Kebon (148)

Sampai Aku dan Kita Semua Maiyah Binasa

Foto dan Ilustrasi oleh Adin (Dok. Progress).

Kalau Engkau meng-Islam dalam hidupmu, tetapi tidak menjadi, mendapatkan atau mencapai sebagaimana yang semua Engkau sangkakan, apa yang Kau lakukan?

Kalau Engkau beriman, tetapi tidak menemukan atau memperoleh apa-apa yang Kau pikir akan Kau peroleh, apa yang lantas Kau lakukan?

Kalau Engkau berihsan, berbuat baik tanpa henti, tetapi yang Kau alami dan yang menimpa hidupmu tidak sebagaimana yang sering Kau perhitungkan, terus apa yang Kau lakukan?

Kalau Engkau bertaqwa, bertawakkal, bersyukur, bersabar dan bershalat, tetapi Engkau tidak mendapatkan pengayoman, kelegaan, keteduhan atau keamanan sebagaimana yang Kau percayai sebagai hasil dari taqwa, tawakkal, syukur, sabar dan shalatmu, apa yang kemudian Kau lakukan?

Anak-anakku Jamaah Maiyah menjawab: Itulah sebabnya maka aku bertaqwa dan bertawakkal. Justru karena itulah maka aku bersabar dan setia shalat. Iman, islam dan ihsanlah jawaban dari semua itu.

Idola, marja’ dan panutan anak-anakku Jamaan Maiyah adalah manusia tertinggi IQ-nya. Paling cemerlang akalnya. Paling tajam kecerdasannya. Paling komplit daya intelektualnya. Namun juga terlembut hati dan tersuci rohaninya. Yang bernama Muhammad Saw. Yang Allah menciptakan dzat awal mulanya sebagai Nur Muhammad. Yang di sisi-Nya ia bukan hanya utusan, juru bicara atau sahabat karib, tetapi bahkan kekasih-Nya. Yang anak-anakku Jamaah Maiyah menyebutnya dengan Kanjeng Nabi. Kinasih Allah dan payung agung seluruh penghuni alam semesta itu berkata kepada Abu Thalib pamannya:

وَاللَّهِ يَا عَمِّ لَوْ وَضَعُوا الشَّمْسَ فِي يَمِينِي ، وَالْقَمَرَ فِي شِمَالِي
عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الأَمْرَ مَا تَرَكْتُهُ

Wahai Paman, Demi Allah, walau pun matahari mereka lletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini, pastilah tidak akan aku meninggalkannya.

Dunia dengan seluruh isinya tidak lebih berharga dibanding iman dan Islamku. Harta benda yang dihimpun dari seribu Qorun dari seantero bumi, tidak lebih mahal dibanding Islam dan ihsanku. Segala ilmu, reputasi, citra, sukses, polularitas dan pencapaian global apapun tidak bisa menandingi taqwa dan tawakkalku. Apalagi sekadar kekuasan dan jabatan, komisaris perusahaan, walikota, presiden, tidak sedetik pun pernah akan bisa menggeser kenikmatan sabar dan shalatku.

حَتَّى يُظْهِرَهُ اللَّهُ ، أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ

Demikianlah mateg aji kehidupan anak-anakku Maiyah, sampai Allah menterang-benderangkan kemenangan dalam perjuangan hidupku, atau sampai aku binasa.

رَجَعْتُمْ مِنَ اْلجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الجِهَادِ الأَكْبَرِ فَقِيْلَ وَمَا جِهَادُ الأَكْبَر
يَا رَسُوْلَ الله؟ فَقَالَ جِهَادُ النَّفْسِ

Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran besar. Lantas sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar itu wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “jihad memerangi hawa nafsu.”

Anak-anakku Jamaah Maiyah tidak pernah terlibat atau mengalami Perang Badar, meskipun salah shalawat utama mereka adalah Shalawat Badar. Atau sebaliknya, mereka memandang hidup mereka sejak dulu hingga kelak adalah perjuangan dengan kualitas Perang Badar. Jamaah Maiyah tidak pernah keluar dari pasukan atau lingkaran arena Perang Badar dalam bentuk atau formula kehidupan yang sekarang.

Maka Maiyah tidak pernah mengizinkan dirinya menjadi Organisasi Massa, gerakan-gerakan formal, apalagi Partai Politik. Kumpulan anak-anakku Jamaah Maiyah tidak terdaftar secara formal di birokrasi Kementerian Dalam Negeri. Bahkan saya sendiri tidak ada di dalam rombongan para Ulama, kaum intelektual atau kumpulan-kumpulan padat dan administratif apapun. Maiyah dan kita semua tidak dikenal secara kuantitatif maupun kualitatif oleh dunia maupun Indonesia. Maiyah bukan massa dan konstituen. Maiyah tidak “mèjèng” atau sesumbar. Maiyah tidak mengada-adakan dirinya di hadapan penglihatan dunia, Indonesia dan masyarakat.

