Setahun Pandemi Corona di Jerman

Image by Gerd Altmann from Pixabay

Setahun sudah virus SARS-Cov-2 menemani kehidupan manusia. Semua berjuang dan beradaptasi sesuai tugas dan kemampuannya masing-masing. Setiap hari semua warga bumi belajar bersama menghadapi dan memahami pandemi.

Pada 3 Maret 2021 lembaga virologi berwenang di Jerman, Robert Koch Institut (RKI),  mengabarkan bahwa hampir 50 % dari kasus Corona positif di Jerman tertular oleh Virus SARS-Cov-2 varian B.1.1.7 dari Inggris. Dikabarkan varian baru ini 70% lebih menular daripada mutasi varian lainnya. Ada banyak mutasi virus ditemukan, namun di antara yang paling diwaspadai sekarang ini mutasi B.1.1.7 dari Inggris, mutasi dari Brazil, dan mutasi dari Afrika Selatan.

Tak lama berselang penularan pun semakin meningkat. Tertanggal 18 Maret 2021, diumumkan oleh RKI bahwa 72% dari kasus positif yang ada di Jerman adalah mutasi dari virus SARS-Cov-2 varian B.1.1.7. Jumlah pasien yang positif dalam 24 jam terakhir meningkat drastis di angka 17.504 orang. Data sebanyak ini terakhir kali pada sekitar dua bulan lalu, pun jumlah terendah yang terpapar virus ini pernah menurun hingga di angka 3000-an (dalam 24 jam) di Jerman  sebulan terakhir.

Hal yang dikhawatirkan oleh banyak tenaga medis dengan adanya mutasi ini yakni varian yang lebih cepat menular. Itu berarti akan membuat semakin banyak yang terinfeksi, yang berakhir pada semakin banyak pula yang harus dirawat intensif dan tak bisa dipungkiri berpotensi juga untuk lebih banyak warga yang meninggal oleh penyakit Covid-19 jika mengalami gejala yang berat.

Sementara ini, Jerman memperpanjang lockdown sampai 28 Maret 2021. Keputusan selanjutnya akan dirapatkan lagi pada minggu terakhir sebelum tanggal tersebut. Tindakan pelonggaran lockdown pertama baru dimulai pada 8 Maret 2021 lalu, dan di antara kebijakan barunya yakni diperbolehkan kumpul dengan 5 orang dari dua rumah berbeda, anak di bawah 14 tahun termasuk pengecualian. Mulai dibuka pula jasa salon, yoko bunga, sekolah untuk mengendarai mobil, toko buku, dan beberapa sekolah dengan protokol khusus sesuai dengan peraturan Negara bagian masing-masing.

Mulai hari Sabtu, 6 Maret 2021 alat tes antigen Corona juga sudah bisa dibeli secara bebas di apotek dan supermarket tertentu. Termasuk tes antigen Corona gratis, sekali dalam sepekan, untuk seluruh warga oleh Hausarzt (semacam dokter keluarga).

Di Negara bagian Baden-Württemberg sendiri hanya siswa yang berada di tingkat tiga dan menjelang ujian yang melakukan sekolah dengan tatap muka. Sisanya masih harus belajar via online. Namun ada juga yang menerapkan wechselunterricht atau sekolah bergantian, setengah dari jumlah siswa masuk pagi dan setengahnya masuk di siang hari.

Pun bagi siswa yang hadir dalam sekolah tatap muka diwajibkan untuk dua kali tes antigen dalam satu pekan. Selain itu, wajib untuk memakai masker FFP2 atau N95 dan setiap 20 menit sekali, diwajibkan untuk membuka ventilasi selama lima menit agar terjadi pergantian udara. Meskipun suasana masih winter dengan suhu rata-rata di bawah -0 derajat celcius.

