Kebon (202 dari 241)

Silaturahmi Energi di Tengah Tekanan-tekanan

Foto dan Ilustrasi oleh Adin (Dok. Progress).

Apa sebenarnya yang terpenting yang terjadi ketika bersama KiaiKanjeng saya Sinau Bareng, Gembira dan Bahagia Bareng 5-8 jam hingga menjelang Subuh bersama lima ribu, sepuluh ribu, bahkan lebih dari itu atau terkadang kurang dari itu. Ialah saling bersadaqah energi. Timbal-balik. Satu sama lain. Silaturahmi energi. “La haula wa la quwwata illa billahil ‘Aliyyil ‘Adhim”. Tidak ada kuasa tidak ada saya, tidak ada otoritas tidak ada energi, kecuali bersumber dari Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Dan kalau keberlangsungannya lebih dari dua jam, apalagi sampai tujuh delapan jam, maka “charging” energi itu akan bisa berlaku berhari-hari sesudahnya.

Di Gontor tahun 1966-1968 dulu kalau saya mendapat giliran berpidato di antara Muhadlarah Bahasa Indonesia malam Jumat, Bahasa Arab Kamis siang dan Bahasa Inggris Minggu malam, apalagi kalau pas “pleno” seluruh santri sehingga 5.000-an orang berkumpul di BPPM, rasanya seperti di Padang Mahsyar. Kita berpidato kepada ummat manusia yang sedang magang di antara sorga dan neraka. Adrenalin full bergolak dalam jiwa. Hati penuh kobaran kehangatan. Akal pikiran terang benderang seperti dipancari oleh matahari dari dalam. Badan sehat tegak gagah. Wajah menghadap ke lautan ummat manusia yang menantikan apa hal-hal terpenting yang akan kita pidatokan.

Bahkan tak usah pidato. Hanya bertugas tilawah Qur`an, tatkala seluruh Gontor menyambut kedatangan Ustadz Subakir menantu Kiai Imam Zarkasyi, saya bertugas meneriakkan vokal ngaji saya tidak seperti sedang berada di dunia. Ketika sesekali suara saya melengking, sesaat sesudahnya saya mengerling atau sesekali sampai menoleh kearah kursi di manan Kiai Ahmad Sahal dan Kiai Imam Zarkasyi duduk. Pamrih saya adalah ingin memastikan bagaimana respons beliau berdua atas lantunan mengaji saya. Kalau beliau berdua mengangguk-anggukkan kepala, rasanya ada kepastian bahwa saya akan mesuk ke gerbang sorga.

Aslinya itulah satu dari sedikit cita-cita hidup saya. Itulah “carrier” atau kendaraan nasib dan masa depan saya. Tetapi itu tidak akan pernah tercapai. Karena suara puber saya kemudian dirusak oleh lara lapa begadang tiap malam di Malioboro selama lima tahun penuh. Sesudah perusakan tenggorokan di Malioboro itu tidak mampu lagi berqiro’ah dengan baik. Tidak sanggup lagi melakukan tilawatil Qur`an secara maksimal!

Sekarang di usia udzur ini kalau mengaji makin buruk, napas pendek, segala anasirnya tidak lagi bisa diandalkan. Maka sisa hidup saya hanya terisi rasa cemburu, meskipun tidak sampai iri atau dengki, kepada para pendekar tilawatil Qur`an. Abdul Basith, Mahmud Al-Khusyairi, Hindawi, Syakernejad, dan banyak lagi. Saya pernah qiro’ah ketika Pakde Nuri mantu salah satu saudaranya di Pugeran, dan serasa saya kutuk diri saya sendiri. Karena mengaji saya begitu buruknya menurut ukuran cita-cita saya.

Kalau kau pentas di panggung, baca puisi, menyanyi, pentas teater atau apapun, yang terutama kau butuhkan adalah energi dari publik yang ada bersamamu, yang mendengarkanmu, yang senang dan menikmati, yang menyayangimu. Maka sejak semula kau pun harus siapkan stok energi batin di dalam dirimu, dan engkau taburkan engkau sebarkan melalui keikhlasan hatimu, melalui ekspresi pikiranmu, melalui nada irama lagumu, melalui segala hal yang kau lakukan yang menerbitkan kegembiraan satu sama lain.

Lebih setengah abad saya menulis di ribuan media, menerbitkan hampir seratus buku. Yang sesungguhnya terjadi adalah melalui muatan batin dan pikiran yang diungkapkan, saya mengkontribusikan energi kehidupan, kemanusiaan dan sejarah. Dan ketika seseorang menyentuh buku itu, membaca satu dua kata, sesungguhnya energinya langsung meluncur ke dalam jiwa saya. Antara manusia dengan manusia, antara penulis dengan pembaca, antara pemusik dengan pendengarnya, antara pemimpin dengan rakyatnya, terjadi baku sedekah, saling bershadaqah energi kehidupan dalam sejarah. Dan itu menghasilkan harapan bersama, optimisme bersama, semangat hidup bersama, keyakinan bersama atas masa depan bersama.

Salah satu wujud amal saleh yang kualitasnya tinggi dan kadarnya besar adalah mengupayakan agar kehadiranmu pada orang lain, pada suatu lingkungan, dari keluarga sampai pergaulan luas masyarakat dan Negara menjadi tambahan energi.