Anak-anakku tidak akan “tap out” atau “give up” untuk terus-menerus lelaku “jihadun nafsi”. Tidak “kepencrut” oleh ambisi-ambisi dan viral. Tidak bisa diperdaya oleh kepalsuan-kepalsuan dunia meskipun wajahnya semakin canggih di era milenial. Anak-anakku Jamaah Maiyah tidak akan tertawan, terpesona, terjebak, tertipu atau terserat oleh semua gelombang itu. Sampai Allah menterang-benderangkan kemenangan dalam perjuangan nilai-nilai-Nya, atau sampai aku dan anak-anakku Maiyah binasa.

حَتَّى يُظْهِرَهُ اللَّهُ ، أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ
حَتَّى يُظْهِرَهُ اللَّهُ ، أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ
حَتَّى يُظْهِرَهُ اللَّهُ ، أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ

Sejak kecil anak-anakku Maiyah dididik oleh orangtuanya akrab dengan ungkapan “lillahi ta’ala”. Nanti orang-orang tua di kampungnya sering mengucapkan “sepi ing pamrih rame ing gawe”.

“Lillahi ta’ala” itu kunci utama di tangan manusia untuk menjalani hidup. Itu sumber segala kekuatan, keteguhan, ketenangan, kesejahteraan dan keselamatan. Kita semua mengenal hukum sebab-akibat yang merupakan qadar dasar kehidupan. Siapa menanam, mengetam. Menanam angin, menuai badai. Dan apapun proyeksi-proyeksinya dalam ragam kehidupan manusia. Tetapi hubungan sebab akibat itu tidak membuat anak-anakku Maiyah mengerjakan sebab supaya berakibat. Berbuat baik tidak dengan tujuan mencapai jasa, pahala dan pujian.

Berbuat baik itu semata-mata karena dan untuk Allah. Hidup adalah “meng-Allah”. Kemudian menjadi “mengalah”, dari “ngalah” berdasarkan filosofi dan budaya Jawa. Tetapi pemahaman dan pemaknaan terhadap kata “ngalah” masih berdimensi transaksional. “Ngalah” terkurung dalam dimensi kalah-menang. Ngalah itu bukan kalah.

Padahal tak ada hubungannya. Dalam hidup ini manusia harus tidak kalah atau harus menang. Tetapi bukan menang kekuatan dan kekuasaan atas orang lain. Bukan menang dalam jumlah harta benda, reputasi, kebanggaan atau popularitas. Menang itu melawan hal-hal di dalam diri kita sendiri yang harus kita kalahkan: ambisi negatif, nafsu improporsional, keserakahan, kerakusan, serta segala ketidaktepatan dengan standar “shirathal mustaqim”.

Bahwa kalau kita berbuat baik, hasil dan ganjarannya adalah urusan Allah, bagiannya Allah, tugasnya Allah, wilayahnya Allah. Posisi kita mengimani dan mentawakkali, tetapi bukan mempamrihinya secara transaksional. Maka kebudayaan manusia Jawa melahirkan “sepi ing pamrih, rame ing gawe”. Anak-anakku Maiyah tidak menyeru keuntungan atau apapun. Yang kalian seru adalah Allah. Karena memang demikian konsep kehidupan ciptaan Allah. Dan Allah maha bertanggung jawab. Jadi tawakkalkan saja semua pamrih itu di tangan Allah.

فَٱعۡمَلۡ إِنَّنَا عَٰمِلُونَ

Jamaah Maiyah terus berjalan dan bekerja keras dalam nikmatnya Ma’iyatullah yang sudah merasuki jiwa mereka. Karena Allah sendiri Maha Bekerja. Kau kerjakan kebaikan, Allah mengerjakan pahalanya. Kau tebarkan cinta dan kemuliaan, Allah menugasi dirinya untuk melimpahkan balasan-balasan kemuliaan. Aku bersangka baik kepada Allah bahwa anak-anakku Maiyahlah yang juga dimaksudkan juga oleh Allah dalam firman-Nya:

وَرَبَطۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ إِذۡ قَامُواْ فَقَالُواْ رَبُّنَا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ
لَن نَّدۡعُوَاْ مِن دُونِهِۦٓ إِلَٰهٗاۖ لَّقَدۡ قُلۡنَآ إِذٗا شَطَطًا

Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru selain kepada Dia. Sesungguhnya kami kalau demikian, maka kami telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.”

Lainnya