Semesta Cerpen Karangan Cak Nun

Kajian cerpen banyak diabaikan para peneliti ketika membincang karya-karya Cak Nun. Kebanyakan menggali dari perspektif pemikiran sosial, politik, seni, maupun budaya. Itu pun didasarkan atas rekam jejak Cak Nun era 90-an sampai sekarang. Di antara penelitian berbasis pemikiran tokoh, kajian sastra khususnya puisi lumayan mendapatkan atensi besar. Namun, saking banyaknya tulisan seputar itu, karya-karya cerpen Cak Nun segera terlewatkan begitu saja.

Ada dua sebab paling tidak. Pertama, Cak Nun lebih produktif menulis puisi ketimbang cerpen. Kedua, penerbitan buku antologi puisi maupun esai cenderung dominan daripada kumpulan cerpen. Alasan demikian pada gilirannya memperkuat posisi sosial Cak Nun sebagai penyair, esais, maupun budayawan, sebuah kategori yang dikonstruksi media massa waktu itu. Kalau kita lacak riwayat penerbitan buku-buku Cak Nun yang hampir mencapai seratus itu, hanya ada dua buku berisi kumpulan cerpen karangannya. Yang Terhormat Nama Saya (Sipress, 1992) dan BH (Kompas, 2006), dimana BH merupakan republish atas Yang Terhormat Nama Saya.

Dapat dibayangkan bentangan jarak selama 14 tahun penerbitan kedua antologi cerpen di atas. Di antara jeda tersebut beberapa buku, khususnya antologi esai, cenderung banyak dipublikasikan, di samping derasnya penulisan lirik lagu yang dibuat khusus untuk KiaiKanjeng. Itulah sebabnya, penelitian khusus mengenai karya-karya Cak Nun tersedot besar di luar genre cerita pendek. Padahal, sejarah penulisan maupun publikasi cerpen tersebut berada di tahun 1977-1982. Titimangsa manakala Cak Nun masih berusia 24 sampai 29 tahun.

Bukanlah mengherankan bila para peneliti muda yang hendak mengkaji cerpen Cak Nun tak begitu banyak. Sebab cerpen-cerpen itu ditulis ketika generasi yang disebut sebagai milenial masih berusia balita. Apalagi generasi paling belakangan, yakni Alfa kelahiran tahun 2010-2025 (anak Generasi Milenial dan adik Generasi Z). Dengan kata lain, topik kajian seputar karya Cak Nun yang ditulis generasi milenial itu berada di dalam trajektori gerakan Maiyah yang akhirnya melahirkan perspektif sebagaimana disinggung di awal.

Terdapat kekhasan tematis yang melatarbelakangi cerpen-cerpen Cak Nun. Ia banyak membincangkan masalah sosial yang dihadapi perempuan. Keunikan ini mendorong akademisi yang meneliti cerpen-cerpen Cak Nun dalam bingkai feminisme. Salah satu alasannya antara lain tak banyak cerpenis laki-laki yang membicarakan perempuan. Terlebih tokoh serta penokohan perempuan dibicarakan dalam perspektif keperempuanan. Meskipun demikian, bias pandang tetap tak terelakan, tetapi cerpen-cerpen Cak Nun agaknya meminimalisir potensi tersebut.

Di samping itu, salah satu cerpen berjudul Padang Kurusetra dalam buku BH sepertinya sekaligus mengawali pilihan estetik pewayangan jauh sebelum buku Arus Bawah (1994) dipublikasikan. Padang Kurusetra terbit di Kompas 14 Juni 1981. Sebelum orang menggandrungi Arus Bawah sebagai novel “pascamodernis” di era 90-an, Padang Kurusetra memberikan lambaran perdana bagaimana Cak Nun banyak menguak simbolisme pewayangan sebagai latar cerita, representasi tokoh, maupun kritik terhadap konflik perebutan kekuasaan.

Seharusnya pokok ini menjadi wilayah penelitian tersendiri karena era 80-an langgam estetis untuk kembali ke Jawa, kepada sesuatu yang lokal, tampaknya amat kuat seiring dengan kecenderungan Teater Dinasti yang mengakomodir lokalitas atau kenusantaraan lebih dominan. Gejala serupa juga dapat ditilik dalam karya-karya Darmanto Jatman, Linus Suryadi Ag., dan lain sebagainya hingga kelak diskusi-diskusi mengenai “sastra independen”, “sastra kontekstual”, “Jawanisasi”, maupun “warna lokal” menyeruak sampai akhir 80-an.

Pertanyaan yang mencegat berikutnya bukan terletak pada sebanyak apa karya sastra banyak memuat istilah atau konsep Jawa, melainkan sejauh mana ia mengartikulasikan yang pakem menjadi yang carangan sebagai bentuk pendekonstruksian. Riset Muhammad Asyhari Rahman Nur bertajuk Dekonstruksi dalam Kumpulan Cerpen BH Karya Emha Ainun Nadjib cukup menarik memperlihatkan pembacaan dekonstruktif atas Padang Kurusetra. Cerpen itu menjungkirbalikkan kedudukan pahlawan (lihat, hlm. 4).

