Silaturahmi Kerinduan Simbah dan Anak-Cucu Jamaah Maiyah

Foto: Adin (Dok. Progress).

Sabtu sore (12/6/2021) di sudut timur laut Kabupaten Demak, para pemuda dari berbagai kota/kabupaten datang memancarkan wajah kerinduan. Meski membawa rasa rindu, protokol kesehatan tetap dierapkan. Mereka datang, mencuci tangan terlebih dahulu. Suhu tubuh mereka diukur satu persatu. Sebagian yang tidak bermasker, diberik masker. Satu persatu mereka dipersilakan makan dan istirahat sejenak, sebelum beranjak malam mengikuti Silaturrahim Penggiat Simpul Maiyah untuk zona sekitaran Pantura.

Pada silaturrahim kali ini terasa betul rindu yang sedulur-sedulur bawa dari kota masing-masing. Semenjak pandemi melanda Tanah Air, kita tidak bertemu satu sama lain. Bahkan forum silaturrahim antar penggiat terakhir telaksana di tahun 2019, dan sekarang sudah tahun 2021. Kita tak bisa membayangkan rindu sebagaimana apa yang teman-teman bawa dalam forum kali ini. Apalagi forum ini merupakan permintaan Mbah Nun yang rindu pada anak-cucunya. Sebagaimana yang Mbah Nun sampaikan saat awal-awal berbicara, “Pancen aku sing njaluk iki rek, aku kangen awakmu kabeh. Nek awakmu kan durung mesti kangen aku.” Tutur Mbah Nun tersebut langsung disahut serentak anak-cucunya dengan ‘Kangen Mbah…’. Tentu hal ini menambah kita tidak mampu membayangkan bagaimana rindu yang terkandung dalam pertemuan kemarin.

Waktu terus bergulir, jarum jam menunjukkan pukul 19.30 WIB. Para perwakilan penggiat simpul dipersilakan menuju Aula Madrasah Diniyah Hidayatus Shibyan, Sidorejo Karangawen Demak. Acara segera dimulai. Silaturrahim dibuka dengan Munajatan dan Sholawatan, sebagaimana saat sinau bareng biasanya. Munajat dan Sholawat dipandu oleh Kang Haq dan Kang Ahyar, serta dibersamai Rebana Tanbihun. Saat mahallul qiyam, terasa betul nuansa rindu yang mereka bawa. Ternyata tak hanya rindu pada saudara dan Simbahnya, ternyata rindu yang paling utama adalah kepada Ar Rahman dan kekasihnya Muhammad ShallaAllahu ‘alaihi Wasallam.

Usai Mahallul qiyam, sesi selanjutnya adalah diskusi dan sharing antar penggiat, diawali oleh Koordinator Simpul, selanjutnya perwakilan simpul tuan rumah, Kalijagan yang disampaikan oleh Kang Muhajir Arrosyid. Lalu, setiap simpul dipersilakan menceritakan keadaan dan suasana yang terjadi di wilayahnya masing-masing. Secara garis besar, hampir setiap simpul Maiyah mengalami format Maiyahan yang berubah lantaran pandemi. Ada yang melaksanakan secara online, pemanfaatan media streaming dan online meeting secara maksimal dengan banyaknya pilihan platform, sebagaimana simpul Juguran Syafaat. Ada yang melaksanakan secara tatap muka, namun terbatas dan tidak melakukan penginformasian publik sebagaimana yang dilakukan di Kalijagan. Ada juga yang melakukan secara terbuka namun dengan protokol kesehatan yang ketat, sebagaimana Gambang Syafaat.

Di tengah-tengah sharing, Mbah Nun bersama Habib Anis Sholeh Ba’asyin rawuh. Semua sedulur saling menjaga untuk tidak bersalaman, karena kondisi saat ini kita dikepung dengan jutaan keghaiban. Begitulah cara cinta anak-cucu kepada Mbahnya, begitu pun dengan beliau yang teramat mencintai anak-cucunya, sehingga forum silaturrahim ini terjadi. Meski tidak bersalaman, telungkupan tangan Mbah Nun mentransfer energi, jika boleh kami bahasakan begini ‘Sing kuat yo rek, sing bakoh yo rek, sing teteg yo rek’. Mbah Nun bersama Habib Anis berjalan memasuki Aula, beliau mengucapkan salam kepada anak-cucunya, rindu itu akhirnya tunai. Hampir dua tahun anak-cucu tidak bersua dengan Simbahnya, begitu pun Seorang Mbah yang rindu, yang tidak tega melihat bagaimana nasib anak-cucunya di tengah ketidakjelasan dunia saat ini.

Sebelum Mbah Nun berbicara, Mas Helmy membuka dengan beberapa hal, mengapa silaturrahim ini bisa terjadi, serta meresume silaturahmi Mbah Nun dengan anak-cucu penggiat Simpul Maiyah di Wonosobo pada pagi harinya di hari yang sama. Dan ketika Mbah Nun mengucap salam, disahut salam balik dari anak-cucunya yang terasa nuansa rindu satu sama lain. “Iki desane opo rek?” Tanya Mbah Nun membuka pembicaraan yang langsung direspons anak-cucunya dengan jawaban Cabean, Sidorejo, “Kecamatane? Kabupatene?” Pertanyaan lanjutan beliau yang juga disahut anak-cucunya, Karangawen, Demak. “Demak kene iki mau jebul aku lewat Indonesia” tutur beliau yang sontak membuat anak-cucunya bergembira. Begitulah kegembiraan yang Mbah Nun hadirkan dalam pertemuan kali ini, dan ini merupakan khazanah yang dibangun dalam Maiyah.

