Kebon (197)

Sembahyang Lautan dan Gelombang

Hari ketika saya menulis sahabat sejati Harry Tjahjono, di mana saya menyebut peran sahabat sejati Mas Teguh Esha, sahabat sejati yang lain, Mas Uki Bayu Sejati, mengusulkan agar kami mengunjungi sahabat sejati lainnya lagi yakni Mas Teguh Slamet Hidayat yang dalam keadaan sakit. Belum terpenuhi hajat itu, Allah duluan memanggil Mas Teguh Esha yang kemudian dimakamkan di Tanah Kusir.

Hidup adalah menumpuk hutang dari hari ke hari. Hidup adalah memperbanyak jumlah kredit yang kita tidak bisa menghitungnya secara persis. Maka mati adalah momentum dan batas waktu di mana manusia tidak bisa menunda lagi untuk bayar hutang.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat pula memajukannya.

Sudah jatuh tempo. Semoga dan insyaallah Mas Teguh tidak perlu cemas, karena malah mungkin memasuki kehidupan baru dengan membawa sisa saldo. Yang pasti berhutang adalah saya kepadanya.

Hutang tidak hanya terbatas pinjam uang terus belum mengembalikan. Punya tanggungan belum melunasi. Kalau seharusnya melakukan sesuatu tapi tidak melakukannya, juga hutang. Apalagi sesuatu itu kewajiban dari Allah atau keniscayaan akhlak di antara sesama manusia. Atau juga seharusnya tidak melakukan malah tidak melakukan. Seharusnya melawan tapi milih kompromi. Seharusnya perang malah damai. Atau banyak klausul-klausul lainnya. Sangat jelas bahwa sesungguhnya ilmu dan mesin hitung manusia tidak akan pernah memiliki presisi dalam menghitung utang-piutang kehidupannya.

Sudah lama berniat mengunjungi Mas Teguh, tapi tak juga terlaksana sampai waktu lama bahkan hingga beliau dipanggil oleh Allah. Berkali-kali Gandhie Kenduri Cinta di Jakarta saya kasih PR untuk merancang kunjungan ke banyak sahabat-sahabat. Sejak Mas Danarto dulu, Mas Aswab Mahasin, dll hingga Mas Teguh Esha ini.

Yang bisa dipastikan secara multak adalah semua dan setiap manusia sudah dan akan mati dalam posisi ditimbuni oleh tumpukan hutang-hutang kepada Allah Swt. Kalau Allah tidak membuka diri-Nya dengan posisi ar-Rahman, ar-Rahim, al-“Afuwwu, al-Ghofur, al-Ghoffar, al-Hannan dan al-Mannan, maka sisa kepastian kita semua hanyalah api neraka yang juga tidak akan sanggup kita menanggungnya.

Fakta dan simulasi hitung-hitungan semacam itu sebenarnya bisa dicapai oleh manusia dengan daya inteleknya sendiri. Tetapi karena kebanyakan manusia itu malas berpikir dan rata-rata tidak optimal ikhtiar intelektualnya, maka Rasulullah dengan level geniousitasnya yang sangat tinggi menolong kita dengan sabdanya:

قال: سدِّدوا وقارِبوا وأبشِروا؛ فإنه لا يُدخِل أحدًا الجنةَ عملُه ،
قالوا: ولا أنت يا رسول الله؟ قال: ولا أنا،
إلا أن يَتغمدَني اللهُ بمغفرة ورحمة
وأنَّ أحبَّ الأعمالِ إلى الله أدومُها وإن قلَّ

Rasulullah Saw bersabda, “Tujulah kebenaran, mendekatlah dan bergembiralah bahwa sesungguhnya tidak seorang pun dari kalian yang dimasukkan surga berdasarkan amalnya”. Mereka bertanya, “Tidak juga Tuan, wahai Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Tidak juga aku. Kecuali (kemungkinan dimasukkan sorga itu) bila Rabb-mu melimpahkan rahmat dan karunia padaku. Dan ketahuilah bahwa amal yang paling disukai Allah adalah yang paling rutin meski sedikit.”

Kalau manusia hanya berbekal apa yang ia punyai selama hidup di dunia, kemudian mati, rata-rata ia dalam keadaan ditimbun hutang. Kemungkinan untuk bisa lolos memasuki gerbang sorga hanyalah ampunan Allah, rahmat-Nya, kemurahan-Nya, pembebasan hutang kepada-Nya.

