Selamat Jalan, Selamat Kembali Ke Rumah Sejati, Yai Muzammil

Kiranya kita semua tidak menyangka bahwa Kiai Muzammil begitu cepat mendahului kita kembali ke haribaan-Nya pada saat kita semua tengah menikmati kebersamaan Maiyah, di mana di dalamnya Kiai Muzammil menjadi salah satu narasumber ilmu bagi kita semua mendampingi Mbah Nun dan para marja lainnya, menjadi bagian dari kegembiraan dan hubb fillah di antara kita. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Meminjam ungkapan Mbah Nun, bagaikan dalam perjalanan, tanpa kita sadari, tiba-tiba Kiai Muzammil telah menyalib atau menilap meninggalkan kita, dan sesaat kemudian kita tersadar bahwa beliau sudah ‘tidak berada’ di sekeliling kita. Kita menoleh ke kanan kiri mencarinya, dan ternyata beliau sudah jauh posisinya dari tempat kita.

Rasa disalib itu saya rasakan betul, tatkala mengingat pertemuan terakhir dengan beliau, yaitu di bulan Ramadhan, saat beliau hadir dalam salah satu Sinau Bareng di Rumah Maiyah Kadipiro yang disiarkan secara streaming via YouTube caknun.com. Selepas itu kami tidak bertemu lagi, dan juga tidak berkomunikasi via WA. Hari-hari setelah itu, seperti biasa saya berkonsentrasi dengan tugas-tugas di Progress, termasuk menyiapkan apa-apa yang harus ready dan on schedule selama libur Idul Fitri.

Sampai selepas Idul Fitri dan saya bersama teman-teman Progress sudah memulai aktivitas rutin kembali, saya mendengar kabar beliau sakit. Tiba-tiba saya merasa sudah lama tak berjumpa dengan beliau. Ada sedikit rasa gelisah. Terbayang wajah beliau. Untuk mengurangi gelisah itu, saya mencoba menyapa beliau dan menyampaikan doa melalui WA, “Ass wr wb, Yai, Lekas sembuh ya Yai.”

Sebenarnya saya me-WA beliau selain untuk menyapa dan menghaturkan doa, juga bermaksud mengundang beliau untuk hadir di Kadipiro. Kami (Keluarga Kadipiro dan KiaiKanjeng) mau internalan dzikir dan shalawatan untuk menyambut ultah Mbah Nun ke-68 hari ini. Tapi urung saya kemukakan undangan itu mengingat kondisi beliau sedang sakit. Dalam hati yang paling dalam, saya memanjatkan doa agar Allah segera menganugerahkan kesembuhan kepada Kiai Muzammil.

***

Kurang lebih seminggu yang lalu, Mbah Nun bertanya kepada saya siapa-siapa di antara kita yang sudah mendahului menghadap Allah Swt. Lalu saya tuliskan nama-nama orang-orang yang telah mendahului kita tersebut baik dari Keluarga Mbah Nun, Sesepuh Maiyah/Guru/Marja’, Keluarga KiaiKanjeng, maupun teman-teman Jamaah Maiyah.

Khawatir ada yang tertinggal dari daftar itu, saya sampaikan kepada beliau, “Jika masih ada yang kelewatan, mangke saya lengkapi.” Mbah Nun tidak mengatakan untuk keperluan apa beliau meminta daftar nama beliau-beliau yang telah lebih dulu dipanggil Allah Swt tersebut.

Pikir saya, itu untuk keperluan beliau menulis. Apalagi dalam serial Kebon memang beliau menulis perjalanan hidup beliau dari sejak kanak-kanak, masa di Gontor, Malioboro, hingga masa KiaiKanjeng dan Maiyah, dan di sana ada pertautan dan persentuhan dengan sosok-sosok yang telah mendahului kita itu utamanya beliau-beliau yang selama ini menjadi orang-orang terdekat dalam hidup Mbah Nun.

Ketika hari ini Kiai Muzammil pergi meninggalkan kita, saya jadi tersadar dan bertanya-tanya, agaknya ketika Mbah Nun meminta nama-nama para pendahulu itu, adakah itu semacam isyarat. Mbah Nun menyebut para pendahulu itu adalah “Ahibba’” yang artinya adalah para kekasih atau orang-orang yang kita cintai. Tahun 2015, di Padhangmbulan, Mbah Nun dan KiaiKanjeng mengajak kita semua jamaah Maiyah untuk mengenang dan menimba ilmu dari para Ahibba’ itu.

