Sinau Pattern of Life

Majelis Ilmu Juguran Syafaat Purwokerto edisi ke-105 Desember 2021
Dok. Juguran Syafaat

“Nanti kalau saya datang, ternyata tidak sesuai tema bahasan bagaimana?” Memang pada asalnya Juguran itu tidak memerlukan tema. Hingga kemudian diada-adakan tema adalah supaya lebih memenuhi kepatutan sebagai sebuah forum. Sama halnya, aslinya Juguran tidak membutuhkan sound system, apalagi harus repot-repot menyiapkan gitar dan keyboard. Set Lighting juga camcorder untung saja tidak menyewa, merupakan kontribusi inkind.

Kopi dan teh serta nyamikan seadanya, semata-mata sekadar bentuk ngurmati tamu-tamu yang datang. Meskipun, belum pernah dalam sepanjang 105 edisi Juguran Syafaat ada invitasi, “Hadirilah! Banjirilah!”, “Wajib datang loh!”, “Tidak datang, tidak sedulur” pada posternya. Poster semata-masa sebagai media informasi. Kalau-kalau ada yang ngangen-angen datang, sehingga tidak kelewat informasinya.

Biaya penyelenggaraan tidak mendapatkan dari donatur tertentu, meskipun memakai sarana pemerintahan, bukan berarti gratisan, penggiat tetap mengkompensasi biaya kebersihan. Semata-mata dari urunan dulur-dulur yang berkelegaan hati berupa finansial maupun langsung berupa barang yang dibutuhkan. Demi kepentingan akuntabilitas dan transparansi, H+1 catatan keuangan sudah dikirimkan kepada semua pihak yang urun.

Apa gerangan yang ada di balik aransementasi event semacam di atas tersebut? Satu-satunya dugaan motif terkuat dari ‘ambisi’ dulur-dulur penggiat Juguran Syafaat yang bisa ditengarai adalah semata-mata ingin mengantarkan kabar kepada Simbah: Ini di sini anak-cucumu sedang dalam keadaan gembira, Mbah. Ini di sini anak-cucumu dalam keadaan akur satu sama lain.

Identifikasi Atensi Kolektif

Tema Juguran Syafaat tidak dirancang oleh dewan pengarah tema secara khusus. Melainkan berupa sedekah insight: ini kira-kira yang sedang menjadi atensi kolektif di dalam circle jamaah Maiyah yang ada di sekitar apa ya?

Insight itu pun saya yakin tidak selalu presisi. Bahkan mungkin lebih sering melesetnya. Toh, ya mau bagaimana lagi. Sekadar mengajak agar di sebulan sekali di hari Sabtu pekan kedua diseseg agenda-agenda supaya penggiat bisa sore senggang waktunya saja itu sudah kemewahan luar biasa. Almahfum, kerap kebutuhan keluarga tidak bisa dikompromikan untuk keperluan event yang kedudukannya tidak wajib ini. Sebab memang forum ini tidak memiliki hubungan langsung dengan perolehan pengupayaan ekonomi untuk dibawa pulang.

Untung saja forum ini ada tema, ada backdrop, ada dokumentasi. Minimal bisa diutilisasi untuk komunikasi kepada istri di rumah. Bahwa pamit malam mingguannya bukan sedang njagar-njugur tidak jelas.

Meskipun aslinya ya memang tidak jelas. Tidak jelas dalam artian, nyangkruk, ngariung atau njugur di Juguran Syafaat ini meskipun ada tema, tetapi tidak pernah ada penilaian indikator penilaian tingkat kesesuaian bahasan dengan tema yang diangkat.

Dok. Juguran Syafaat

Lalu, apa yang diukur kalau begitu? Secara subjektif individu, ukurannya adalah probabilitas menghasilkan insight yang relevan dengan solusi atas masalah terdekat yang dihadapinya. Mungkin tidak dari peristiwa kognitifnya, melainkan dari hantaran doa keberkahaan dari Mbah Nun.