Hutang kepada teman sendiri dan sesama manusia saja belum tentu kita bisa melunasi. Apalagi hutang kepada Allah. Sampai-sampai di sekitar tahun 1977 saya menulis di Majalah Masjid Salman ITB Bandung dengan judul “Hutang-hutang Kebudayaan” yang sampai hari ini setengah mati Kadipiro mencari arsip atau dokumentasinya dan tidak kunjung ketemu. Sampai-sampai saya meyakini bahwa ideologi terbenar, terpresisi, dan terbaik dalam hidup manusia adalah “Membayar Hutang Kepada Allah”. Semua manusia tidak bisa membeli nyawanya, membayar hutang atas tangan dan jari-jemarinya, atas detak jantung dan aliran darahnya, serta segala macam organ yang kita pakai dan nikmati dalam kehidupan, yang semuanya kita peroleh tanpa membeli dan tidak sungguh-sungguh punya kesadaran untuk membayar hutang itu kepada Allah. Belum lagi hutang angin dan udara, hamparan tanah dan tetumbuhan, gunung dan planet-planet. Belum lagi misteri hati dan akal. Semua manusia ingin hidup sejahtera, nikmat dan berkah, padahal hutangnya tidak pernah dibayar.

Bahkan kebodohan dan kepongahan manusia sampai-sampai melahirkan anggapan bahwa ada “hak asasi manusia” kemudian mengibar-ngibarkannya di seantero bumi untuk memenjarakan ummat manusia. Ya Allah ampunilah hamba, sampai sejauh itu kedunguan dan keangkuhan makhluk-Mu yang bernama manusia. Yang sudah hidup selama sekian milenium tapi tetap dungu juga.

Saya berhutang kepada Mas Teguh Esha dan banyak sahabat-sahabat mulia hati dan jiwa suci. Orang mengenal “Emha” melalui tulisan-tulisan saya di media cetak, dan Mas Teguh memakai “Esha”, singkatan dari Slamet Hidayat. Sebenarnya saya tidak tahu persis dan tidak ada siapapun yang meneliti duluan mana saya pakai Emha atau Mas Teguh pakai Esha. Saya juga tidak peduli sedang mempertandingkan inovasi siapa yang lebih dulu menyandang copyright-nya. Saya tahunya Mas Teguh manusia yang tulus hati, seorang Mujtahid yang luar biasa. Seorang yang hidup dengan dorongan kreativitas dan inovasi bahkan invensi.

Suatu hari dia datang ke Patangpuluhan, kami mengobrol dan Mas Teguh berbicara sangat banyak dan panjang lebar, yang semuanya berkisar di dalam lingkup fenomenologi pemikiran dan ijtihad. Alhamdulillah saya dianugerahi Allah menjadi pendengar yang sabar, bahkan mengakomodasi semua pemikiran aneh dan liar Mas Teguh sampai ke jangkauan yang sangat jauh. Saya bersabar mendengarkan Mas Teguh sampai tiga empat jam. Bahkan sengaja memancing dengan banyak pertanyaan sehingga penjelasan beliau juga menjadi sangat panjang dan detail.

Sampai akhirnya Mas Teguh bersembahyang di ruang depan rumah Patangpuluhan. Dan meskipun sudah sedikit mendengar sebelumnya, tapi saya kaget juga melihat beliau bersembahyang. Cara beliau shalat tidak atas pedoman kalimat Rasulullah Saw “shollu kama ro`aitumuni ushalli”. Melainkan cara shalat atas inovasi dan ijtihadnya sendiri. Mas Teguh menghayati keagungan Allah dengan merefleksikan betapa dahsyatnya penciptaan lautan yang bergelombang serta hembusan angin sampai badai. Maka Mas Teguh melakukan shalat dengan merepresentasikan karakter laut dan angin. Gerakan tubuhnya menggambarkan luasnya lautan dan bergelombangnya angin. Sehingga membutuhkan tempat yang luas.

Saya segera menutup pintu dan jendela depan rumah Patangpuluhan. Khawatir ada tetangga atau orang lewat melihat Mas Teguh shalat dengan cara yang aneh. Saya tunggu sampai selesai dan kemudian kami duduk kembali mengobrol di teras depan Patangpuluhan.

