Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng, Yogyakarta, Jumat 22 April 2021

Sinau Bareng MPM Honda di Rumah Maiyah Kadipiro

Banyak hal yang diwedarkan dalam sinau bareng kali ini. Dari teladan seorang Soichiro Honda, film Terima Kasih Emak Terima Kasih Abah, sampai dimensi keindahan dalam berkesenian maupun berpuasa.

Dok. Progress.

Di balik kesuksesan mega industri teknologi besutan Honda berdiri sosok keras kelahiran dusun terpencil Hamamatsu, Jepang. Keras di sini dalam arti sesungguhnya. Kepribadian serba tegas dan disiplin itu membuahkan hasil di kemudian hari.

Soichiro Honda, nama lengkap sang pendiri, kini dikenang dalam sejarah. Cak Nun menyebut Pak Honda sebagai seorang mujtahid dan kontrobusi besarnya di dunia teknologi membuat amal jariahnya mengalir tanpa henti.

Sinau Bareng Jumat malam (23/04) itu mengambil petikan inspirasi Pak Honda. Pilihan ini lantaran pihak Mitra Pinasthika Mulia (MPM) wilayah Jawa Timur mengundang Cak Nun dan KiaiKanjeng untuk belajar bersama mengenai kiprah Soichiro Honda.

Acara tersebut diselenggarakan di Rumah Maiyah, Kadipiro, secara streaming dan ditayangkan di YouTube CakNun.com serta akun Instagram GamelanKiaiKanjeng.

Bagi Cak Nun, Pak Honda terlihat talentanya semenjak remaja. Usia 15 tahun dirinya sudah menggeluti dunia bengkel. Kendati tak mengenyam bangku sekolah, panggilan akarab Soichiro tersebut mempunyai tekad kuat dalam belajar. Barangkali orang sekarang menyebutnya sebagai seorang autodidak. “Fokusnya pada mesin membuat dia tetap belajar mandiri dan menemukan ijtihad sendiri,” ujar Cak nun.

Tak perlu mencari-cari apa agama Pak Honda. Cak Nun menerangkan betapa kesungguhan berikut amalan nyata Pak Honda di jagat teknologi sudah barang tentu bermanfaat luas bagi warga dunia. Di situlah letak karamah pendiri Honda bagi kemaslahatan orang banyak. “Dia punya jasa kemanusiaan yang lebih besar,” imbuhnya.

Film TETA

Di samping meneladani sosok Pak Honda, Sinau Bareng malam itu juga membincangkan film terbaru Mbak Novia. Beliau menginformasikan film Terima Emak Terima Kasih Abah (TETA) akan ditayangkan massal sewaktu hari Idul Fitri. Rencana awal sebetulnya akan dirilis pada 16 April 2020.

Dok. Progress.

Namun, pandemi membuat bioskop tutup sementara. “Jadi, penayangan sewaktu hari raya itu semoga menjadi momen nonton bareng bersama keluarga. Juga semoga bioskop pelan-pelan bangkit lagi,” terang pemeran utama tokoh emak itu.

Mbak Novia menuturkan film TETA awalnya tak diniati membuat film tapi sekadar reunian. Kedekatan antarpemain memang erat. Lima tahun mereka sempat berproses bersama dalam tayangan sinetron Keluarga Cemara tahun 1995-2000.

“Kami berkumpul bersama dan niatnya memang reuni. Lalu akhirnya nyari para pemain yang dulu. Sekitar tiga tahun lalu, ngobol-ngobrol akhirnya buat film dengan sutradara yang sama Dedi Setiadi,” jelas Mbak Novia.

Pemeran Abah, Adi Kurdi, belum sempat menyongsong tanggal perilisan, namun 8 Mei 2020 lalu telah dipanggil Tuhan. Kepergian abah, tokoh yang iknois bersama emak, ini jelas membuat para pemain merasa kehilangan.

Walau sedih Mbak Novia merasa bersyukur sebab masih sempat rekaman film. “Ketika shooting itu pun beliau tidak maksimal karena sakit. Beliau terganggu penglihatannya,” ucapnya.

Film Terima Emak Terima Kasih Abah, menurut Mbak Novia, mengandung pesan moral yang sederhana. Setiap manusia selalu menghadapi masalah. Demikian pula keluarga. Tetapi, lanjutnya, “Di keluarga itulah tempat kembali dan menyelesaikan masalah.” Seperti penggalan lirik Mimpi Paling Nyata:

Dalam suka duka
Setia bersama
Mensyukuri, berdoa, ikhlas menerima
Saling menguatkan
Saling memaafkan
Penuh rasa cinta, tulus kasih sayang

Sementara itu, Cak Nun membahasakan kedudukan keluarga dalam Islam sebagai birrul walidain. Berbakti kepada orang tua ini dapat diperluas dalam tiap ranah. Salah satunya di tingkat bangsa. “Kalau diteruskan nanti akan sampai pada kita terima kasih kepada Allah karena telah menyiapkan keluarga sedemikian rupa,” jelasnya.