Sedangkan secara kolektif, bisa ditengarai dari adanya produksi pengetahuan baru atau munculnya inisiatif baru.

Terima Kasih Sudah Memfasilitasi Hadirnya Mbah Nun

Juguran Syafaat di penghujung tahun ini diikuti jamaah yang sudah terlebih dahulu mendaftar melalui form online. Form ditutup pada beberapa hari sebelum acara karena kuota 70 peserta sudah terpenuhi. Animo kehadiran yang tinggi menjadi semangat tersendiri bagi penggiat yang sudah menyiapkan acara.

Mas Syaiful dari PT. Sarva hadir membersamai dulur-dulur. Fikry menyampaikan ucapan terima kasihnya, karena PT. Sarva telah memfasilitasi hadir kembalinya Mbah Nun di Bumi Banyumas ini. Meskipun ia mengaku, amat ingin bersalaman dan mencium tangan Mbah Nun, tetapi apalah daya, karena pada saat event sedang on duty bertugas.

“Kebahagiaan cenderung merupakan kosakatanya generasi tua, kalau generasi muda, bisa juga temanya menjadi menghantarkan kemakmuran”, Mas Syaiful memotivasi jamaah yang mayoritas adalah usia milenial dan zilenial untuk bersemangat menjadi generasi pengantar kemakmuran.

Ia berkisah singkat, seselesainya menghikmahi keberhasilan dengan kegiatan Launching ‘Desa Mandiri Internet’ Bersama Mbah Nun kemarin, kemudian Ia dan tim terjadwal pergi ke Desa Sirnaresmi di Kasepuhan Ciptagelar, Banten. Bagaimana ia menemukan definisi kemakmuran di masa lalu yang sudah hilang dan ia menemukannya di sana. Adus nang kali, dolanan belet. Itu adalah kemewahan yang tidak bisa terantarkan pada generasi anak muda masa kini.

Ada gap antara generasi tua, generasi menengah dan generasi muda. Kang Agung Jemblung melontarkan candaan “No Disk”. Anak-anak muda ya tidak tertawa. Fikry dan yang seumur yang gerrrr tertawa. No disk itu adanya di era DVD player, anak sekarang mana tahu.

Kemudian Kang Agung menyumbangkan dua lagu, tombo kangen setelah sekian lama jarang hadir di Juguran karena kesibukan roadshow-nya menampilkan Wayang Jemblung kontemporer, sebuah kesenian otentik dari Banyumas.

Bunda KLC menyambung membawakan nomor-nomor lagu. “Open your hearth, open your eyes, open your mind…”. Ia ingin mengajak memotivasi semuanya saja untuk bangkit dari pandemi. “Saya sering manggung di banyak tempat, di panggung-panggung besar. Tapi tidak tahu kenapa ini, di sini sangat nyaman sekali, sampai tidak tahu kok saya menangis”, ujarnya.

Di sesi awal Bunda yang memiliki nama asli Roro Suhartini ini sempat berkolaborasi dengan grup musik “Aum”. Sebuah musik yang dibawakan dengan irama dan frekuensi yang unik, kemudian Bunda menyambung lagu itu secara spontan dengan lirik sholawat. Syahdu.

Dok. Juguran Syafaat

Selain sebagai musisi, Bunda juga memiliki bimbingan belajar Key Learning Camp (KLC). Arsya dan Elda murid Bimbel yang ikut hadir malam hari itu memberikan sharing, bahwa Bimbel di tempat Bunda ini, bukan hanya mengejar nilai tinggi, tetapi juga menanamkan karakter dan kedisiplinan. Arsya mengaku sudah ikut kursus di sana sejak kelas 7 SMP sampai sekarang SMA kelas 12.

Mas Kucel, vokalis grup musik “Aum” juga mengaku sebagai murid-murid Bunda. Yakni murid kursus dalam hal mempelajari ‘pattern of life’.