Cerpen itu pada dasarnya menceritakan kehidupan Pandawa sebagai figur pahlawan. Sebagaimana pahlawan yang umumnya dilukiskan maskulin, kuat, serta gagah, di dalam Padang Kurusetra justru digambarkan sebaliknya. Pandawa justru kerap dirundung beragam penyakit: Yudhistira sakit maag, Bima terkena liver, Nakula maupun Sadewa terjangkit penyakit kuning, dan Kresna jatuh kekurangan gizi.

Pendek kata, tokoh di dalam cerpen tersebut sungguh-sungguh jauh dari kegagahan maupun heroisme Pandawa sebagaimana acap diglorifikasikan masyarakat umum. Dengan kata lain, Pandawa dikondisikan secara ironis. Di satu pihak memikul beban sejarah sebagai orang terkuat tapi di pihak lain justru penyakitan, bahkan kesaktian serta kebijaksanaan mereka dengan mudah ditundukkan oleh kemewahan pihak lawan. Pada cerpen-cerpen Cak Nun lain, upaya dekonstruktif itu juga diperlihatkan yang tak hanya di wilayah sosok pahlawan tapi juga cara berdoa maupun pandangan tokoh.

Pergulatan batin sang tokoh semacam itu juga kentara dalam cerpen Lelaki ke-1000 di Ranjangku. Jika cerpen sebelumnya mengetengahkan problem “kemampatan” maskulinitas karena dirundung bertubi-tubi penyakit, cerpen berikut justru menunjukkan gugatan perempuan atas kungkungan yang mengondisikannya. Gugatan itu memang tak mengubah keadaan. Nia, sang tokoh utama, tetap menjalani profesinya sebagai seorang pekerja seks. Ia benar-benar memahami keadaan, posisi, dan karena itu gugatan Nia terhadap profesi yang dihadapinya cenderung refleksif.

Tak seperti penggambaran pekerja seks lain yang diposisikan pasif, pasrah, dan menganggap dirinya tak berguna, Nia justru sebaliknya dengan menundukkan banyak laki-laki yang mencapai seribu orang itu. Di hadapan Nia para laki-laki itu memuncratkan segala bentuk “dosa dan kehinaan” (lihat, hlm. 20) di wajahnya. Namun, relasi antara Nia dan para lelaki tersebut justru timpang; kuasa Nia terhadap mereka lebih dominan. Dengan kata lain, hubungan pekerja seks dengan klien yang lazimnya digambarkan laki-laki lebih superior daripada perempuan, pada cerpen Cak Nun malah berlaku sebaliknya.

Nia merupakan tokoh utama yang menyadari sepenuhnya profesi yang diemban dengan detail mengidentifikasi konsumennya. Para hidung belang itu, entah berprofesi sebagai guru, sopir, pelaut, dosen, ataupun mahasiswa, kendati terkesan kuat tapi kenyataan di ranjang malah gampang loyo. Nia memahami betul perangai sampai tindak-tanduk mereka. Cerpen ini menempatkan Nia sebagai sudut pandang orang pertama yang serba tahu, sehingga alur cerita diusung penuh olehnya sendiri. Akan tetapi, Nia menyadari benar profesinya itu bukan atas pilihannya sendiri, melainkan atas rentetan kekecewaan yang telah dilaluinya sebagai primadona. Suami Nia yang amat dicintainya malah meninggalkan luka.

Seperti kutipan berikut, “Lelaki pertama yang meniduriku adalah suamiku sendiri dan lelaki yang mencampakkan ke lelaki kedua adalah suamiku sendiri…” Ungkatan batin Nia terhadap dunia luar yang begitu banyak menyediakan sandiwara itu benar-benar gamblang. Kalimat demi kalimat langsung yang diucapkan Nia sungguh tanpa tedeng aling-aling-aling. Di sinilah letak dan porsi “suara perempuan” yang menggugat amat nyaring terdengar, sehingga tak mengherankan cerpen ini menarik perhatian akademisi untuk didedah melalui perspektif feminisme.

Melalui “tokoh aku” yang dominan di dalam antologi cerpen BH, gugatan atas posisi perempuan terbabar secara personal bahkan intim. Kecenderungan ini ditunjukkan oleh kajian Muhamad Ilham dalam artikel ilmiahnya berjudul Konflik Kejiwaan Tokoh dalam Kumpulan Cerpen BH Karya Emha Ainun Nadjib. Menurut temuan itu kebanyakan tokoh yang terdapat di sana (a) memiliki kesadaran refleksif atas situasi dan kondisi yang membuatnya berprofesi dan/atau berperangai demikian, (b) tokoh berada di dalam bayang-bayang persoalan sosial di sekitarnya sehingga menimbulkan tegangan psikologis di dalam dirinya sendiri, dan (c) subjek yang sadar-diri terhadap keadaan tak berarti keluar dari kemelut hidup yang merundungnya.

Entah kenapa tokoh-tokoh cerpen yang dibuat Cak Nun seperti bergelayut di kehidupan nyata. Barangkali inspirasinya dinukil dari kehidupan riil. Khususnya akhir 70-an dan awal 80-an. Namun, betapapun upaya kita untuk menghubungkan peristiwa faktual waktu itu, saya kira cerpen tetaplah karya fiksi meski ia dipetik dari pengamatan empiris.

Lainnya