Andaikan cara-cara menyembah Tuhan dipercayakan dan dipasrahkan kepada manusia, maka betapa banyaknya madzhab dan aliran-aliran Islam. Manusia akan berdebat dan butuh berabad-abad menuju kepastian bagaimana cara yang benar dalam melakukan shalat. Bagaimana gerakannya. Bagaimana ucapannya. Berapa lama waktunya. Berapa kali dalam sehari. Apa hubungan keabsahan shalat dengan disiplin gerakan dan ucapannya serta dengan niat dan kesungguhan batinnya. Saya pastikan bahwa ummat manusia dan Kaum Muslimin tidak akan pernah mencapai kesepakatan tentang kebenaran dan legalitas ibadah. Situasi itu akan menimbulkan perpecahan akut, bahkan mungkin perang antar golongan bahkan Perang Dunia khusus yang triggernya adalah bagaimana bentuk penyembahan kepada Tuhan.

Untung ada “shollu kama ro`aitumuni ushalli”. Seluruh kemungkinan konflik dipangkas oleh Kanjeng Nabi. Zaman demi zaman bergulir tidak mengurusi “bagaimana cara beribadah”. Masalahnya tinggal manusia beribadah atau tidak.

Mas Teguh serius terhadap hidup, khusyuk kepada Tuhan, penuh perenungan terhadap nasib sampai sorga atau neraka. Tetapi cara dia shalat menganut persepsinya sendiri. Tafsir subjektifnya sendiri. Secara hakiki atau subatsnsial tidak ada yang salah, tetapi secara syar’i, birokrasi langit bumi atau administrasi kemakhlukan, bisa sangat menimbulkan masalah.

Ketika kami mengobrol kembali hampir semalaman saya tidak sedikit pun mengkritik, melawan atau apalagi menyalahkan. Jangankan lagi mengkafirkan. Saya hanya mendengarkan. Berjam-jam. Seluruh arus dari jiwa dan pikirannya saya hadapi dengan kesabaran dan ketahanan. Saya sangat berpuasa secara psikologis, karena sebenarnya di setiap tahap dari pembicaraan itu, saya punya banyak hasil pemikiran saya sendiri yang bisa saya pakai untuk membantahnya. Semua itu bagi saya bukan sesuatu yang pelik. Semua bisa di-breakdown secara sederhana dan menjadi masalah yang bersahaja.

Ada seorang sahabat lain yang memimpin sebuah perusahaan penerbitan yang mengekspos satu Majalah terkenal menyatakan kepada saya “Saya sangat percaya kepada Allah, tapi tidak bisa memahami kenapa Allah mewajibkan manusia untuk beribadah, shalat lima waktu dll. Toh Allah tidak membutuhkan itu sama sekali”.

Selama hidup ada banyak sahabat-sahabat yang kreatif cerdas inovatif seperti ini. Pengalaman macam-macam itu membuat saya terbiasa, karena memang Allah menciptakan “syu’uban wa qabail”. Kepada teman itu saya merespons: “Ya sudah nggak usah shalat gak usah puasa dll, teruskan sampai usia tua nanti, sampai kau menemukan bahwa kau merasakan secara mendalam bahwa kau membutuhkan ketenangan hidup dan ketenteraman menuju mati. Dan cara yang shortcut untuk mendapatkan itu adalah beribadah ajeg lahir batin menghadap Tuhan”.

Al-Qur`an adalah himpunan bimbingan Allah kepada semua manusia, bukan kepada saya atau Mas Teguh saja. Al-Qur`an disampaikan lewat Nabi Allah Muhammad Saw, tidak melalui saya atau Mas Teguh. Ayat pun diaskselerasikan oleh Allah kepada hamba-Nya dengan prosedur teknis tertentu. Dan transformator atau katalisator atau wasilah Islam dan Al-Qur`an itu bukan saya atau Mas Teguh, melainkan Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Itu pun Allah mempelopori suatu perlakuan sederhana dan favourable, populer dan sangat umum tentang dan terhadap Muhammad.

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ

Kawanmu, Muhammad itu, tidak sesat dan tidak pula keliru.

Allah yang Maha Agung itu bahkan merendahkan diri-Nya dengan kehadiran budaya yang “gaul” dan sehari-hari.

Pada akhirnya Mas Teguh kembali ke “shollu kama roaitumuni ushalli”. Dan tatkala Allah memanggilnya untuk mudik sejati ke kampung halamannya, Mas Teguh sudah duluan mudik ke dirinya yang otentik dan sejati.

Lainnya