Dadi aku yo prihatin mbayangke anakku ning ngendi-ngendi. Saya ingin kita mensyahadati kembali hal-hal, mudah-mudahan memperkuat hari-hari berikutnya,” tutur beliau yang kemudian dilanjut dengan mentadabburi kata azizun, aizzah dalam Surat At Taubah: 128 dan Surat Al Maidah: 54, yang memiliki makna ati abot, ora tegoan. Begitulah nilai yang Mbah Nun bawa dalam hidupnya, dan menjadi landasan mengapa silaturrahim ini terjadi.

Mbah Nun melanjutkan dengan beberapa pertanyaan yang kemudian beliau minta beberapa anak-cucunya merespons, lalu mengajak kami tadabburan bersama. Pertama, dalam surat Al Baqarah: 3, ayatnya jelas Alladzina yu’minuna bil ghoib, bukan Alladzina ya’lamuna ghoib. Allah menyuruh kita untuk sekadar mengimani hal-hal yang ghaib, tidak menyuruh kita untuk mengetahuinya. Sebab posisi kita hanya sekadar ‘abdan (hamba) yang tidak memiliki daya apapun, sebagaimana lafadh La haula wa la quwwata illa billahil aliyyil adzim, yang memiliki daya hanyalah Allah. Sehebat apapun manusia, peran daya utama itu Allah. “Rumus dasarnya manusia tidak berdaya, meskipun kamu di-backing-i Allah, tetep kamu tidak berdaya, yang berdaya itu kan backingan-mu,” tutur Beliau. Begitu pun orang masuk surga, tidak lantaran amal salehnya, namun karena rahmat Allah. Hal itu dipertegas dalam peristiwa ketika ‘Aisyah bertanya kepada Kanjeng Nabi. Sehingga kita beramal saleh supaya mendapatkan rahmat Allah.

Kedua, dalam menyikapi presisi keyakinan dan kepastian. Keyakinan itu wilayahnya manusia, sementara kepastian merupakan wilayahnya Allah. Sehingga dalam setiap amin (keyakinan)-mu, jangan sampai melupakan insyaAllah (kehendak Allah) di dalam keyakinanmu. Hal ini tentu sangat penting dalam menyikapi Covid-19. Sehebat apapun engkau, kapasitas kita tetaplah tidak memiliki daya, dan hanya memiliki keyakinan serta harapan, sehingga kita tidak memiliki kepastian kalau kita tidak bisa ditembus oleh Covid-19. Poin ini merupakan kelanjutan tadabbur dari poin pertama.

Ketiga, Mbah Nun mengajak anak-cucunya berpikir mengenai Al-Qur’an merupakan alogaritma sehingga bisa dipahami oleh manusia manapun. “Mungkin tidak, orang yang bukan orang Arab mendapatkan hal lebih dari iqro’ ketimbang orang Arab?,” tanya beliau. Lalu beliau menceritakan bagaimana Pak Mukibat dan Pak Mujair memaknai iqra’ sehingga hadirlah penemuan-penemuannya. Selain itu, beliau mensyahadati kembali, bahwa yang kita cari sebenarnya bukanlah hal yang material, namun yang kita cari adalah nilai. Di akhir paparan, beliau meminta Habib Anis untuk menjelaskan sanad naqli Maiyah.

Habib Anis Sholeh Ba’asyin menceritakan peristiwa Darul Arqam di Madinah yang peristiwanya terjadi hampir setiap hari banyak muqorrobin (sahabat Rasulullah) jagongan, diskusi, sinau bareng dari sehabis sholat isya’ hingga menjelang sholat shubuh. Begitulah yang menurut beliau bisa menjadi landasan Maiyahan memiliki dalil naqliyah. Selain itu, beliau juga menyampaikan bahwa kalau kita tidak bisa online langsung dengan Allah, setidaknya kita mesti dekat dengan orang yang online dengan Allah. Dan Habib Anis menegaskan Mbah Nun itu punjer online kita. Beliau berharap agar kita menyambung garis-garis kepada Allah bersama Mbah Nun.

Di akhir, sebelum Mas Rizki mempersila kami berfoto bersama dengan Mbah Nun, Mbah Nun memberi pesan kepada anak-cucunya. “Kowe kudu kendel uripmu, kowe kudu kendel. Tapi tetep dalam batas tawakkal kepada Allah. Ojo njur kemendel. Di Maiyah kita harus belajar membedakan kendel karo kemendel, pelit karo hemat, wedi karo keweden, istiqomah karo keras kepala. Kowe kudu reti, kowe iki sing endi”. Dan terakhir Mbah Nun menyampaikan kegembiraan atas pertemuan itu. Pertemuan yang penuh akan rindu seorang bapak, seorang simbah, kepada anak-cucunya. Kegembiraan itu juga terpancar dari wajah anak-cucunya.

Tentunya setiap pertemuan, harus ada perpisahan. Mbah Nun, Habib Anis, dan rombongan Progress pamit. Satu per satu penggiat simpul Maiyah dari kota lain juga pamit. Tinggal kami, para penggiat Kalijagan, membereskan sisa-sisa dari forum silaturrahim yang teramat sangat menggembirakan ini. Semoga Allah senantiasa menjaga persaudaraan kita dan menggembirakan keluarga-keluarga kita di rumah. Dan Fajar sudah menjelang, kami pulang ke rumah masing-masing.

Lainnya