Belajar Kepada Pasien #2

Senyum Beebee

Dok. Pribadi

Ibnu Sina, bapak kesehatan modern, berkata, “Kegelisahan adalah separuh dari penyakit.

Ketanangan adalah separoh dari kesembuhan, dan kesabaran adalah awal dari kepulihan.”

Semua yang disebutkan itu dalah masalah nonfisik. Masalah hati, jiwa, dan pikiran, yang berpengaruh terhadap kesehatan individu seorang manusia. Saya punya pengalaman ini. Maksud saya, pasien saya yang mempunyai pengalaman ini, dan saya terlibat di dalamnya.

Sore itu, entah pasien yang ke berapa, asisten di ruang praktek memanggil pasien berikutnya.

“Anak Nabila, silakan masuk….”

Setelah beberapa saat, masih juga belum masuk, maka diulani lagi pemanggilan itu.

“Anak Nabila…, anak Nabila silakan masuk!”

Sambil saya pikir, ini Nabila yang mana. Maklum ada beberapa nama pasien dengan nama Nabila, dengan masing-masing nama panggilannya. Ada yang dipanggil Bila, Ila, Nabil, atau yang lainnya.

Selang beberapa saat kemudian masuklah gadis mungil, putih, rambut lurus, berumur 5 tahun. Datang bersama kedua orang tuanya. Saya biasa memanggil bapaknya Nabila dengan panggilan Mas Wiwit. Seorang wiraswastawan kuliner di daerah Yogya belahan utara. Beebee, nama panggilan untuk Nabila. Ia tampak sehat-sehat saja, tidak terlihatsakit, tidak demam, dan tersenyum dengan manis.

Ketika saya mengamati ini, Beebee menoleh kepada ibunya sambil mendorong untuk keluar ruangan.

“Lho…,” reaksiku.

“Kenapa Bee?,” saya bertanya.

“Kok ibu disuruh keluar?”

Beebee melihat saya dengan senyum tetapi langsung menoleh ke ibu dan bapaknya dengan memberi kode kepada mereka untuk meninggalkan ruangan periksa.

“Wah, ada apa niiih…,” batin saya.

Kemudian sang ibu bercerita kalau beberapa hari ini Beebe mengeluh pusing, engga enak badan, dan pengen diperiksakan ke saya. Ibunya masih menawarnya untuk diberi obat dulu, lha wong aktivitasnya biasa-biasa saja, tidak demam. Keluhan Beebee adalah keluhan subyektif yang hanya bisa dirasakan oleh Beebee dan diekspresikan ke ibunya.

Sampai sore itu keinginan Beebee untuk ketemu saya di RS tak terbendung lagi. Jadi, ibunya memasrahkan untuk diperiksa. Dan dengan syarat bahwa selama diperiksa, bapak dan ibunya harus keluar ruangan.

“Aaahhh….”

“Ini pasti ada sesuatu,” pikir saya.

Sang ibu segera memberi kode cepat ke saya sambil mengedip-ngedipkan mata untuk memeriksa Beebee walaupun kelihatannya secara fisik Beebee tidak sakit. Saya mengangguk menyetujuinya.

Bapak ibunya keluar ruangan. Beebee duduk berhadapan dengan saya, sikap dudknya layaknya orang dewasa yang sakit. Lalu saya tanya. “Sakit apa Bee?”

Beebee diam dan menunjuk kepalanya.

“Oooh pusing?,” sambut saya.

Beebee mengangguk sambil senyum-senyum malu, seperti anak-qnak seumurannya kalau mengekspresikan rasa malu.

Truus apa lagi yang dirasakan?”

Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, kecuali hanya senyum dan senyum dari Beebee.

“Batuk?”

Dia menggeleng.

“Pilek?”

Dia menggeleng lagi

“Sakit perut?”

Beebee menggeleng lagi, sambil sekali lagi menunjukkan kepalanya.

“Oooh pusing saja yaa….?”

Dia mengangguk.

“Baiklah kalau begitu…. Yuk sekarang tak periksa.”

Sambil berjalan menuju bed periksa, saya berpikir tentang apa yang dipesankan secara kilat oleh ibunya Beebee, dan saya mulai menangkap maksudnya.

Setelah pemeriksaan selesai, memang saya tidak menemukan kelainan apapun dari tubuh Beebee. Suhu normal, denyut jantung normal, suara jantung normal, paru-paru dan napas normal. Perut pun tak ada sesuatu yang aneh.

Saya kembali duduk dan ngobrol dengan Beebee. Kemudaian saya tanya.

“Sekarang apa yang dirasakan?”

Beebee menggeleng.

“Lhooo tadi kan sakit kepala?”

Beebee tersenyum.

“Jadi, sekarang sudah sembuh?”

Beebee mengangguk sambil tersenyum puas.

Aaaah baiklah….

Secara medis, terutama dari ilmunya dr. Roni, teman saya psikiater, keluhan pusing dan sakit perut adalah keluhan yang paling sering dikemukakan oleh pasien seusia Beebee sebagai ungkapan ‘sesuatu’ yang tidak bisa diukur dengan alat ukur. Biasanya pada pemeriksaan fisik dan pemeriksaan dengan alat tidak didapatkan kelainan. Bahasa menterengnya adalah psikosomatis.

Saya panggil kembali orang tuanya masuk dan kembali mereka masuk ke ruangan dan dengan senyum ibunya bertanya kepada Beebee.

“Bagaimana Bee?”

Beebee memeluk ibunya sambil berbisik sesuatu, yang saya tidak tahu dan tidak mendengarnya.

Kemudian mereka berpamitan pulang, saya mengantarkannya sampai pintu tanpa saya memberikan satupun obat ke Beebee.

Hari berikutnya ada bingkisan di atas meja praktek saya. Asisten bilang ini tadi kiriman dari pasien kemaren yang bernama Nabila.

Ada secarik kertas yang bertuliskan: “terimakasih dokter sudah menyembuhkan Beebee tanpa harus meminum berbagai macam syrop. Cukup bertemu dengan dokter, Beebee sudah bisa sembuh….

Saya masih tertegun membaca tulisan itu, dan merenung. Apakah yang dialami pasien saya tersebut adalah sakit, bener-bener sakit? Ataukah sakit yang dengan ‘pertemuan’ antara Beebee dengan saya terus sembuh?

Atau sebenarnya adalah alasan dari Beebee ke orang tuanya untuk sekadar berkunjung dan silaturahmi ke saya dengan mengatakan sakit dan tidak enak badan sebagai alasan untuk bisa melakukan silaturahmi tersebut? Aahh tidak tahulah saya.

Kejadian ini sudah beberapa tahun silam, tetapi masih sangat nyata di ingatan saya. Yang jelas sekarang Beebee sudah beranjak besar, mempunyai hobi main drum dengan lagu-lagu rock-nya.

Sehat-sehat ya, Bee!

Yogyakarta, 20 Juni 2021.

Lainnya