Sibuk, Produktif, tapi Tetap Bagi-bagi

Pola hidup yang tidak dipelajari memang mengakibatkan kita tidak jelas arahnya kemana, ikutnya siapa, dan seterusnya. Saya ikut urun view mengenai maraknya budaya tergesa-gesa atau hustle culture. Kalau sibuk keperluannya memang memenuhi target pekerjaan, itu oke-oke saja. Yang jadi persoalan sekarang banyak orang ‘sibuk ora nggenah’ diam-diam tanpa sadar menjadikan sibuk sebagai gaya hidup.

Dulu jaman saya sekolah yang Namanya gaya hidup itu ya nge-Band, atau Basketan. Lah ini, sudah kehabisan semua yang keren dijadikan gaya hidup, maka orang-orang menjadikan gaya hidup baru: Sibuk. Ayuk, kita cermati lagi kesibukan kita masing-masing.

Mas Ifa merespons, “Kalau waktu adalah uang, nek batire ngomong ‘aku langka wektu’, berarti ndeyane emang lagi ora duwe duit, hehe”. Hikmahnya adalah, sesibuk apapun kita, aja kelalen srawung. Seperti apapun bentuk srawung-nya. Terlebih oleh adanya pandemi, beragam cara baru untuk srawung.

Ini batas-batasnya kemudian menjadi jelas, boleh sibuk untuk produktif, bukan untuk pansos. Boleh sibuk, tapi jangan lupakan srawung. Kalau memang kita berada di sebuah circle sosial yang tidak sibuk, sedangkan sebetulnya job kerjaan kita banyak, ya terus jangan jadi di-rem produktivitasnya. Teruslah produktif, lalu distribusikan.

Mencari uang itu tidak salah, promosi di forum ini juga tidak salah. Yang salah adalah kalau mencari uang untuk diri sendiri, orang lain tidak kebagian, kan? Saya mencoba menanggapi salah seorang Jamaah pegiat marketplace yang Namanya Agung juga.

Selain pegiat marketplace, Agung juga aktif Bersama komunitas anak-anak yang ‘tidak keliahatan sibuk’ yakni teman-teman pegiat Airdrop. Tidak sibuk, tapi punya uang, tahu-tahu ngajak makan-makan, begitu dia menceritakan ciri teman-temannya.

Dok. Juguran Syafaat

Juli, seorang Jamaah Maiyah dari Kembaran, Banyumas juga memberi respons. Bagaimana forum srawung seperti ini adalah sebuah kemewahan. Ia menceritakan seorang penulis di Korea yang mengutus anaknya untuk datang ke Indonesia untuk melihat budaya yang di sana tidak ada dan di sini ada, yakni budaya njugur.

Lalu Lintas Rasa Gembira

Pada akhirnya memang Juguran Syafaat ini adalah tidak beda dengan kita nyangkruk, ya ngariung, ya kongkow di warung atau kafe. Bedanya, kalau kita kongkow 3-4 orang di kafe tak perlu moderator, tak perlu tata suara dan tata cahaya, juga tak perlu time keeper. Tetapi karena yang hadir di sini hampir seratus orang, maka supaya menjadi keindahan, harus diaransementasi sedemikian rupa. Coba, bayangkan jika orang berkumpul hampir seratus orang, tidak ada manajemen forum?

Namun demikian, manajemen forum hanyalah alat. Adapun tujuannya adalah supaya tersambung frekuensi berupa rasa dan hati satu sama lain. Sehingga terjadi lalu-lintas yang menjadi jalan tol bagi terantarkannya kegembiraan. Toh, bukankah ini yang membedakan antara kita hadir njugur di sini dengan ketika kita nonton podcast-nya tokoh-tokoh dengan subscriber bejibun?

Pukul 23.30 sesuai rundown Juguran dipungkasi dengan ‘Hasbunallah’. Keesokan harinya Mas Syaiful mengapresiasi kesannya hadir pertama kalinya di Juguran, “Ini perlu persambungan satu sama lain, bagaimana kalau kita bikin desa virtual”.

Populer