Sihir Nasional

Image by Vojtěch Kučera from Pixabay

Kata sahabatku yang hobi fotografi lanskap, yang paling sering dikomplain dari hasil karyanya adalah foto pemandangan yang terlihat lebih indah dari aslinya. Terutama kalau itu hasil dari pengolahan gambar yang canggih. Ketika orang yang terbujuk indahnya foto benar-benar mengunjungi secara fisik objek lanskap itu, mereka kecewa, “Oo.. ternyata cuma begini”. Jauh dari bayangan potret yang ada di kepalanya.

Kritik mengatakan memang tidak etis untuk mengedit foto sedemikian rupa sehingga menjadi terlihat jauh lebih bagus dari aslinya. Tetapi bukankah itu yang kita semua lakukan setiap hari, sadar ataupun tidak. Kita memproyeksikan citra yang ingin kita kesankan pada orang lain. Jarang sekali orang yang mau tampil benar-benar apa adanya ketika berinteraksi dengan orang lain. Karena kita memang dirancang untuk mendapatkan kepuasan ketika mendapatkan persetujuan sosial dari orang lain. Dan itu seringkali bisa dicapai dengan merekayasa citra kita.

Seperti banyak hal, pencitraan juga spektrum, dari yang polos tanpa polesan hingga yang bergincu dan berbedak tebal berbeda 180 derajat dari aslinya. Atau secara umum, dari yang seharusnya yaitu citra yang secara otentik adalah buah perbuatan seseorang, seperti halnya citra Rasulullah yang sangat baik di masyarakat Quraisy yaitu sebagai Al-Amin. Sampai pada pencitraan yang overdosis karena menampilkan citra yang sama sekali berbeda dengan aslinya. Itu berubah menjadi pembohongan. Bukankah menyampaikan yang bukan sebenarnya adalah kebohongan.

Pencitraan yang kelewat batas ada di mana-mana, termasuk juga yang jamak dilakukan dalam kehidupan kita sehari-hari seperti membeli barang yang di atas kemampuan kita hanya supaya dianggap kaya dan dihormati. Kita memang hidup di zaman materialisme yang melihat segala sesuatu dari yang tampak atau wadag luarnya saja. Tapi sekarang ini aslinya orang sudah tidak lagi peduli dengan citra baik, asalkan kaya. Jadi citra buruk pun orang tetap mau menanggungnya asalkan konsekuensinya adalah mendapatkan uang dan menjadi kaya.

Tapi pencitraan yang seperti itu masih lumayan, karena pada akhirnya hanya menyusahkan orang yang bersangkutan. Yang bikin susah orang banyak adalah iklan, postingan medsos, cuitan, dan berita di media yang dikemas sedemikian rupa untuk membentuk citra seorang pemimpin. Kekonyolan ditampilkan menjadi kemurnian, kebodohan dipoles menjadi kerendahhatian, dan proyek-proyek perusakan diberitakan menjadi kemajuan peradaban bangsa. Semua orang terpesona dan memilih pemimpin hasil pencitraan sehingga urusan orang banyak menjadi tidak ditangani oleh ahlinya, dan tinggal tunggulah kehancurannya.

Dalam konteks ini pencitraan bisa dianggap sama dengan pemalsuan, penggelapan atau manipulasi, dan menutupi kebenaran. Alias kufur. Ini adalah pekerjaan utama setan yaitu memperindah dunia dalam pandangan manusia. Dunia yang sesungguhnya sangat hina dicitrakan sebagai tempat yang indah dan manusia berbondong-bondong tertipu di dalamnya. Atau membuat manusia melihat perbuatan yang merusak sebagai kegiatan yang mulia. “Iblis berkata, Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.”(QS Al-Hijr: 39).

Pada hakikatnya itu juga yang dilakukan tukang sihir di zaman Nabi Musa. Yaitu membuat tali-temali menjadi terlihat seperti ular berbisa. Dan jangan menyangka sihir itu hanya terjadi di zaman Nabi Musa. Sekarang pun tukang sihir media mainstream menyulap tali-temali hal remeh-temeh yang dilakukan pemimpin hasil pencitraan menjadi terlihat seperti ular-ular sesuatu yang signifikan, pantas diperhatikan orang banyak, dan memperkuat citra sang pemimpin. Itulah sihir nasional dan kita masih menunggu siapa Nabi Musa zaman sekarang yang akan melemparkan tongkat menjadi ular besar sungguhan yang menelan habis semua tipuan itu dan menyadarkan orang seantero negeri akan kepalsuan yang menyelimutinya selama ini.

Lainnya