Impfung alias Vaksin

Biontech adalah vaksin pertama untuk Covid-19 yang diuji dan disahkan oleh WHO (World Health Organization) dan EMA (European Medicines Agency) pada akhir 2020. Asal perusahaan Biontech berada di Kota Mainz, Negara Bagian Hessen, Jerman. Vaksin Biontech ini ditemukan oleh peneliti yang juga sepasang suami istri muslim keturunan Turki bernama Özlem Türeci dan Ugur Sahin. 19 Maret 2021 keduanya mendapat penghargaan tertinggi Bundesverdienstkreuz dari Presiden Negara Federasi Jerman atas jasanya dalam menemukan vaksin sehingga menyelamatkan kehidupan manusia, menyelamatkan eksistensi, mengamankan warga, ekonomi dan kebudayaan manusia.  Bahkan sebelum vaksin ini digunakan untuk pertama kalinya di Jerman, Negara Inggris dan Amerika sudah menggunakannya terlebih dahulu. Seiring waktu Biontech menggandeng Pfizer dari Amerika dalam proses produksi vaksin untuk seluruh warga dunia.

Empat vaksin yang sudah diuji EMA dan boleh digunakan di Uni Eropa yakni Biontech/Pfizer, Astraseneza, Moderna dan Johnson & Johnson. Riset dari Israel yang setengah warganya sudah divaksin dengan Biontech/Pfizer mengonfirmasi bahwa vaksin dapat menghindarkan dari Covid-19. Mereka yang sudah divaksin juga memiliki (grünimfpass) kartu vaksin yang sudah dilengkapi dengan QR-Code sehingga boleh kemana aja dan tinggal memindai kode ketika akan masuk restoran, bioskop atau tempat umum lainnya.

Jerman sendiri sejauh ini tidak mewajibkan dan tidak memaksa warganya untuk divaksin, semua harus dilakukan secara sukarela. Sejauh ini Jerman juga sangat menentang adanya kebijakan khusus (privilige) bagi warga yang sudah divaksin. Namun Uni-Eropa sudah mulai merapatkan kemungkinan adanya kartu vaksin digital dengan QR-code, dengan waktu paling lambat pengesahannya di musim panas (summer) tahun ini.

Prioritas pemberian vaksin di Jerman dimulai dari para lansia di atas 80 tahun, karena warga Jerman memang masih banyak yang berusia hingga 100 tahun dan memiliki risiko tertinggi ketika terkena virus ini. Selanjutnya para tenaga kesehatan dan orang-orang yang bekerja pada sektor-sektor penting dalam jalannya kehidupan ekonomi serta logistik, baru orang dewasa umum, kemudian remaja serta anak-anak.

Vaksin AstraZeneca dari Inggris-Swedia awalnya tidak boleh diberikan kepada warga di atas 65 tahun di Jerman karena riset untuk usia ini masih sangat minimal. Pada 15 Maret lalu vaksin jenis ini sempat diberhentikan sementara menyusul banyaknya negara yang melaporkan efek samping trombosis vena serebral (hirnvenenthrombose) setelah mendapatkan suntikan vaksin.  18 Maret pukul 17:00 EMA memberikan putusan kembali bahwa vaksin ini aman dan bisa dilanjutkan kampanye vaksinasinya. Banyak pula yang berpendapat risiko memiliki sakit berat karena kena Covid-19 lebih berat dan banyak daripada risiko efek samping dari vaksin Astraseneza.

Ujian

Tidak ada negara yang sempurna mungkin selaras dengan kawruh Jawa kabeh iku namung sawang sinawang. Kalimat itu ialah kesimpulan pendek saya dari mengobservasi setahun jalannya Pandemi di Jerman. Tentu mengobservasi lebih mudah daripada menjadi pelaku atau pihak-pihak yang mengambil keputusan secara langsung dalam beratnya efek dari Pandemi ini.

Awal suasana pandemi 2020 lalu, ada seorang menteri ekonomi dari Negara bagian Hessen yang bunuh diri efek tidak langsung dari pandemi ini. Belum lagi negara dengan tingkat keamanan dan validasi berlipat seperti Jerman juga masih kecolongan. Pada awal Maret lalu skandal korupsi pengadaan masker terungkap dan membuat dua pelakunya dikeluarkan dari parlemen. Politikus yang berasal dari partai terbesar ini juga membuat masa depan partai diambang kejatuhan karena kehilangan pemilihnya.

