disepakati seisi rumah, ditandatangani anak dan ibu terus ditempel di kamar anak. Ini memang tak mudah, ini yang mengeluh semua ibu dan orangtua senegeri. Sama kok. Yuk! Belajar terus mendampingi anak dalam ber-online ria.

“Mbak, please ini bagaimana, aku gak paham cara mengajar anak, anak gak paham materi, aku apalagi, lebih gak paham, bagaimana ini? Nilai anakku bisa jeblog, bisa-bisa rangking terakhir karena nilainya merah semua….”

Tak harus paham materi anak 100%, karena memang kita memiliki keterbatasan, dan tak juga harus memaksa anak harus mendapat nilai 100. Hargailah kapasitas anak dalam memahami materi pelajaran. Selama anak dan ibu sudah usaha maksimal dalam mau memahami materi pelajaran. Itu sudah sangat bernilai. Karena bahkan materi hidup juga terkadang ada yang kita tak harus paham atau bisa jadi tak akan paham. Jalani dengan usaha dan sungguh-sungguh. Dan tetap menerima dan menghargai nilai anak walau bukan nilai 100. Dan justru itulah nilai sesungguhnya. Kesungguhan dalam kerja keras dan penerimaan. Karena tujuan sekolah bukan rangking 1 yang dicari. Namun kesungguhan dalam mencari ilmu dan belajar. Masalah dapat rangking 1 itu hadiah dari Allah.

“Bu guru, mbok anak dibuat masuk sekolah lagi to, jangan di rumah, pusing saya gak bisa mengatur anak-anak di rumah…”

Ini anjuran Pemerintah dan seluruh dunia melakukan hal yang serupa. Guru atau sekolah manapun tak memiliki kemampuan atau kapasitas untuk bikin peraturan anak masuk sekolah tatap muka.

***

Wahai ibu, ketahuilah, madrasah atau sekolah terbaik adalah ibu. Sekolah sejatinya itu ada di rumah. Saat suasana pandemi Covid seperti ini, sebenarnya keadaan hanya ingin menyadarkan kembali bahwa sekolah itu sebenarnya di rumah bersama ibu atau orangtua. Di rumahlah sebenar-benarnya sekolah. Ibulah awal mula pendidikan dan guru mewujud.

Ibu, mengirim anak ke sekolah bukan berarti tugasmu mengajar anak selesai. Bahwa ibulah yang seharusnya memiliki kesabaran tak terperi dalam mendampingi anak belajar dengan berupaya semaksimal mungkin jangan sampai ada pertengkaran ngeri karena perkara belajar. Bahwa terus mengikuti ritme belajar anak adalah passion utama ibu. Bahwa segala keluhan ibu di rumah terkait sekolah online sudah saatnya dijawab justru dengan menyadari bahwa sekolah utama memang bersama ibu. Karena guru sesungguhnya bukan yang di luar sana, namun ibu dan orangtua yang di rumah.

Tak ada kata terlambat untuk belajar apapun. Termasuk belajar kembali menjadi guru yang sabar, baik, dan mau memahami anak dalam belajar. Kedaanlah yang memaksa mereka pulang kembali ke rumah untuk belajar sepenuhnya. Mau tak mau ya harus mau bahwa orangtua menjadi guru kembali bagi anak mereka. Jangan menggantungkan guru dan sekolah. Karena guru dan sekolah justru second place buat belajar.

Ibu, rengkuh kembali anakmu di rumah. Allah telah memulangkan mereka. Itu mungkin sejenis kode bahwa sudah saatnya ibu dan rumah ‘diaktivasi’ kembali menjadi sekolah utama.

Sabar menghadapi anak rewel dalam belajar bukan keahlian guru semata, namun seharusnya juga menjadi keahlian ibu atau orangtua di rumah. Teknik mengajar sudah harus mulai dipelajari ibu dan orangtua di rumah. Sistem pembelajaran online adalah signal bahwa sekolah sudah dikembalikan kembali kepada yang seharusnya.

Siswa, guru, dan orangtua sama-sama berjuang dalam sistem pembelajaran online ini. Sama-sama kesusahan. Keluhan tak menyelesaikan keadaan. Sungguh. Terkecuali kita mau meng-hikmahi-nya.

Wallahu a’lam.

Senin, 9 Agustus 2021.

Lainnya