Sebuah Catatan untuk Krisis Iklim: Bersiaplah, Pelaku-Pelaku Perubahan!

Photo by Reza Rinaldi on Unsplash

Segala sesuatu mengalami perubahan. Hanya Tuhan yang kekal dan abadi. Selain Tuhan, semua berpotensi mengalami perubahan. Perilaku, baik kognitif, afektif, maupun motorik, akan selalu berubah mengikuti perubahan mindset. Bagaimana mindset itu dibentuk sangat ditentukan oleh pengalaman dan pendidikan. Juga, terkadang prasangka atau perkiraan.

(Muhammad Nursamad Kamba)

Kalau Anda biasa menonton film-film fiksi ilmiah tentang bencana, mungkin sudah terbiasa pula dengan plot bahwa kesalahan penanganan lazimnya dimulai dari pemerintah yang mengabaikan peringatan dari ilmuwan. Lalu ketika kondisi terburuk sudah terjadi dan perkiraan dari ilmuwan yang akhirnya benar, situasi hanya bisa disesali. Itu film Hollywood. Saya tidak sedang menyinggung salah satu pun negara di bilangan Asia Tenggara.

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), organisasi ilmuan seluruh dunia yang berfokus meneliti perubahan iklim (Hufffft, saya lebih memilih menggunakan istilah krisis iklim) merilis laporan setebal 4000 halaman untuk menunjukkan krisis iklim yang mustahil dicegah. Laporan setinggi kursi itu juga menyebut krisis iklim akan tetap mengubah drastis pola kehidupan manusia bahkan ketika emisi gas rumah kaca berhasil dibatasi. Dampaknya antara lain adalah cuaca ekstrem, perubahan ekosistem, kekeringan, banjir, dan juga kenaikan air laut.

Pada dampak paling akhir tersebut di atas, sebuah postingan di Twitter  mengajak kita untuk susur pantai virtual pada daerah-daerah yang sudah tenggelam selain Jakarta. Pembaca dapat menelusuri kata kunci rob atau abrasi di Muara Gembong Bekasi, Cemara Jaya Karawang, Legon Kulon Subang, Eretan Kulon Indramayu, Losari Cirebon, Randusanga Brebes, Panggung Kota Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, Demak, dst. Betul, tempat-tempat tersebut adalah nama-nama daerah di salah satu negara di barat samudera pasifik, yang terendam air laut sebelum puncak krisis iklim terjadi.

Bagaimana menyikapi seluruh data-data kengerian krisis iklim di atas? Jawaban terukur dari pihak yang “merasa mengampu” masih berkutat pada kepentingan politik parsial. UNDP misalnya berencana menggelontorkan 150-300 miliar dolar sampai 2030 untuk pengurangan dampak pemanasan global. Hal yang dalam perspektif mereka sendiri juga sudah disebut mungkin sia-sia oleh IPCC. Salah satu konferensi PBB untuk krisis iklim atau UNFCCC akan diadakan di Glasgow akhir tahun nanti. Apapun hasilnya sebenarnya tidak akan jauh-jauh dari logika program-program global yang timpang antara Barat dan Timur. Khusnudhdhon-nya: semoga saya salah dan terjadi perubahan mindset di level penggede dunia.

Pendapat yang sudah muncul namun susah untuk populer dalam logika pembangunan sentralistik Barat: krisis iklim adalah perkara global yang harusnya ditanggulangi melalui solusi yang selokal mungkin. Tidak melalui melalui slogan-slogan dengan kata keberlanjutan dengan hitungan dana triliunan rupiah. Dalam spektrum pengambilan kebijakan formal, jebakan kekuatan selalu ada pada kuasa kapital. Selain pemilik modal, alih-alih didengarkan, Anda tidak akan berada di kursi terdepan.

Jadi, pembahasan tentang pranata mangsa misalnya tidak mungkin masuk dalam salah satu panel di UNFCCC. Meskipun sistem perkiraan cuaca “tradisional” juga ada di Asia Tengah, Amerika Selatan, bahkan komunitas pranoto mongso Amerika merilis tiap tahunnya Tradisional Farmers Almanac-nya. Iya. Polanya juga mirip. Salah satunya, penanda musim tanam adalah rasi-rasi bintang utama di setiap wilayah yang kemudian diidentifikasikan pada alat-alat simbol pertanian. Rasi big dipper sebagai sekop adalah penanda di wilayah bumi utara yang setara dengan orionid yang berbentuk Luku di Jawa atau wilayah segaris di bawah garis khatulistiwa.