Sang Maestro

Pria berjenggot dan berkumis lebat itu bernama Otok Bima Sidharta. Sedari awal Sinau Bareng telah duduk di depan. Baru pertengahan acara ia diperkenalkan lengkap oleh Mas Jijit dan Pak Bobit. Keduanya sepakat Pak atau Bung Otok, panggilannya sehari-hari, merupakan pribadi yang bertalenta. Seorang koreografer, pengrawit, pelukis, dan lain sebagainya.

Dok. Progress.

Pak Otok adalah anak keempat seniman legendaris mendiang Bagong Kussudiardja. Darah keseniannya mengalir di tubuh pria berparas ramah nan lucu itu. Menurut Pak Bobit, beliau sangat pandai merekrut dan memandang bakat seseorang.

“Selain itu, Pak Otok sangat perfeksionis sehingga membuat saya lebih disiplin sampai sekarang,” kata kibordis KiaiKanjeng ini. Serba ingin mencapai kesempurnaan sebuah karya tak berarti Pak Otok otoriter. Ia bahkan sangat demokratis.

Malam itu KiaiKanjeng berkolaborasi secara spontan dengan Pak Otok. Lagu Bang-bang Wetan dimainkan dengan iringan tabuhan kendang Jawa. Hanya mengikuti nada dasar lagu tersebut Pak Otok seakan sudah mendeteksi akan mulai menabuh sejak lirik apa.

Sebelumnya ia seperti berkomat-kamit menghitung ritme lagu, memasuki iringan pelan-pelan. Dokter Eddot yang ternyata teman kecilnya hanya berkomentar: “Isih ampuh tenan e,” katanya seraya menunjukkan jempol tangan kanan.

Pak Otok seperti irit bicara tapi begitu atraktif manakala memainkan alat musik. Kehadiran sang seniman tersebut mendorong Cak Nun memperluas pokok bahasan. “Sebenarnya berijtihad di bidang keindahan itu bagaimana?” tanyanya kepada Kiai Muzammil.

Dok. Progress.

Ia lalu merespons kalau Islam sesungguhnya sangat berkhidmat terhadap kesenian. Tuhan itu indah maka Dia menyukai keindahan. Namun, rezim politik Islam berabad-abad telah menyederhanakan peradaban Islam hanya pada wilayah fikih.

“Kemunduran Islam kalau fikih terlalu dominan sebab hukum itu kan masalah ketegasan. Padahal, ada ulama yang juga sering membahas seni. Misalnya Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin,” tuturnya.

Cak Nun mengharapkan agar umat Islam jangan tebang pilih. Keindahan harus mendapatkan tempat dalam kajian. Segala sesuatu yang menghambat keluasan khazanah Islam semestinya dibongkar. “Jangan sampai terkurung oleh sesuatu yang mengurung diri kita.”

Apa Kabar Pandemi?

Penghujung acara dr. Eddy Supriyadi, SpA(K), Ph.D. lebih banyak mewartakan kondisi penanganan Corona dari kacamata kedokteran. Ia meminta kepada jamaah agar tetap menjaga jarak, memakai masker, dan rajin mencuci tangan. Walau terkesan klise saran ini begitu penting belakangan.

“Ada fakta baru di India ada kenaikan sangat drastis. Hampir 350 ribu orang dalam satu hari terpapar Covid-19. Bahkan krematorium sampai buka 24 jam dan itu pun masih tidak cukup menangani,” papar dokter spesialis anak dan Hematologi-Ongkologi Pediatrik, FK UGM.

Dokter Eddot memberikan alaram kepada khalayak supaya jangan berperilaku jumawa. Meski sudah divaksin, menurutnya, belum tentu terhindar Corona seratus persen. Kewaspadaan berbagai pihak akan menekan potensi keterpaparan dan penyebaran virus lebih jauh.

Seputar bulan Ramadhan dan laku puasa, Dokter Eddot menerangan satu poin penting. Ia melansir temuan pemenang nobel di bidang Fisiologi, bernama Yoshinori Ohsumi, kelahiran Fukuoka, Jepang. Profesor di Tokyo Institute of Technology tersebut meneliti konsep autophagy. “Saya menemukan kaitannya dengan puasa sebab autophagy ini mekanismenya memakan diri sendiri,” imbuhnya.

Dok. Progress.

Lebih lanjut, autophagy membicarakan betapa tubuh manusia diberi kemampuan untuk mendaur ulang sel-sel rusak. Menurut Dokter Eddot, kondisi tersebut dapat dimungkinkan dalam keadaan lapar atau puasa.

“Saya mencari begini ini atas PR dari Simbah (Cak Nun). Apakah puasa berdampak pada perubahan diri manusia? Saya kira iya dan penelitian-penelitian sudah membuktikan itu,” ungkapnya.

Pada ungkapan lain, menurut Dokter Eddot, konsep autophagy seperti apa yang diterangkan Cak Nun sekian tahun silam. Kenyang itu baik tapi kalau kekenyangan jelas sangat buruk. Lapar itu baik namun kelaparan justru sebaliknya. “Ini sama dengan konsep autophagy,” pungkasnya.

Lainnya