Isyarat yang saya maksud adalah bahwa kita akan ditinggalkan oleh seseorang di antara kita. Seingat saya hampir semuanya sudah saya sebut dan tak ada yang tertinggal dari nama-nama yang saya berikan kepada Mbah Nun. Namun, karena jarak waktunya yang dekat dengan berpulangnya Kiai Muzammil ke haribaan-Nya, kita tahu daftar nama kekasih atau ahibba’ itu kini bertambah satu lagi, yaitu Kiai Muzammil, menyusul para kekasih sebelumnya: Bunda Cammana, Syaikh Nursamad Kamba, Iman Budhi Santosa, Umbu Landu Paranggi, dan Eyang Soeprapto Kolopaking.

***

Kepergian Kiai Muzammil bertepatan dengan ulang tahun Mbah Nun hari ini, Kamis 27 Mei 2021. Kebertepatan yang semua kita merasakannya sebuah keindahan yang menyertai kepulangan Kiai Muzammil. Betapa tidak! Mbah Nun adalah sosok yang sangat dita’dhimi oleh Kiai Muzammil. Dan, momentum ulang ulang tahun Mbah Nun kali ini, sebenarnya di Rumah Maiyah Kadipiro berlangsung obrol-obrol di mana kemarin Cak Zakki berharap, momentum Ultah Mbah Nun ini tidak menjadi viral atau trending topic di media sosial seperti pada tahun-tahun lalu. Entah apa yang dirasakan Cak Zakki saat mengungkapkan keinginan itu.

Tetapi, saya jadi menangkap, pada momentum ultah Mbah Nun ini, kita memang ternyata diminta untuk menundukkan kepala dan memberi hormat kepada Kiai Muzammil, salah seorang ahibba’ Maiyah, yang hari ini berpulang ke rahmatullah. Mbah Nun menyampaikan kepada kita bahwa kita semua didawuhi Allah Swt untuk ikhlas atas kepulangan beliau ke haribaan-Nya. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu anhu.

Kepergian Kiai Muzammil juga bertepatan dengan malam berlangsung majelis ilmu Padhangmbulan tadi malam. Kita semua tahu bahwa Kiai Muzammil juga merupakan salah seorang yang diminta Mbah Nun untuk hadir di Padhangmbulan untuk mendampingi beliau, Cak Fuad, dan narasumber lain. Khususnya di Mocopat Syafaat Yogyakarta, beliau diminta rutin sebagai “dosen dan Kiai tetap”. Pun di Sinau Bareng-Sinau Bareng lainnya di manapun Kiai Muzammil sangat ringan kakinya melangkah untuk ikut membersamai dan berbagi. Sampai saat kemarin sebelum beliau meninggal dunia. Kesetiaan dan keta’dhiman menjadi pancaran wajah beliau.

Buat saya pribadi, saya menyaksikan bagaimana Kiai Muzammil semenjak mengenal Mbah Nun, adalah sosok yang selalu belajar dan tak pernah berhenti meluaskan diri. Kiai Muzammil sebagai orang Madura dengan karakter khasnya, sebagai seseorang yang berlatar belakang santri di salah satu pondok pesantren salafiyah terbesar di lingkungan NU, kemudian bertemu Mbah Nun yang notabene merupakan Kiai yang tidak seperti umumnya Kiai, Kiai Muzammil diajak mengembarai bermacam keluasan hidup dihadapi atau dijalani oleh Mbah Nun serta metodologi berpikir yang lebih melibatkan banyak pendekatan ala Mbah Nun juga, dan melintas batas persaudaraan dengan banyak teman-teman Jamaah Maiyah yang sangat ragam.

Pada saat yang sama, Kiai Muzammil bukan hanya tetap berkhidmat di dunianya yaitu Pesantren Rohmatul Umam yang didirikannya, di Jam’iyah Nahdlatul Ulama, dan di persaudaraan dengan para Gus dan santri Nahdliyyin, melainkan memiliki lebih banyak perspektif yang kaya dalam melihat dan memaknai dunia yang beliau berkhidmat di dalamnya. Bila Mbah Nun menyampaikan kepada teman-teman Jamaah Maiyah bahwa jika kebetulan mereka adalah orang NU, maka dengan Maiyah jadilah orang yang makin NU, dan jika mereka adalah orang Muhammadiyah, maka dengan Maiyah jadilah orang yang makin Muhammadiyah. Saya kira, kita melihat hal ini pada sosok Kiai Muzammil. Selalu istiqamah berjuang, berbagi, dan menikmati dialektika berpikir di Majelis Ilmu Maiyah, sembari pada saat bersamaan tetap mengasuh pondok pesantrennya, tak pernah berhenti bersilaturahmi dengan para Kiai, rajin berziarah ke makam para ulama dan wali, mujahadah, shalawatan, dan mengajar ngaji Kitab Kuning.

Tabik, dan hormat kami untukmu, KH Ahmad Muzammil. Selamat jalan, selamat tiba di rumah sejati-Nya.

Yogyakarta, 27 Mei 2021

Lainnya