Old ways wont open new doors. Cara-cara lama sudah usang, mari bergeser pada kemungkinan baru. Saya melihat kemungkinan perubahan mindset ini di simpul-simpul Maiyah di seluruh pojok-pojok tanah air. Secara, kita sudah terbiasa disebut “alternatif”. Mengutip Syeikh Kamba, perubahan mindset bisa dipengaruhi oleh pendidikan dan pengalaman di satu sisi, tapi ada prasangka dan perkiraan di sisi yang lain. Bukankah ilmu perkiraan cuaca di Nusantara awalnya juga hanya perkiraan-perkiraan saja? Sama seperti itu jugalah, para peneliti yang dibekali oleh satelit-satelit termahal di dunia. Bedanya, mereka memiliki kapasitas pengukur ketat dengan aneka pembatasan yang presisi.

Meskipun galau, tapi saya sama sekali tidak khawatir, ketika nanti dukungan sumberdaya riset top dunia yang hasilnya empat ribuan lembar laporan, akan diacuhkan oleh UNFCCC dengan tanpa perubahan berarti pada kebijakan level dunia. Kembali saja ke pojok-pojok Nusantara yang mungkin dengan keterbatasan resources tapi penuh dengan kedekatan dengan fakta-fakta lapangan. Jika memiliki tindakan, tanpa menunggu sampel sampai di laboratorium super, tindakan sudah bisa diambil. Gagal ya tinggal coba lagi dengan formula lain. 

Sebuah catatan personal: penulis sedang mengoptimalisasi kencing kelinci yang konon katanya haibat bagi pertanian organik. Apakah benar? Tidak tahu. Mungkin tiga bulan lagi kacang brol panenan kami  di Jawa Timur bisa cerita. Kegelisahan ini yang membuat Saya pribadi sering mengganggu teman-teman beberapa simpul Maiyah nusantara untuk terus bertana, “Opo lik sing owah? Njur yen ngunu kepiye kuwi kang?” Apakah dapat jawaban memuaskan? Jujur, kadang tidak, tapi beberapa kali iya. Its worth to try.

Sudah sejak mbah-mbah katakan di Jawa, sejatinya musim memang selalu berubah di sini. Adanya semplah dan pengarep-arep di antara musim penghujan dan kemarau bahkan membekali filsafat dan perspektif kesiapsiagaan pada masa tanam dan kebijakan untuk mengatur lumbung serta panenan dalam masa krisis. Di NTT beberapa puluh tahun yang lalu, Antropolog Janet Hoskins sudah menyebut orang Sumba yang sebenarnya “hanya bermain dengan waktu” dan mereka meyakini perubahan dan perkiraan ke depan “dengan penuh kesadaran”.

Kalau memang bakal segera banget pol puncak krisis iklim akan terjadi menimpa bumi, mari tidak hanya menjadi saksi tapi pelaku yang menyambutnya dengan riang tapi tidak pongah. Dampaknya pasti tidak hanya pada sektor kelautan atau perikanan melalui kenaikan permukaan air laut. Itu hanya salah satu saja selain kelangkaan pangan, punahnya beberapa spesies, keterbatasan sumber air, berkurangnya produk pertanian, perkebunan atau kehutanan, dan banyak lagi. Tapi bukankah sejarah juga sudah pernah mencatat itu semua. Tidak ada hal yang benar-benar baru.

Sekecil apapun sumbangsih kita, ada di posisi apapun nanti, petani, nelayan, pekebun, peramu, mari yakinkan diri untuk menyongsong krisis iklim sebagai pelaku perubahan. Menurut Cak Nun manusia yang tidak pernah berubah pikirannya dan berkembang penafsirannya, tidak punya potensi untuk menjadi pelaku perubahan. Artinya juga berarti sebaliknya: jika manusia mengubah pemikiran dan penafsirannya, kita masih memiliki potensi untuk menjadi pelaku perubahan.

Lainnya