Setelah Dua Tahun Men(y)epi karena Pandemi

Refleksi Simpul Maiyah
17 Tahun Kenduri Cinta Jakarta

Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan selamat kepada teman-teman penggiat Simpul Maiyah, karena telah mampu melewati masa-masa sulit dalam dua tahun terakhir ini. Selamat atas keberhasilan teman-teman semua karena mampu survive dalam situasi yang benar-benar sebelumnya tidak terbayangkan sama sekali. Selamat untuk kita semua.

Memang benar, hidup adalah malam hari yang gelap, di mana kita tidak mampu sekalipun menerka apa yang ada di sekitar kita.

Tentu saja, dalam dua tahun terakhir ini kita semua sudah mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang baru. Meskipun sebenarnya, tidak berbeda jauh dengan kondisi sebelumnya, tetapi setidaknya dua tahun terakhir ini sudah mengajarkan kita untuk lebih sigap saat menghadapi sesuatu yang baru. Seperti tema Gambang Syafaat edisi Desember lalu, kita bisa memasuki dari pintu mana pun saja untuk belajar dari perjalanan dua tahun terakhir ini.

Pijakan yang diberikan Mbah Nun sejak awal pandemi sudah sangat tegas, bahwa apa yang kita alami ini sebaiknya kita serahkan sepenuhnya kepada Allah untuk meminta solusinya. Seperti kutipan Mbah Nun dalam salah satu tulisan seri Corona-78 “Ada atau tidak ada Corona”; Secara keseluruhan, kalau Corona ini bukan adzab Allah, maka posisi kita adalah meminta tolong kepada Allah. Kalau Corona ini adzab Allah, maka posisi kita adalah memohon ampun kepada Allah.

Pun Mas Sabrang, dalam satu edisi Reboan on the Sky menyampaikan bahwa untuk urusan Corona ini, saatnya kita yang awam untuk mempercayakan kepada mereka yang memang ahli di bidang sains. Meskipun pada perjalanannya, kita semua pun belajar memahami semua sudut dan ruang dari pandemi ini. Begitulah adanya hidup, bahwa sudah seharusnya kita sebagai manusia mempelajari segala sesuatu yang baru yang kita alami setiap hari.

Namun demikian, kita tidak boleh ge-er merasa kuat dan mampu melewati ini semua, karena sejatinya kita juga harus menyadari bahwa tidak mungkin kita mampu menjalani momen dua tahun ini tanpa izin Allah.

Sinau Bareng Maiyahan kita pun terkena imbasnya. Dampak paling nyata tentu saja adalah kita tidak bisa merasakan lagi atmosfer Sinau Bareng seperti biasanya yang diselenggarakan setiap malam hingga menjelang subuh. Protokol kesehatan yang diberlakukan menjadikan kita tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan Maiyahan seperti sebelum pandemi.

Pada perjalanannya, beberapa Simpul Maiyah terus mencoba melakukan simulasi demi simulasi untuk menemukan formula yang baru. Seperti dilakukan oleh Padhangmbulan, Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat, Bangbang Wetan, dan Juguran Syafaat, misalnya. Dengan menggunakan konsep hybrid, dimana sebagian jamaah bersama penggiatnya berkumpul di satu lokasi, lalu siaran langsung Maiyahan ditayangkan melalui platform Youtube agar Maiyahan bisa disimak oleh jamaah dalam skala lebih luas. Kenduri Cinta beberapa kali mencoba menyelenggarakan Maiyahan dengan beberapa kondisi. Nomaden, bahkan mengubah jadwal menjadi siang hari. Bukan tanpa alasan, karena memang dalam proses mencari konsep yang mampu mengakomodasi situasi dan kondisi saat ini.

Begitu juga dengan Simpul Maiyah di titik-titik kota lainnya, masing-masing mengeksplorasi berbagai kemungkinan untuk tetap menyelenggarakan Sinau Bareng. Implementasinya tentu saja berbeda satu dengan yang lainnya, dengan keunikan dan ciri khas mereka. Yai Tohar di awal pandemi tahun lalu menyatakan bahwa momentum pandemi inilah waktu yang tepat bagi jamaah Maiyah untuk mengaplikasikan nilai-nilai Maiyah di lingkungannya masing-masing.

Rumah Maiyah Kadipiro pun beberapa kali menyelenggarakan Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng dengan konsep yang berbeda dari sebelumnya. Tidak ada pilihan lain memang, karena ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, ada banyak pihak yang juga harus terlibat, sehingga setiap langkah yang diambil harus baik, benar dan indah.

Memang sangat berbeda rasanya jika dibandingkan dengan Maiyahan secara langsung. Atmosfernya berbeda, nuansanya berbeda, gayengnya pun berbeda. Tidak bisa menikmati tahu solet seperti di Menturo saat Padhangmbulan. Tidak bisa mlipir dulu ke angkringan seperti di Kasihan saat Mocopat Syafaat atau pojok Taman Ismail Marzuki saat Kenduri Cinta berlangsung.