Masalah lain, pemberian bantuan bagi warga yang terdampak lockdown pandemi juga dapat dikelabui oleh sekelompok orang yang memakai identitas palsu untuk menglaim uang bantuan dari Negara. Disinyalir jumlah kerugiannya sampai jutaan Euro. Disamping itu, banyak pula warga Jerman yang tak pernah berhenti bergerak untuk demo seperti warga yang menolak kebijakan lockdown, dan menolak kebijakan vaksin. Lockdown dari November lalu atau mungkin kebijakan mengatasi pandemi yang berkepanjangan sudah membuat kebebasan bergerak mereka terbatasi. Kekhawatiran selanjutnya kalau manusia terus-menerus dibatasi ruang geraknya, mungkin akan ada masa kesabaran itu berada di penghujung batas.

Refleksi Setahun pasca Positif Covid-19

Suhu tertinggi tempat saya sepekan terakhir berada di angka 6 derajat, sedang suhu terendah berada sekitar -7 derajat celcius. Akhir Februari lalu suhu Jerman sempat mencapai 20 derajat, kemudian sepekan terakhir suhu turun drastis lagi. Hujan salju, hujan es, matahari muncul dan pergi sesuka hati. Mungkin inilah di antara dampak yang paling terasa dari perubahan iklim dan pemanasan global. Suasana masih sunyi karena situasi pandemi yang belum terkondisi. Pengalaman yang terjadi pada bulan Maret 2020, tepat satu tahun yang lalu, telah memberikan pada saya begitu banyak pelajaran berharga. Ya, setahun yang lalu Tuhan memperkenankan Virus SARS-Cov-2 mampir di tubuh saya selama lebih dari 22 hari. Berada dalam kondisi ketidakpastian akan penyakit baru dan peran media yang begitu luar biasa memberi tantangan tersendiri ketika berjuang dan berteman dengan virus ini di Jerman.

Mungkin saya satu dari orang yang beruntung masih bisa bertahan hidup dalam kondisi pandemi ini. Begitu banyak cerita menyedihkan akan suasana yang terjadi di intensivstation atau ruang intensif. Ada pasien muda dan positif yang sama sekali tak ada riwayat sakit, namun tak bisa bertahan. Ada kisah seorang anak yang kebetulan bekerja sebagai tenaga kesehatan, kedua orang tuanya tertular dan tak bisa bertahan lagi, sedang si anak yang immunnya masih kuat yang bisa bertahan untuk sembuh dan hidup. Covid-19, penyakit dengan seribu wajah.

Adapula pasien tanpa riwayat sakit sebelumnya, langsung kondisi memburuk dan harus bernapas dengan bantuan mesin selama 30 hari. Setelah 7 pekan perawatan akhirnya kondisi membaik dan dipulangkan dengan tetap melakukan terapi latihan pernapasan secara teratur. Kisah lain pasien berusia 29 tahun harus berjalan dengan bantuan rollator pasca terinfeksi virus ini. Meskipun sebelumnya dia tak pernah merokok, selalu ber-olahraga langsung turun sebanyak 13 kg berat badannya dalam 10 pekan dikarenakan efek dari virus yang menyerang di ginjal (gagal ginjal) sehingga membuatnya harus menjalani cuci darah (dialyse).

Kita semua yang masih diperkenankan oleh ruang dan waktu untuk bertahan hidup hingga usai pandemi ini nanti layaknya semakin bersyukur tak terkira. Gunakan waktu sehat sebelum waktu sakitmu, gunakan hidupmu dengan baik sebelum tiba waktu kembali kepada-Nya. Teringat pesan Mbah Nun suatu ketika, “Malas menurut saya pribadi itu dosa. Karena malas itu adalah cara memperlakukan waktu dan peluang dari Allah dengan cara yang tidak benar. Orang yang malas itu orang yang tidak bersyukur”.

Stay healthy, bleibt gesund.

20 Maret 2021

Lainnya