Dengan sisi pandang lain, jangan sampai kehadiranmu di manapun malah menyerap atau menguras energi manusia di sekitarmu. Jadilah kepala keluarga yang melimpah energi bagi seluruh anggota keluarga. Jadilah suami atau istri yang tidak malah menghabiskan energi anggota keluargamu. Jadilah manusia yang menjadi sumber terbitnya senyuman, kegembiraan dan semangat hidup. Bisa karena perilakumu yang bijaksana dan mensamudera, bisa karena kontribusi ilmumu, bisa sekadar karena kecerahan wajahmu.

Jangan sampai adanya engkau menjadi tekanan bagi orang lain. Tekanan bagi siapapun dalam keluarga dan masyarakatmu. Jangan sampai integritasmu berposisi negatif, membuat keluarga dan lingkungan pergaulanmu menjadi lelah, bosan, uring-uringan, sampai akhirnya apatis dan putus asa karena adanya engkau.

Kalau hidup ini kita jalani hanya dengan mengandalkan ilmu, kita akan mengalami banyak tekanan-tekanan. Karena faktanya sangat jauh lebih banyak yang tidak kita ketahui dibanding yang kita ketahui. Jauh lebih banyak yang kita tidak bisa dibanding yang kita bisa. Jauh lebih banyak yang kita tidak mencapai, dibanding yang kita mancapai. Dan diam-diam itu semua bisa menjadi tekanan batin. Andaikan hidup ini hanya berisi ilmu, dan tidak ada opsi iman kepada Allah, maka orang akan sering tiba pada keputusan untuk bunuh diri, atau membunuh orang lain. Kalau hanya ada ilmu dan pengetahuan sebagai bekal untuk melayani nasib dan kehidupan, maka kau akan bisa menjadi stres, tekanan darah tinggi, bahkan bisa sampai membuat sumbatan-sumbatan di aliran darahmu dan berakhir stroke. Kau akan dipenuhi kecenderungan untuk uring-uringan atau mengamuk. Dan kalau aplikasinya adalah politik, bisa menjadi teroris, mengebom Istana atau membakar mal-mal.

Alhamdulillah ada opsi yang bernama iman. Dan itu Allah yang menyedikannya sebagai anugerah utama bagi manusia. Terhadap kepungan ketidaktahuan, ketidakmampuan, ketidaktercapaian dalam hidup, karena semua itu adalah “ghaib” bagi capaian pandang keilmuan manusia, Allah memberikan strategi “yu`minuna bilghaibi”. Mempercayainya dan mempercayakannya kepada Allah. Tidak harus memahaminya, tidak wajib mengerti, karena memang manusia tidak punya alat dan kapasitas kecuali untuk mengimaninya saja.

Misalnya kalau kita mendekat kepada Allah, apakah Allah juga dekat kepada kita? Jangan menjawabnya dengan cara pandang ilmu.

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.

>Hadits Qudsy ini jangan diserahkan kepada ilmu. Tidak perlu ada kumpulan pakar, rombongan ahli dan gerombolan ilmuwan yang bikin konferensi internasional untuk membuktikan apakah pernyataan Allah ini hoax atau bukan. Jangan-jangan Allah melakukan ujaran kebohongan.

Jangan diteliti, dianalisis dan dikonklusikan dengan alat ilmu dan pengetahuan, dengan akal dan pikiran. Percaya saja dengan sepenuh-penuhnya bahwa kalau kau mendekat kepada Allah, Allah pun mendekat kepadamu.

Kalau ada orang menganiayamu, melakukan kejahatan kepadamu, mencelakakanmu, memfitnahmu, menyeret-nyeret wajah dan ucapanmu ke wilayah-wilayah adu domba sosial. Kemudian Allah memastikan sikapnya “Fa man ya’mal mitsqala dzarrotin khairan yaroh, wa man ya’mal mitsqola dzarratin syarraon yaroh”, “wakamaru wamakarallah wallahu Khairul Makirin”. “wama romaita idz romaita walakinnalloha roma”, “Allah memberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna”, “Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah Pemberi balasan”— maka jangan semelang, jangan ragu-ragu, jangan bertanya-tanya. Itu mutlak pasti dilakukan oleh Allah.

Ini urusannya bukan ilmu, melainkan iman. Firman Allah yang dihimpun dalam Mushaf Al-Qur`an atau Hadits Qudsy. Bukan status Facebook atau Twitter atau Youtube. Bukan kabar burung cipret atau burung gagak hitam di Youtube dan Instagram.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Ini bukan narasi komunikasi bikinan manusia. Bukan aplikasi-aplikasi online karya makhluk, yang semakin canggih teknologi dan luasan komunikasinya, semakin banyak lobang-lobang untuk mentuyulinya. Dalam skala lokal atau nasional bahkan global. Dalam kadar yang kecil, sedang atau besar-besaran. Semakin maju alat-alat pelayanan sosial, terutama teknologi komunikasi dan informasi, semakin meluas peluang-peluang untuk mentuyuli. Saya puluhan tahun menggarap sawah dan bercocok tanam, para Tuyul yang panen raya dan berpesta keuntungan.

Lainnya