Mbah Nun pun sangat produktif. Selain tulisan Seri Corona dan Seri Kebon yang ditulis Mbah Nun, banyak konten yang diproduksi oleh teman-teman Progress Management yang dirilis secara resmi melalui channel Youtube caknun.com. Bahkan, pada beberapa kesempatan, Mbah Nun mengunjungi teman-teman penggiat Simpul Maiyah secara langsung, sekadar untuk bersilaturahmi dan memastikan bahwa penggiat Simpul Maiyah dalam keadaan baik-baik saja.

***

Kita semua bersyukur karena dipersambungkan dalam ikatan tali silaturahmi Maiyah. Beberapa kali saya menyampaikan kepada teman-teman di Kenduri Cinta bahwa yang menjadikan kita betah di Maiyah adalah karena kita sendiri yang mengikatkan diri kita di Maiyah. Entah apapun alasan keberangkatannya, kita semua secara mandiri yang mengikatkan diri kita di Maiyah. Ikatannya pun berbeda-beda, ada yang mungkin hanya menggunakan tali rafia, tali tambang, atau bahkan kawat baja. Yang pada akhirnya menghasilkan kekuatan ikatan yang berbeda-beda.

Yang harus kita ingat kembali adalah bahwa ketika kemudian beberapa penggiat Simpul Maiyah bersepakat membangun sebuah komunitas Simpul Maiyah di tempatnya masing-masing adalah bukan karena kepentingan sesaat. Kita harus menyadari bahwa Maiyah adalah perjalanan panjang. Apa yang kita tanam hari ini di Simpul Maiyah masing-masing, belum tentu akan kita panen dalam waktu dekat. Teman-teman Gambang Syafaat bahkan memilki semboyan bahwa Maiyah adalah untuk anak cucu di masa depan.

Sudah pasti, tantangan yang dihadapi oleh penggiat di setiap Simpul Maiyah sangat berbeda satu dengan yang lainnya. Dinamika proses perjalanannya pun beragam. Apapun itu, semoga telah mendewasakan kita semua untuk berproses dan bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.

Potensi di setiap Simpul Maiyah yang berbeda dan beragam, masih menjadi PR kita bersama untuk bisa disinergikan. Hampir di setiap Silatnas Penggiat Simpul Maiyah kita membincangkan bagaimana caranya agar kita mampu bersinergi satu sama lain dalam sebuah komunitas yang kuat, yang bukan hanya membangun jalinan silaturahmi yang kuat, tetapi juga mampu saling menguatkan satu dengan yang lainnya.

Semoga, momentum dua tahun hibernasi ini juga melahirkan kreativitas-kreativitas bagi setiap individu di Simpul Maiyah yang kemudian mampu melahirkan peluang-peluang yang baru untuk setidaknya mampu bersinergi dalam satu lingkup kecil di Simpul Maiyah itu sendiri. Mungkin belum mampu bersinergi dalam cakupan seluruh Simpul Maiyah di semua titik, namun saya meyakini, beberapa Simpul Maiyah telah mampu bersinergi, sekalipun hanya sebatas sesama penggiat di satu titik Simpul Maiyah. Tentu hal itu juga sangat patut untuk kita syukuri.

Sebagai Jamaah Maiyah, kita melewati dua tahun terakhir ini dengan perjalanan sangat berat. Menjalani masa pandemi yang penuh ketidakmenentuan selama dua tahun terakhir, kita juga kehilangan beberapa sosok-sosok penting seperti Syaikh Nursamad Kamba, Bunda Cammana, Pak Iman Budi Santosa, hingga Kyai Muzzammil. Sosok-sosok penting yang telah mewarnai khasanah keilmuan kita saat sinau bareng di Maiyahan beberapa tahun terakhir ini.

Kita semua berutang banyak kepada mereka yang telah mendahului kita. Ada banyak kenangan, ada banyak nilai, dan tentu saja ada banyak ilmu yang sudah mereka tinggalkan kepada kita. Dalam konteks sinau bareng saja, tidak terhitung berapa banyak yang sudah mereka wariskan untuk menjadi bekal untuk kita semua.

Memasuki tahun 2022, bukan tentang apakah kita akan bisa Maiyahan lagi seperti sebelum pandemi atau tidak. Bukan sekadar itu saja. Yang perlu kita tadabburi juga adalah, seberapa banyak kita belajar dari pandemi ini. Seperti halnya pohon, setiap hari ia tumbuh, dahan dan rantingnya rindang penuh dedaunan, lantas memberi keteduhan bagi makhluk di sekitarnya. Sudah seharusnya kita juga demikian bukan?

Populer